Revolusi Agustus versus Sinetron Koalisi (Peluang Whisnu – 2)

Opini

Pemberitaan mengenai calon walikota dari koalisi partai benar-benar marak. Nyaris mirip dengan promosi sebuah sinetron yang akan ditayangkan oleh banyak media visual. Bukan hanya televisi, tetapi media visual. Karena telepon genggam pun dapat menjadi jalan untuk melihat secara langsung atau streaming.

Revolusi Agustus, sepertinya kalimat ini sangar ya kalau dilekatkan pada kader-kader banteng yang masih tunduk pada intruksi DPP untuk diam. Mereka diam karena tahu bahwa “jomblo”-nya calon wakil walikota dari kubu lawan pun ditentukan oleh rekomendasi DPP PDI Perjuangan.

Dikatakan sebagai “revolusi” ya mungkin juga benar karena ada energi luar biasa yang terpendam dalam diam. Begitu pemicu atau rekomendasi diumumkan, bisa jadi dan nyaris pasti, bendera banteng akan berkibar lebih cepat dari lesatan angin. Ini patut ditunggu! Bisa juga akan menjadi supersub yang menentukan gol kemenangan tim. Ole Gunnar Solksjaer adalah salah satu pemain langka dalam hal pergantian pemain. Turun di menit akhir lalu goooooooool….!

Revolusi adalah perubahan yang sangat cepat. Terjadi karena ada perencanaan, tapi juga dapat terjadi tanpa perencanaan. Terukur atau spontanitas. Biasanya revolusi dikaitkan dengan kekerasan, tetapi kita menolak kekerasan. Kekerasan bukan jalan yang patut dan tak elok ditempuh dalam politik. Revolusi dapat dilakukan dengan senyap dan hening. Contoh : pemaksaan pemuda pada Bung Karno untuk membaca teks Proklamasi. Tidak ada kekerasan fisik pada waktu itu. Dan banteng akan keras menjalankan instruksi ketua umum mereka. Keras di sini artinya : kader PDI Perjuangan akan bekerja keras, berpikir keras dan menghentak semangat untuk memenangkan pilkada Surabaya secara quattrick. Mereka akan berjuang mencatat rekor : empat kali menang berturut-turut di Surabaya.

Pilkada tentu bukan permainan sepak bola, tetapi satu hal yang pasti adalah koalisi partai akan menentukan calon pendamping MA di menit-menit akhir. Mungkin sekarang mereka masih tawar menawar. Mungkin juga masih saling sodorkan nama. Mungkin juga sekarang mereka sudah mengalami keretakan apabila daging sapi dirasakan masih kurang. Secara dana, limpahan modal kampanye pun mempunyai batasan. Pengusaha pun mulai berkalkulasi untung rugi jika pendamping MA ternyata bukan orang yang diharapkan oleh kalangan usahawan. Ini menarik!

Dan untuk itulah gebyar koalisi malah mirip sinetron akhirnya. Apakah PSI mau menerima Adies Kadir sebagai calon pendamping MA? PSI dukung pun tidak mempunyai pengaruh penting untuk soliditas koalisi. Keluar dari koalisi juga tidak membawa dampak besar. Kita bicara mengenai partai lain yang lebih besar? Siapa pun dan apa pun partainya, kursi pendamping MA menentukan kelanggengan koalisi. PKS dan PKB tentu akan seru tarik ulur, mengingat keduanya berbasis religi. Kumpulan pengajian akan menjadi medan tempur mereka. Di situ pula mereka akan berebut pengaruh. Itu sebagian dramanya.

 

Related posts

Leave a Comment