Wisnu, Antara Benci dan Rindu (Peluang Wisnu – 3)

Opini

Membaca berita yang mengabarkan bahwa cawali MA bersedia didampingi Dirut PDAM, Mujiman, ternyata membuat pagi ini semakin indah.

Pasangan calon Machfud Arifin – Mujiman.. Luar biasa! Mereka berdua bukan berasal dari internal partai politik tetapi diusung oleh koalisi partai.

Ada apa ini? Apakah karena :

  • Kegagalan partai dalam kaderisasi atau menghasilkan calon pemimpin yang mumpuni?
  • Partai politik telah kehabisan dana sehingga mengusung kalangan eksternal sebagai calon?
  • Ingin mengakhiri dominasi PDI Perjuangan yang berhasrat kuat mencetak quattrick di Surabaya?

Bukan pertanyaan yang mudah dijawab tetapi itulah kenyataan yang ada di kota bersimbol “sura dan boyo.”

Kecewa menjadi sesuatu yang pasti diterima oleh partai pengusung lainnya. Misal Mujiaman adalah independen yang diusung PKB, sudah pasti Gokar menjadi kecewa. Tentu PSI juga adem lha wong mau siapa saja yang jadi wakil MA pun tidak bawa pengaruh penting bagi partai ini. Mengapa? Karena mungkin malu jika merapat ke PDI Perjuangan. Mungkin juga malu jika diam saja. Yang penting jalani dan bahagia hahahaha.. Namun apapun alasan mereka, itu adalah pendapat yang wajib dihormati.

Lantas bagaimana deal politik di antara partai koalisi? Lucu. Sepakat mengusung satu nama namun berbeda untuk kursi calon wakil. Ini yang disebut “Wisnu, antara benci dan rindu.”

Koalisi partai merindukan kemenangan telak atas PDI Perjuangan tetapi mereka akan saling benci (sebenarnya bukan benci tapi KECEWA..cuma kata BENCI jadi pilihan agar dramatis saja).

Untuk menghentikan dominasi parta berlogo kepala banteng, dan mungkin nama Wisnu akan muncul dalam rekomendasi DPP, maka sikap[ benci dan rindu pun bakal menggaung di tengah-tengah koalisi partai. Mereka akan kalang kabut jika nama pendamping Wisnu adalah Gus Ipul. Sebagai orang yang pernah menjadi wakil gubernur selama dua periode, Gus Ipul tentu bukan pendekar yang dapat diabaikan. Atau kemunculan nama Puti Soekarno yang pernah maju dalam pilgub sebelumnya. Atau mungkin Indah Kurnia. Atau mungkin Armuji atau nama-nama kader partai yang dinilai mumpuni karena sebetulnya banyak. Tetapi jika menganggap belum ada kader partai yang sekelas walikota sekarang, maka itu pendapat ajaib. Bagaimana membandingkan prestasi walikota dengan orang yang belum pernah menjadi walikota?

Bagaimana mungkin membandingkan prestasi atlet lari dengan perenang? Bagaimana mungkin membandingkan seekor katak dengan kadal? Itu semua sudah beda area dan kriteria penilaian. Catat itu dan silahkan dijadikan pegangan saat berdebat dengan orang yang asal bunyi walau bergelar pengamat politik nasional.

Ada pula alasan untuk menempatkan Wisnu sebagai orang yang dirindukan.

Hanya dalam episode kali ini, sosok Wisnu memang tepat dihadirkan untuk penggambaran suasana panas pilkada Surabaya sebagai tokoh yang dapat mempresentasikan sesuatu untuk dibenci. Itu dapat didengarkan melalui suara angin yang mengalir lewat jendela, “bumi hanguskan PDIP”. Lalu ada alasan. Salah satunya adalah ungkapan “seperti bapak, itulah anak/ like father, like son.”

Tidak membicarakan keburukan orang yang tiada (wafat) adalah ukuran moral penulis. Saya tidak bertanya keburukan almarhum Sucipto/ejaan baru (ayah Wisnu Sakti Buana). Kita bicarakan Sucipto sebagai inventor. Soetjipto Soedjono adalah peraih penghargaan Upakarti dengan kategori Rintisan Teknologi sebagai Pondasi Ramah Gempa. Pencetus teknologi pondasi sarang laba-laba. Karya beliau banyak diterapkan di bandara.

Setelah tahu karya Pak Tjip, mari kita gaungkan “like father, like son.”

Pendek kata, apabila orang banyak berkata buruk tentang Wisnu dengan dalil “like father, like son”, itu seperti menghadiahkan  Upakarti untuk Wisnu dan pengakuan dini bahwa Wisnu adalah seorang inventor. Inventor ya bukan INVESTOR.

Membenci Wisnu karena “like father, like son” itu sama dengan merindukan Wisnu sebagai figur inventor.

 

Paham po ra son?

(bersambung)

Related posts

Leave a Comment