Sekilas Nasionalisme dari Soekarno

Opini

Pada saat usia menginjak kepala tiga, ia menulis “Demokrasi-Politik dan Demokrasi Ekonomi” dan terbit tahun 1932. Bung Karno, sebutan akrab dari Proklamator Republik Indonesia, menggagas nasionalisme Indonesia sebagai sosio-nasionalisme. 

“Nasionalisme kita haruslah nasionalisme yang tidak mencari gebyarnya atau kilaunya negeri keluar saja, tetapi haruslah mencari selamatnya manusia.. Nasionalisme kita haruslah lahir daripada ‘menselijkheid’.  Nasionalismeku adalah nasionalisme kemanusiaan, begitulah Gandhi berkata,” tulis Bung Karno. 

“Nasionalisme kita, oleh karenanya, haruslah nasionalisme yang dengan perkataan baru yang kami sebut: sosio-nasionalisme. Dan demokrasi yang harus kita cita-citakan haruslah demokrasi yang kami sebutkan: sosio-demokrasi.” Sebuah kesimpulan padat dari Bung Karno. 

Gagasan besar yang bertolak belakang dengan ide nasionalis yang datang dari Eropa. Ekspansi bangsa-bangsa Eropa di masa lalu cukup jelas memberi bukti melalui penyatuan bangsa lain di bawah satu perintah (imperialisme).

Semangat sosio nasionalisme yang dicetuskan Bung Karno semakin kuat saat berbicara di depan MPRS 1966.

“Berdikari bukan saja tujuan, tetapi yang tidak kurang pentingnya harus merupakan prinsip dari cara kita mencapai tujuan itu, prinsip untuk melaksanakan pembangunan dengan tidak menyandarkan diri kepada bantuan negara atau bangsa lain. Adalah jelas, bahwa tidak menyandarkan diri tidak berarti bahwa kita tidak mau kerja sama berdasarkan sama derajat dan saling menguntungkan.” demikian penjelasan Bung Karno dalam pidato itu.

Bung Karno tidak menolak bantuan maupun kerja sama. Beliau menolak ketergantungan. Maka dari itu dapat ditarik kesimpulan bahwa ketergantungan adalah pertanda ambruknya jembatan emas yang bernama kemerdekaan.

Related posts

Leave a Comment