Temuan di Alas Sumur Mulai Diproses Geolistrik

Bondowoso

Beberapa waktu lalu, ditemukan batu bata yang menunjukkan dugaan adanya situs di Desa Alas Sumur, Pujer. Sebagai tindak lanjut, saat ini pemerintah mengundang Tim Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk melakukan geolistrik. Yakni penelitian tentang besaran bangunan. Proses ini adalah pendahuluan untuk langkah ekskavasi.

Herry Kusdarianto, Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bondowoso mengatakan, langkah pertama sebagai tindak lanjut adalah geolistrik. Geolistrik sendiri dilakukan guna mengetahui sebaran dan luasan struktur batu bata kuno yang ditemukan pada bulan September lalu. “Untuk menentukan apa bisa dikembangkan atau tidak nantinya,” beber Herry.

Proses geolistrik dilakukan oleh Tim Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Atas saran dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Jawa Timur. Diketahui bahwa geolistrik dilakukan di enam titik yang berbeda. Sekaligus masuk sumur untuk melihat stratigrafi dan struktur tanah.

Namun, selama proses itu terkendala oleh cuaca. Hujan yang mengguyur kawasan itu tiap siang dan sorenya menjadi kendala tersendiri. “Kalau hujan akan mengacaukan perhitungan listriknya. Mulai awal kami hanya bisa start dari pagi sampai pukul satu dan habis itu hujan,” jelas Herry.

Kini tim geofisika ITS telah kembali ke Surabaya untuk mengolah data tersebut. Selanjutnya, sekitar seminggu ke depan akan dipaparkan di forum group discussion (FGD). Dia memastikan, manakala hasil geolistrik nantinya perlu ekskavasi, pihaknya bersama BPCB akan melakukan ekskavasi.

Terpisah, wakil Ketua DPRD Bondowoso Sinung Sudrajad mengaku pihaknya cukup berharap banyak mengenai penemuan situs era Majapahit tersebut. Sinung berharap ada karakter dan bentuk dalam penemuan sepenggal bangunan itu. Harapannya adalah bangunan peninggalan era Majapahit. “Harapan kami, situs itu benar-benar layak untuk diekskavasi dan dikembangkan,” tutur Sinung.

Setelah ada hasil geolistrik dan dinyatakan benar-benar ada bangunan besar yang terpendam, tahapan berikutnya adalah perencanaan ekskavasi. Tentunya harus ada kajian terlebih dahulu. Apa manfaat bagi warga sekitar dan Kabupaten Bondowoso. “Kalau memang itu layak untuk dilakukan ekskavasi, maka harus didasari kajian dan perencanaan yang intinya tidak merugikan masyarakat setempat,” ujar Sinung.

Sebab, jika titik itu diekskavasi, maka ada sekitar 97 kepala keluarga dan 62 rumah penduduk yang harus dipindahkan. “Tentu nanti akan kami rapatkan dan kaji bersama,” imbuh dia.

Sebagai informasi, bulan September lalu seorang warga Desa Alas Sumur, Abdul Ghani, menemukan batu bata dan mangkok peninggalan sejarah. Setelah dilakukan penelitian BPCB Trowulan, ada dugaan unsur bebatuan itu merupakan bangunan. Perkiraan era Majapahit. Arkeolog dari BPCB Trowulan yang turun adalah Wicaksono Dwi Nugroho. Dia melihat, dari ciri fisik batu bata, menunjukkan itu berasal dari masa Majapahit. (Bondowoso)

Related posts

Leave a Comment