Pemberontakan Senyap

“Kau sebut nama Ki Cendhala Geni, bukankah ia orang yang masih dalam pencarian Ki Rangga Ken Banawa? Dan sepertinya ia menempati kedudukan tinggi di kota ini. Maaf, Ki Lurah. Saya berkata seperti itu kare-na mendengar yang Anda ucapkan. Menemui Ki Cendhala Geni.”
“Tentu saja kau tidak mengerti,” kata orang gemuk itu lalu berjalan mendekati Laksa Jaya, ”telah terjadi perubahan dalam pemerintahan Kahuripan. Ki Cendhala Geni kini adalah seorang patih yang berdampingan dengan Ki Srengganan.”
“Kapan itu terjadi? Aku tidak melihat bekas peperangan di dalam kota,” Laksa Jaya mengerutkan kening.
“Tidak ada peperangan yang terjadi. Semua terjadi dalam waktu yang sangat singkat,” lelaki gemuk itu menarik napas panjang. Lantas ia melanjutkan, ”Sementara Bhre Kahuripan menuju kotaraja, Ki Srengganan dan Ki Cendhala Geni segera mengambil alih kedudukan.”
“Dan kalian tidak melawan?”
“Untuk apa aku melawan mereka berdua? Apalagi kini aku adalah seorang lurah prajurit. Aku naik selapis setelah belasan tahun menjadi prajurit rendahan sepertimu!” kata lelaki gemuk itu dengan membusungkan dada. Ia meneruskan, ”Sudah sepantasnya orang itu diganti dengan mereka yang berwawasan luas. Bhre Kahuripan sama sekali tidak berbuat apapun untuk kota ini.” Lelaki gemuk itu mencibir pemimpin sebelumnya. Lalu ia mengajak Laksa Jaya untuk segera menemui Ki Cendhala Geni.
Laksa Jaya cepat menguasai diri saat berhadapan dengan kenyataan yang tidak ia perkirakan sebelumnya. “Perubahan ini akan menjadi ke-baikan bagiku dan Patraman.” Ia tersenyum sendiri dan mempercepat langkahnya mengikuti lelaki gemuk yang berada di depannya.

Setelah melewati beberapa penjagaan dan menjawab satu dua pertan-yaan, Laksa Jaya berdiri tegak berhadapan dengan seorang lelaki yang masih terlihat segar meski usianya lebih dari setengah abad.
“Ki Cendhala Geni, kiranya sangat tersanjung dapat bertemu dengan Anda,” Laksa Jaya membungkukkan tubuh dengan tangan tertangkup ke arah Ki Cendhala Geni.
“Siapakah engkau Ki Sanak? Seorang Majapahit datang kemari tentu ia telah memiliki puluhan nyawa. Dan pastinya engkau adalah orang hebat sehingga mampu menemukanku,” Ki Cendhala Geni seolah memuji Laksa Jaya. Dalam hatinya, ia menduga bahwa orang yang berada di depannya ini tak ubahnya seorang pecundang sebagaimana pejabat lainnya di Kahuripan.
“Ki, bukanlah karena kehebatanku tetapi nama Ki Cendhala Geni mampu menembus sekat-sekat yang ada,” Laksa Jaya berkata sambil tersenyum.
“Baiklah. Apa keperluanmu ke mari? Aku seorang patih di kota ini!”
“Saya kemari untuk membantumu menuntaskan perhitungan dengan Ken Banawa.”
“Jangan menjadi gila dengan ucapan semacam itu! Kau seorang lurah prajurit yang tidak mengerti tata keprajuritan. Sekali lagi aku katakan pa-damu, aku seorang patih di kota ini dan nyawamu saat ini ada berada di ujung jariku,” Ki Cendhala Geni membentak. Ia merasa diremehkan oleh Laksa Jaya ketika kawan Patraman ini menyebut nama Ken Banawa.
“Tidak, Tuan Patih,” sesal Laksa Jaya yang segera menyadari kesalahannya. Lalu, ”Ini sama sekali bukan kegilaan. Saya datang kemari dengan kerja sama yang saling menguntungkan. Saya akan membawa Kademangan Wringin Anom untuk tunduk padamu.”
“Kau benar-benar tidak tahu diri!” kata Ki Cendhala Geni lalu tawanya berderai. Kemudian, ”Engkau bukanlah seseorang yang mempunyai arti di wilayah itu. Kemudian kau datang dan bicara padaku seolah Wringin Anom adalah tanah yang mudah untuk ditundukkan.” Sorot pandang Ki Cendhala Geni tepat menusuk jantung Laksa Jaya. Ki Cendhala Geni telah menerima berita yang tidak lagi seperti angin semilir yang membawa aroma tidak nyaman. Ia telah bertemu dengan pengikut Pang Randu. Ki Sura Tenggulun.
Ia melanjutkan, “Tetapi aku akan menghargai niat yang mungkin kau anggap baik bagiku. Meskipun aku mengenal kademangan itu sangat baik tetapi baiklah, jelaskan!”
“Saya membawa sebuah rencana besar dengan pengorbanan yang sedikit. Satu hasil yang lebih besar akan berada di tangan Tuan.” Laksa Jaya berhenti mengatur napas. Lanjutnya kemudian, “Ki Demang Wringin Anom mempunyai seorang anak gadis yang bernama Arum Sari. Perempuan inI akan menjadi jalan bagi Kahuripan untuk menempatkan diri secara baik.”

Related posts

Leave a Comment