Nagasasra dan Sabuk Inten

ORANG itu sekarang sudah tidak dapat lagi mengendalikan dirinya karena putus asa. Ia tidak mendapat kesempatan untuk meninggalkan tempat itu begitu saja. Matanya berubah menjadi liar dan mencari tempat-tempat yang lemah, di mana ia mungkin menerobos untuk melarikan diri. Tetapi orang yang mengerumuninya itu seolah-olah sengaja mengepungnya rapat-rapat.

Setelah orang itu tidak dapat melihat kemungkinan itu tiba-tiba ia menarik keris yang terselip di bawah bajunya. Maka dengan suara yang parau ia berteriak, Minggir, atau aku terpaksa membunuh kalian.

Melihat orang itu menarik kerisnya, beberapa orang yang mengerumuninya surut ke belakang. Tetapi mereka sama sekali tidak takut. Orang Banyubiru bukanlah sebangsa penakut. Kalau mereka mundur hanyalah supaya ada jarak cukup dapat bertindak tepat. Apalagi Mahesa Jenar. Ia sama sekali tak berkisar dari tempatnya.

Janganlah bermain-main dengan benda yang demikian, sebab senjata hanyalah mendatangkan bencana, terutama bagi yang membawanya, kata Mahesa Jenar sambil tersenyum.

Diam…! teriak orang itu semakin putus asa. Pergi kau, atau biarkan aku pergi.

Orang itu selangkah mendekati Mahesa Jenar dengan keris terhunus. Melihat orang itu mendekati Mahesa Jenar, beberapa orang bergerak pula. Mereka masih belum tahu sampai di mana kemampuan bertindak Mahesa Jenar, sehingga penduduk Banyubiru merasa perlu untuk melindungi tamu mereka. Tetapi Mahesa Jenar masih saja berdiri di tempatnya.

Sementara itu terdengarlah beberapa orang keluar dari halaman. Mereka ternyata Ki Ageng Gajah Sora, Ki Ageng Lembu Sora dengan beberapa pengiringnya. Ketika mereka mendengar ribut-ribut di luar, mereka ingin pula mengetahuinya. Dan ternyata Arya Salaka telah berlari memberitahukan persoalan itu kepada ayahnya.

Orang-orang yang berdiri berkerumun segera menyibak, ketika mereka melihat kepala daerah mereka datang. Melihat orang-orang berdatangan, orang yang mencurigakan itu menjadi semakin pucat, dan semakin kebingungan.

Tiba-tiba terjadilah suatu hal yang tidak terduga-duga. Ketika Ki Ageng Lembu Sora melihat orang itu, matanya menjadi merah menyala. Dan tidak seorang pun yang mengira bahwa Lembu Sora secepat kilat menarik kerisnya dan sambil berteriak ia meloncat menikam perut orang itu.

Orang inikah yang telah berani menganiaya putra Kakang Gajah Sora? katanya.

Gerakan Lembu Sora terlalu cepat sehingga tak seorang pun dapat mencegahnya.

Orang itu terdorong mundur beberapa langkah. Cepat-cepat tangannya memegang perutnya yang terluka, dan kerisnya sendiri terlepas jatuh. Tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan, sedang wajahnya memancarkan rasa heran dan kemarahan yang tak terhingga. Ia memandangi Lembu Sora dengan matanya yang semakin pucat. Dari sela-sela jarinya mengalir gumpalan-gumpalan darah cair. Bibirnya yang menjadi putih itu bergerak-gerak, tetapi tak sepatah katapun terucapkan, sampai akhirnya ia tersungkur dan tak bernafas lagi.

Kemudian terdengarlah suara-suara yang tidak jelas dari beberapa orang yang menyaksikan dengan penuh keheranan atas kejadian itu. Mereka semua sudah mengenal bahwa Lembu Sora adalah adik Ki Ageng Gajah Sora, tetapi mereka sama sekali tidak membayangkan bahwa adik Gajah Sora dapat bertindak sekasar itu terhadap seseorang yang belum jelas kesalahannya.

Apalagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora sendiri, yang menjadi kurang senang atas tindakan Lembu Sora.

Kau terlalu tergesa-gesa Adi Lembu Sora, kata Gajah Sora.

Maafkan aku Kakang…. jawab Lembu Sora. Aku terlalu tidak dapat menahan hati terhadap orang yang menganiaya putra Kakang. Sebab aku sendiri mempunyai seorang anak yang sebaya dengan Arya, yaitu Sawung Sariti, sehingga aku merasa bahwa tindakan yang kasar terhadap anak-anak adalah tindakan yang paling terkutuk.

Gajah Sora menarik alisnya. Kemudian diperintahkannya beberapa orang untuk mengurusi jenazah itu, sedang beberapa orang yang lain supaya mencari keluarganya, apabila mungkin.

Setelah semuanya mulai dikerjakan, Gajah Sora dan Lembu Sora serta para pengiringnya masuk kembali. Mahesa Jenar masih saja berdiri diantara mereka yang sedang menyelesaikan penguburan jenazah itu. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai masalah. Tadi ia sempat meneliti wajah Lembu Sora lebih saksama.

Matanya yang berapi-api, bibirnya yang agak tebal dan selalu tertarik ke bawah bagian-bagian tepinya, menunjukkan bahwa ia benar-benar orang yang tidak tanggung-tanggung. Yang dapat membunuh orang, asal ia mau, dan sesudah itu dapat melupakannya dengan sekaligus seperti tak terjadi apa-apa.

Tetapi bagaimanapun, apa yang baru dilakukan adalah tindakan yang kasar sekali. Tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat pikiran lain. Apakah hal itu cukup kuat sebagai suatu alasan untuk membunuh. Tidak mungkinkah kalau pembunuhan itu dilakukan karena ada sebab-sebab lain…?

Sementara itu datanglah Arya Salaka mendekatinya. Wajahnya tampak tidak seriang biasanya. Aku menyesal Paman. Aku tidak mengira bahwa orang itu akan mengalami nasib terlalu buruk, sehingga Paman Lembu Sora membunuhnya, bisiknya kepada Mahesa Jenar.

Sudahlah, Arya… lain kali jangan terlalu nakal. Untunglah aku melihat kau berkelahi. Kalau tidak, barangkali kepalamu tadi sudah terbentur dinding, jawabnya.

Mula-mula aku hanya ingin mengetahui, apakah yang akan dilakukan orang itu, Paman, katanya. Kelakuannya nampak aneh. Dan aku tidak sempat memberitahukan kepada siapapun.

Sudah pernahkah kau melihat orang itu sebelumnya? tanya Mahesa Jenar.

Belum. Yang pasti ia bukan orang Banyubiru. Aku hampir mengenal semua orang di kota ini, jawabnya.

MAHESA JENAR merenung sejenak. Lalu katanya, Sudahlah, lupakan itu. Marilah kita sekarang berjalan-jalan. Barangkali kau dapat menunjukkan tempat-tempat yang belum pernah aku lihat.

Maka kembali Mahesa Jenar berjalan-jalan tanpa tujuan. Kali ini ia pergi bersama Arya Salaka yang nakal. Diajaknya Mahesa Jenar mendaki lereng bukit Telamaya.

Dari sana Paman dapat melihat seluruh dataran Tanah Rawa, kata Arya Salaka.

Dari Banyubiru, dataran itu juga dapat dilihat, Arya, jawab Mahesa Jenar.

Tetapi pandangan kita tidak seluas apabila kita berdiri di sana bantah Arya Salaka.

Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Memang ia sama sekali tidak mempunyai tujuan. Jadi ke mana saja pergi, bagi Mahesa Jenar adalah sama saja.

Sampai di lereng bukit yang agak tinggi, mereka berdua dapat melihat hampir seluruh dataran. Tanah-tanah yang subur dengan padinya tampak seperti permadani kuning yang dibentangkan di bawah kaki mereka. Sedang di bagian timur tampak Rawa Pening berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari.

Tiba-tiba mata Mahesa Jenar yang tajam tertarik pada beberapa titik yang bergerak-gerak. Titik-titik itu terlalu kecil, tetapi mata Mahesa Jenar segera dapat mengenalnya bahwa titik-titik itu adalah orang-orang berkuda.

Kau lihat titik-titik yang bergerak-gerak itu? tanya Mahesa Jenar kepada Arya Salaka.

Yang mana Paman? tanya Arya Salaka sambil berusaha mempertajam pandangan matanya.

Di sebelah selatan rawa itu, jawab Mahesa Jenar.

Akhirnya Arya Salaka dapat melihatnya pula.

Ya…, aku melihatnya, Paman, katanya.

Kau tahu, apakah itu kira-kira? tanya Mahesa Jenar.

Arya mengerinyitkan alisnya. Entahlah, jawabnya.

Itu adalah orang-orang berkuda, kata Mahesa Jenar.

Orang-orang berkuda? tanya Arya. Rupanya ia sangat tertarik. Di sini memang sering ada orang-orang berkuda. Tetapi yang bergerombol demikian adalah jarang sekali. Berapa orang kira-kira mereka, Paman?

Mahesa Jenar mengamat-amati sejenak, lalu katanya, Ya, antara sepuluh orang.

Tiba-tiba wajah Arya Salaka berubah. Pasti terpikir sesuatu olehnya. Maka berkatalah ia, Paman, marilah kita lihat, siapakah mereka itu.

Mahesa Jenar tersenyum. Jarak itu tidak terlalu dekat Arya, belum tentu lewat tengah hari kita sampai ke sana. Bukankah jalan menuju ke tempat itu berkelok-kelok?

Kita pulang dahulu. Lalu kita ambil kuda, dan pergi ke sana, Arya menjelaskan maksudnya.

Arya tidak menunggu jawaban Mahesa Jenar, tetapi terus saja menghambur lari menuruni tebing.

Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain kecuali mengikutinya. Memang sebenarnya ia pun tertarik pada rombongan orang-orang berkuda yang datang dari arah timur itu.

Ketika Mahesa Jenar sampai di luar dinding halaman rumah Arya, ia melihat Arya sudah menunggunya dengan dua ekor kuda. Yang seekor berwarna hitam mengkilat dan yang seekor lagi berwarna abu-abu. Ketika Mahesa Jenar menghampirinya, segera Arya menyerahkan kuda yang berwarna abu-abu itu kepadanya.

Mudah-mudahan tamasya ini menyenangkan Paman, kata Arya sambil meloncat ke atas punggung kudanya. Kemudian tanpa menunggu Mahesa Jenar, ia telah memacu kudanya. Mahesa Jenar segera menyusul sambil menggerutu di dalam hati, Memang anak ini nakal sekali.

Sebentar kemudian kuda-kuda itu telah menuruni jalan-jalan perbukitan, dan segera mencapai jalan yang menuju ke Rawa Pening.

Debu yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda itu bergulung-gulung di terik matahari. Berkali-kali Mahesa Jenar yang berjalan di belakang menghapus wajahnya, yang rasanya bertambah tebal oleh debu yang melekat.

Setelah mereka berkuda beberapa saat, tampaklah jauh di depan mereka debu yang berhambur-hamburan. Segera Arya memperlambat kudanya sampai Mahesa Jenar berjalan di sampingnya.

Itukah mereka Paman? tanya Arya Salaka.

Ya, itulah mereka, jawab Mahesa Jenar.

Lalu apa yang akan kami lakukan? tanya Arya lagi.

Terserahlah kepadamu, jawab Mahesa Jenar tersenyum. Bukankah aku hanya mengikutimu?

Arya mengerutkan keningnya. Ia mencoba untuk mengingat-ingat, apakah yang mendorongnya untuk pergi. Tetapi yang ditemukannya hanyalah suatu keinginan untuk mengetahui semata-mata. Sesudah itu tidak ada apa-apa lagi. Karena itu ia menjadi bingung mendengar jawaban Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar menangkap kesan itu. Lalu katanya, Arya, lain kali pikirkan dahulu sebelum kau bertindak, supaya kau tidak mudah terjerat dalam suatu bahaya. Sekarang aku kau bawa ke dalam suatu tindakan yang tak kau ketahui sendiri maksudnya.

Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan penuh kesibukan di dalam hati. Tetapi ketika ia melihat kesan wajah Mahesa Jenar, segera ia berkata hampir berteriak Paman, jangan Paman mengganggu. Aku sudah kebingungan.

Kembali Mahesa Jenar tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab, sehingga kembali Arya bertanya, Aku akan tidak berbuat lagi Paman. Tetapi bagaimana sekarang?

Akhirnya Mahesa Jenar kasihan juga melihat Arya bingung. Maka katanya, Kenapa kau menjadi bingung? Bukankah biasa saja kalau kita berjalan berpapasan? Apa halangannya?

Jawaban Mahesa Jenar yang sederhana itu telah membuat Arya menjadi geli sendiri. Katanya dalam hati, Ya kenapa aku bingung. Bukankah benar kata Paman Mahesa Jenar itu…?

AKHIRNYA Arya Salaka tertawa sendiri. Tetapi tanpa disadarinya sendiri otaknya yang tangkas dapat mengikuti jalan pikiran Mahesa Jenar. Dengan berpapasan saja sudah dapatlah kiranya didapat kesan mengenai orang-orang berkuda itu.

Orang-orang berkuda itu semakin lama jaraknya menjadi semakin dekat. Mahesa Jenar masih selalu cemas atas tindakan-tindakan Arya yang kadang-kadang tak terkendalikan itu.

Related posts

Leave a Comment