Sedikit Mengenal Cawali Surabaya : Machfud Arifin

Opini

Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Machfud Arifin, S.H. (lahir di Ketintang, Gayungan, Surabaya, Jawa Timur, 6 September 1960; umur 59 tahun) adalah seorang Purnawirawan perwira tinggi Polri yang sebelumnya menjabat Analis Kebijakan Utama bidang Sabhara Baharkam Polri.

Machfud, lulusan Akpol 1986 ini berpengalaman dalam bidang reserse. Jabatan terakhir jenderal bintang dua ini adalah Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur.

Keterangan di atas dikutip dari laman Wikipedia.

Machfud Arifin (MA) adalah arek Suroboyo. Dia lebih banyak dikenal untuk saat ini oleh banyak kalangan pemilih di Surabaya. Bahkan tidak sedikit yang berani berucap, “Andai Pilkada Surabaya dilaksanakan hari ini, MA dapat dipastikan menjadi pemenang.”

Wow, ucapan itu tidak sepenuhnya salah karena PDI Perjuangan pun belum mengumumkan paslon untuk Pilkada Surabaya. Namun banyak orang yang mengira kemenangan MA hanya disebabkan oleh figur MA sendiri yang populis dan humanis. Dia berada di banyak tempat, terlebih ketika pandemi seperti sekarang ini, banyak media yang menjadikan figur ini sebagai salah satu tokoh yang layak ditayangkan tiap hari. Dan itu bagus untuk kampanye. Artinya semakin sering diberitakan, semakin banyak orang yang mengenal.

Baiklah, kita kupas singkat.
Sebagai purnawirawan berbintang dua, MA tentu bukan orang sembarangan. Minimal jaringan kepolisian, baik keluarga polisi maupun ikatan purnawirawan, dapat dijadikan lumbung suara. Mungkin itu keniscayaan, bahwa jika A maka A plus. Alamiah apabila seorang alumni mendapatkan dukungan dari ikatan alumninya atau organisasi sejenis. Ini keuntungan lebih dari MA yang tidak dimiliki oleh calon dari PDI Perjuangan.

Terkait kedekatan MA dengan kepolisian ini, maka tidak heran bila muncul kekhawatiran mengenai netralitas polisi dalam mengawal kotak suara. Polisi akan banyak terlibat dari hulu sampai hilir untuk menjaga kotak suara. Dari pengiriman sampai penghitungan akhir. Semoga pak polisi benar-benar netral.

Berikut alur perjalanan kotak suara dari KPU hingga TPS sebelum kembali ke kantor KPU (ilustrasi PIlpres 2019).

sumber gambar 

Pendekatan kultural agamis seperti safari ke sejumlah pondok pesantren pun tentu telah menjadi jalur yang wajib dilalui oleh semua petarung Pilkada, tidak hanya Surabaya namun juga di daerah-daerah lain. Suara pemangku pondok adalah intruksi yang mungkin 100% dipatuhi oleh warga pondok dan lingkungan sekitarnya.

Salah satu rencana MA di masa mendatang apabila ia menjadi orang nomor satu di Surabaya adalah “Saya kira untuk menjawab itu hanya membutuhkan dana sekitar Rp 500 miliar dari total anggaran pembangunan kota yang mencapai Rp 10,3 triliun. Saya kira itu bisa dan itu sudah kita perhitungkan,” tambah pria yang juga pernah menjadi Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jatim, untuk pemenangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin itu. (Sumber)

Itu bukan perkara mudah untuk diwujudkan. Membangun fasilitas umum pun terkait dengan lahan. Artinya jika membangun balai RW atau RT, menyediakan ruang bagi PAUD atau taman bermain di pojok-pojok kampung adalah langkah produktif bagi sebagian orang, jika tujuannya adalah kampanye. Kampanye adalah sarana efektif untuk mengenalkan diri dan program. Sedangkan program sendiri adalah bagian dari janji. Apakah dia akan menepati itu? Hanya satu keadaan, sabar sampai penghitungan selesai.

Perhelatan pilkada Surabaya 2020 bukan sebatas pada prestasi walikota yang sekarang walau banyak orang mengatakan sulit untuk mencari figur yang sebanding tapi itu adalah logika konyol. Alasannya sudah jelas : Bagaimana mungkin membandingkan prestasi seorang walikota dengan orang yang belum pernah menjadi walikota?

Apakah prestasi MA memang setara dengan prestasi Tri Rismaharini? Jika jawabannya adalah MA telah membentuk Satgas Anti Mafia Tanah tahun 2017, itu bukan jawaban yang jeruk to jeruk. Tugas kepolisian, atas nama kambtibmas ya salah satunya adalah menumbangkan praktek mafia, baik tanah maupun cukai rokok. Ngono loh cak..

Rasanya pengen ngakak saat baca komentar pengamat mengenai masalah perbandingan ini.

Sekian dan gunakan hak pilih dengan cerdas dan bermartabat.

 

Related posts

Leave a Comment