Panembahan Tanpa Bayangan

Darah Ki Wijil seakan terhenti, detak jantungnya seperti melambat. Tata gerak Sayoga benar-benar berubah sama sekali. Ia tidak ada lagi bergeser secepat seperti ketika berusaha mengimbangi kecepatan Ki Jagabaya.

Nyi Wijil yang berdiri di belakangnya mendesis, “Ia masih mengingat apa yang diajarkan ayahnya saat ia masih sangat muda? Aku tidak pernah melihatnya melatih ilmu itu.”

Ki Jagabaya yang berdiri tegak sedikit jauh dari Sayoga kembali meluncur cepat. Kibasan lengannya yang berputar-putar seperti kitiran menghantam bagian tubuh Sayoga yang tidak terlindungi. Dengan kening mengerut ia kembali meloncat surut. ” Apa yang sedang dilakukan anak ini?” dalam hati ia bertanya sambil memandangi Sayoga yang bersiap menerima serangannya lagi.

Melihat perubahan yang dilakukan Sayoga mulai dapat mempengaruhi keseimbangan pertarungan, Ki Wijil memutar badan lalu berucap, “Para pengawal kademangan, sebenarnya aku tak ingin mendahului Ki Jagabaya. Tetapi, aku dan keluargaku akan mengikuti kalian, untuk itu adalah baik jika kita semua menyarungkan senjata.”

“Bagaimana denganmu, Ki Jagabaya?” Ki Wijil lurus menatap Ki Jagabaya dengan pandangan menghunjam jantung.

“Aku tidak mengerti maksudmu, Ki Sanak.” Sementara ia mengurai lengannya, tatap matanya masih penuh pertanyaan dengan pengetrapan ilmu Sayoga. Ia meyakinkan dirinya bahwa lawannya yang muda usia itu menyimpan satu ilmu yang sudah jarang dikuasai orang-orang di dunia olah kanuragan.

“Ki Jagabaya, aku dan istriku merasa terancam dengan senjata para pengawal kademangan yang terhunus. Sementara Sayoga masih belum mampu mengalahkanmu. Oleh karenanya, aku memintamu memerintahkan mereka menyarungkan senjata. Lalu kami akan mengikuti kalian ke pedukuhan. Namun sebelumnya, aku persilahkan Ki Jagabaya memberi pelajaran unggah ungguh pada anakku.”

Panas hati Ki Jagabaya mendengar kata-kata terakhir Ki Wijil. Hanya pengamatan ke dalam dirinya saja yang akhirnya mampu mengendalikan keadaan. “Bagaimanapun juga aku ingin mengetahui kedalaman ilmu langka yang dikuasai anak itu.” Ki Jagabaya lantas menyusun tata gerak dari permulaan. Tanpa menghiraukan kata-kata Ki Wijil, lengannya kembali bergulung-gulung cepat tatkala tubuhnya melompat panjang.

Sayoga yang tidak lengah agaknya telah menguasai dirinya. Sepenggal waktu yang diselipkan ayahnya saat berbicara telah memberinya ruang yang cukup. Pernafasan dan kembali melihat ke dalam suara hatinya membawa Sayoga kembali tenang. Ia memapas setiap tamparan dan tinju Ki Jagabaya. Meski demikian, ia bergerak lebih lambat dari awal pertarungan sehingga banyak bagian tubuhnya yang tersentuh tangan Ki Jagabaya.

“Apakah aku berhasil mengenali watak ilmu ini?” tanya Sayoga dalam hati sambil merunduk menghindari punggung tangan Ki Jagabaya. Rasa sakit pada bagian tubuhnya seketika memudar. Ilmu Serat Waja yang diterapkan Sayoga bukan ilmu kebal, tetapi ilmu ini dapat secara terus menerus menghilangkan rasa sakit di dalam tubuhnya. Setiap rasa sakit yang diterimanya seketika musnah ketika tangan Ki Jagabaya berlalu dari kulitnya.

“Anak ini benar-benar gila !” seru Ki Jagabaya dalam hatinya dengan geram. Ia meloncat surut ketika keyakinan terhadap ilmu Sayoga telah memenuhi nalarnya. Ia mengatur kembali gerak dasar arus serangan. Sepotong ingatan datang memenuhi benaknya., dalam waktu itu ia mendesis, ”Agaknya memang benar orang itu adalah Ki Wijil.”

Satu lompatan panjang Sayoga telah menjadikan jarak semakin dekat. Ki Jagayaba yang belum sepenuhnya bersiap kini setapak surut. Namun Sayoga tidak membiarkannya menjauh. Ia berusaha menjangkau pangkal bahu bagian bawah Ki Jagabaya. Ki Jagabaya segera mengerti Sayoga telah mengetahui titik lemah serangannya, maka ia memindahkan arus serangan ke setiap persendian tangan Sayoga. Kini keduanya saling membelit, mematuk bahkan tak jarang keduanya memutar tubuh sambil melompat. Berulang kali mereka hampir bersamaan melepaskan tendangan memutar lalu benturan pun terjadi pada kaki-kaki mereka.

Orang-orang sekeliling mereka terpukau takjub. Bahkan Ki Wijil dan istrinya saling bertukar pandang keheranan melihat kemajuan Sayoga.

“Bagaimana anak ini meningkat demikian pesat?” kerut kening Ki Wijil semakin dekat bertaut.

“Kakang,” bisik Nyi Wijil sambil memegang erat lengan suaminya. Ia begitu cemas melihat Sayoga berulang kali menerima pukulan Ki Jagabaya. Meski begitu ia juga merasa bangga dengan kemajuan Sayoga.

“Apakah kau akan menyaksikan anakmu lebih menderita?”

Related posts

Leave a Comment