Nagasasra dan Sabuk Inten

“Arya, terhadap orang-orang yang sama sekali belum kau kenal, jangan berbuat sebelum kau ketahui beberapa hal lebih dahulu. Juga terhadap orang-orang berkuda itu. Kita berjalan biasa saja dan jangan menimbulkan kesan yang menarik perhatian mereka, supaya mereka tidak bercuriga,” kata Mahesa Jenar memperingatkan Arya.

Arya memalingkan kepalanya. Sambil tersenyum ia menjawab,

“Aku sudah berjanji Paman, untuk tidak melanggar nasehat-nasehat Paman.”

Orang-orang berkuda itu sudah demikian dekat, dan sebentar kemudian mereka telah bersilang jalan. Ternyata mereka terdiri sekitar 10 orang dan bersenjata lengkap. Mereka pada umumnya bertubuh tegap dan gagah. Wajah-wajah mereka tampak keras dan mengandung sifat-sifat yang kurang menyenangkan. Ketika mereka berpapasan, 10 pasang mata itu bersama-sama mengawasi Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Untunglah Arya Salaka tidak berbuat sesuatu yang menarik perhatian sehingga mereka biarkan saja anak itu lewat bersama seseorang yang mungkin dianggap bapaknya.

Tetapi dalam waktu yang sekejap itu banyak artinya bagi Mahesa Jenar. Orang-orang itu pastilah mempunyai maksud yang tidak baik. Kedatangan mereka di daerah Perdikan Banyubiru dengan senjata lengkap, pasti mempunyai hubungan dengan keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Sebab bagaimanapun hal itu disekapnya sebagai suatu rahasia, namun tidaklah mustahil bahwa Sima Rodra sendirilah yang dengan sengaja meniup-niupkan berita bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten berada di Banyubiru. Hal ini harus segera diketahui oleh Ki Ageng Gajah Sora.

“Paman…, kemana kita sekarang?” Tiba-tiba suara Arya mengejutkan Mahesa Jenar yang sedang sibuk berpikir.

Mahesa Jenar segera menoleh ke belakang. Orang-orang berkuda itu telah agak jauh di belakang mereka.

“Ke manakah jalan ini Arya?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku belum pernah berjalan jauh lewat jalan ini, Paman,” jawab Arya.

“Tetapi kata ayah, jalan ini menuju ke Pajaten dan kemudian lewat daerah hutan akan sampai ke jalan silang ke Bergota setelah membelok kembali ke arah barat.”

Mahesa Jenar tampak berpikir sejenak. Kemudian ia bertanya lagi,

“Adakah simpangan yang dapat menghubungkan kembali dengan Banyubiru tanpa mengambil jalan yang kita lewati tadi?”

“Aku belum tahu, Paman,” jawab Arya.

“Kita berhenti sebentar Arya,” kata Mahesa Jenar sambil menarik kekang kudanya. Arya juga segera menghentikan kudanya.

“Arya…,” kata Mahesa Jenar,

“Kita harus segera kembali. Kalau mungkin lewat jalan lain. Sebab kalau kita mengambil jalan yang sama, pasti akan menimbulkan kecurigaan orang-orang berkuda itu sehingga mungkin mereka akan berbuat sesuatu atas kita.”

Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupanya ia dapat mengerti keterangan Mahesa Jenar. Tiba-tiba hampir berteriak ia berkata,

”Paman… aku pernah pergi berburu bersama ayah. Kami mendaki lereng bukit ini lewat lorong sempit yang biasa dilewati orang mencari kayu. Aku tidak tahu apakah aku dapat menemukan jalan itu kembali. Tetapi yang masih aku ingat, kami lewat di sebelah randu alas raksasa yang tampak itu, Paman.”

Mahesa Jenar memandang ke arah pohon raksasa yang ditunjukkan oleh Arya. Pohon itu terletak di tengah-tengah hutan yang tidak begitu lebat di lereng bukit itu.

“Mungkinkah orang-orang tadi juga akan pergi berburu, Arya…?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku kira tidak, Paman. Sebab perlengkapan mereka sama sekali bukan perlengkapan orang berburu,” jawab Arya.

Diam-diam Mahesa Jenar memuji kecerdasan otak anak itu. Katanya kemudian,

“Beranikah kau mencoba membawa aku bertamasya ke bawah pohon itu?”

Arya berpikir sejenak. Kemudian jawabnya,

“Marilah kita coba, Paman. Bila kita dapat mencapai pohon itu jalannya akan lebih mudah untuk mencapai Banyubiru. Sebab lorong di bawah pohon itu akan tembus sampai ke Sendang Muncul. Kalau sudah sampai di sendang itu sambil memejamkan mata aku dapat menuntun Paman sampai ke rumah ayah.”

“Kau terlalu sombong Arya,” potong Mahesa Jenar sambil tersenyum.

”Sebaiknya kita coba saja. Tetapi kalau kau tidak berhasil membawa aku sampai ke rumahmu, awas. Aku tidak mau lagi bermain gundu.”

Arya tidak menjawab lagi. Tetapi segera ia menarik kekang kudanya dan memutarnya untuk seterusnya meloncat menyusup hutan yang tidak begitu lebat di lereng timur pegunungan Telamaya.

MAHESA JENAR pun segera mengikuti Arya. Sebenarnya ia sama sekali tidak sangsi lagi setelah Arya dapat menunjukkan ancar-ancar untuk mencapai Banyubiru. Sebab baginya sama sekali tidak akan menemui kesulitan untuk mencapai pohon randu alas raksasa itu. Meskipun demikian sengaja ia berjalan di belakang untuk memberi kesempatan kepada anak Ki Ageng Gajah Sora itu.

Related posts

Leave a Comment