Perempuan Cina dalam Pandangan Diponegoro (2)

Sejarah
Menurut Carey, pada dasarnya Diponegoro tidak pernah menentang keberadaan orang-orang Tionghoa dalam pasukanya. Ia tidak punya kebencian pribadi terhadap bangsa lain selain Belanda yang selalu ia sebut dengan julukan bangsa kafir. Barangkali Diponegoro teringat pada salah satu panglima terdekatnya, Pangeran Ngabehi, yang lahir dari perkawinan kakeknya, Hamengkubuwono II, dengan perempuan peranakan Tionghoa.

Sikap Diponegoro berubah telak setelah tahun 1826. Ia mulai melarang para komandannya menjalin hubungan dekat dengan orang-orang Tionghoa. Di tahun-tahun selanjutnya, Diponegoro malah bertindak lebih jauh dengan memerintahkan panglima terdekat sekaligus iparnya, Raden Ario Sosrodilogo, agar tidak berhubungan kelamin dengan perempuan peranakan Tionghoa, apalagi mengangkat mereka menjadi selir.

Dalam versi terjemahan Babad Dipanegara (2016: 428), sang pangeran sempat mengakui bahwa ia pernah juga takluk kepada seorang perempuan Tionghoa. Perempuan yang ditangkap di daerah Pajang itu diserahkan ke hadapan Diponegoro sebagai tukang pijat. Carey mencatat peristiwa ini terjadi dua hari sebelum kekalahan Diponegoro yang memalukan dalam Pertempuran di Gawok pada 15 Oktober 1926.

“Di Kedaren kalau malam yang disuruh memijat adalah nyonya Cina. Kanjeng Sultan [gelar resmi Diponegoro] salah sangka karena pikirannya hanya tertuju pada Kanjeng Ratu [sang istri] sebagai penghibur hati yang kasmaran,” aku Diponegoro dalam babad.

Menurut analisis Peter Carey terhadap babad, secara tersirat Diponegoro sudah mengakui bahwa kekalahan dalam pertempuran disebabkan perselingkuhannya dengan nyonya Cina. Ia juga disebut sempat merenungkan dampak dari hawa nafsu yang melemahkan kekuatan batin dan kekebalan dirinya, seperti yang ditulisnya sendiri dalam kelanjutan cerita babad.

“Setelah Sang Raja tahu pakaiannya merah [karena darah], ia ingat dengan permaisurinya, maksud pikiran dan tindakannya. Kalau aku mati dalam keadaan nista, kalau aku mati dahulu seperti belum diizinkan Allah.”

Sejak saat itu Diponegoro percaya hubungan seksual antara orang Jawa dengan perempuan Tionghoa bisa mendatangkan bala. Ia kembali mengungkit masalah ini tatkala pasukan yang dipimpin Raden Sosrodilogo mengalami kekalahan dalam Pertempuran Rembang dan Jipang-Rajegwesi. Diponegoro menuduh kekalahan Sosrodilogo diakibatkan karena ia telah memerkosa seorang perempuan Tionghoa dari Lasem menyusul jatuhnya kota pantai di timur Rembang itu pada 31 Desember 1827.

“[…] Raden Sasradilaga menjadi lupa keinginannya untuk naik haji, lalu selingkuh dengan nyonya Cina. Ini yang menjadi jalan sial perangnya […],” tulis Diponegoro (hlm. 490).

Dalam Mythology and the Tolerance of the Javanese (2009: 13), indonesianis Benedict Anderson menjelaskan sejak raja-raja Jawa masih berkuasa, para bangsawan sudah punya anggapan bahwa perkawinan antara orang Jawa dan perempuan Tionghoa, terutama pada strata sosial yang lebih tinggi, akan berakhir dengan kemalangan.

Menurut kepercayaan tersebut, ungkap Anderson, anak-anak yang lahir dari pernikahan campuran akan lebih terlihat seperti orang Tionghoa ketimbang orang Jawa. Ungkapan lama yang berbunyi “abu orang Cina jauh lebih tua” dipercayai sebagai suatu kebenaran, termasuk oleh Diponegoro. Perasaan takut kehilangan “ke-Jawa-an” itulah yang menjadi dasar kegelisahan hubungan seksual antar-ras di kalangan orang Jawa. (tamat)

Related posts

1 comment

Jerry 11/11/2020 at 11:05

Aq moco tok .. Ga coment

Reply

Leave a Comment