Prosa Liris

Aku berselisih dengannya. Kami adalah dua muka yang bertolak belakang. Ia berjalan ke barat, aku ke timur. Manakala ia menuju utara, aku mengikutinya lalu memukul tulang punggungnya. Aku lakukan itu karena ia bukan bayanganku. Aku pun bukan bagian dirinya.Kadang kala sewaktu aku pergi ke selatan, ia menjulurkan ujung belati. Menembus tulang dadaku.

Dan ia bukan Buta Cakil dengan suara lembut. Tidak selalu Buta Cakil berkata kotor, rusuh dan bernapas bau. Meski orang berbincang tentang binatang aduan, Buta Cakil bergeming. Ia masih berpikir bahwa pemujaan selalu berhadap punggung dengan pengkhianatan. Ia masih teguh memandang ketuhanan tidak akan luntur dengan ucap kesombongan.

Ia melihat itu dengan mata yang enggan terbuka. Aku marah dan memakinya.

Ia tersenyum. “Sebangsat hewan tiada pernah mengucap itu pada induknya.”

Ia adalah inang lalu aku bersuara. “Bangsat!”

Dikutip dan digubah dari karya sendiri. https://ati.tansaheling.com/satu-kata-saja/

Related posts

Leave a Comment