Bab 1 Menuju Kotaraja

“Aku kagum kepadamu, Anak Muda! Engkau mampu membelit ujung senjataku ini. Tetapi sayang engkau tidak akan dapat lagi melihat senja esok hari.” Mpu Gemana menyerang Bondan semakin hebat sementara Bondan telah mengerahkan segenap daya kekuatan yang dimilikinya.

Sekalipun mereka menggunakan senjata yang menjangkau jarak cukup jauh, tetapi tampaknya Bondan dan Mpu Gemana sedang menjajaki pertarungan jarak dekat, lingkaran mereka menjadi semakin rapat dengan gerakan semakin cepat.

Ketika keduanya terlibat dalam pertempuran yang berjarak pendek, maka udeng itu tampak seperti ular naga yang meliuk-liuk dan mematuk dahsyat, terkadang berusaha membelit pergelangan tangan Mpu Gemana. Sedangkan Mpu Gemana sendiri sering berupaya menyusupkan mata rantainya ke celah pertahanan Bondan.

Rasa kaget dan penasaran memenuhi dada Mpu Gemana terhadap ketinggian ilmu Bondan. Selain itu, ia juga ingin memuji lawannya yang berusia muda tetapi telah memiliki kemampuan yang mampu mengimbangi serangannya.

“Ia tidak jauh berbeda dengan Sampar. Tetapi kemampuannya sudah jelas berada jauh di atas Sampar. Keseimbangannya dalam menjaga pertahanan saat melakukan serangan benar-benar tampak berada di bawah kendali dan perhitungan yang matang. Luar biasa!” bisik hati Mpu Gemana menyeruak di tengah deru perkelahian yang semakin sengit dan tajam.

Pergulatan di antara kedua orang yang berbeda usia cukup jauh itu menjadi semakin sulit dimengerti. Keduanya berputar saling membelit dan gerak tubuh mereka seolah hilang ditelan kegelapan. Sesekali mereka berbenturan di udara dalam jarak yang sangat dekat. Kadang-kadang saling melepaskan diri kemudian saling menerjang kembali dan berbenturan dengan keras.  Tetapi seakan-akan tidak terjadi akibat sama sekali dari sekian banyak benturan yang terjadi.

Cakrawala yang mulai merekah merah menjadi saksi pertempuran dua lingkaran kecil itu.

Mpu Gemana melontarkan ujung lainnya senjatanya dari balik punggungnya, mengarah wajah Bondan yang hanya berjarak kurang dari satu jengkal di depannya. Bondan tidak menyangka akan ada serangan maut itu, ia menjadi terkejut lalu melepaskan belitan udengnya, kemudian melentingkan tubuh ke belakang. Sehingga ia dapat menyelamatkan dirinya dari tumbukan dahsyat yang pasti dapat memecahkan kepalanya.

Mpu Gemana kembali berdecak penuh kekaguman ketika ia melihat cara Bondan melepaskan diri dari rangkaian serangan itu. Begitu tangkas dan lincah! Sebuah serangan balasan dilancarkan Bondan dengan membuka jalur yang cukup berbahaya bagi dirinya. Merunduk lalu melesat ke samping, sementara ikat kepalanya mematuk bagian bawah ketiak Mpu Gemana yang terbuka.

Serangan balasan ini benar-benar mengejutkan Mpu Gemana. Dari perhitungan Mpu Gemana ikat kepala itu seharusnya menyentuh lambung atau bagian dada sebelah atas. Namun gerakan Bondan ini seperti sebuah ejekan baginya. Ia kini merasa seolah-olah seorang murid yang baru belajar olah kanuragan.

Meski begitu, gerakan Bondan telah mengundang bahaya besar! Mpu Gemana tidak membuang kesempatan saat pertahanan Bondan menjadi lemah. Kedua ujung rantainya dilontarkan dan bersamaan dengan itu, Mpu Gemana melompat ke arah Bondan yang sedang melayang.

Bondan merasakan deru angin memburunya, seketika tangannya yang memegang udeng membuat gerakan satu lingkaran penuh menangkis satu ujung yang terdekat. Tangan kirinya segera mencabut keris yang terselip di pinggang dan dibenturkan pada ujung yang lain. Mpu Gemana kemudian meloncat ke samping dan tiba-tiba ia mengerakkan tangannya.

Ujung senjatanya bergetar hebat dan dengan sangat cepat menyambar Bondan. Kali ini Bondan terkejut melihat ujung senjata yang telah meluncur ke matanya. Cepat ia menghindar sambil merendahkan tubuh. Bidikan senjata Mpu Gemana memang gagal menembus pertahanan Bondan namun dentuman terdengar persis di atas kepala Bondan. Suara ledakan yang menggetarkan gendang telinga.

Namun, begitu ia mendapatkan keseimbangan, Bondan segera menyusupkan kerisnya ke dalam pertahanan lawannya. Tangan Bondan menjulur cepat menuju jantung Mpu Gemana. Mpu Gemana sekali lagi terkesiap dengan serangan balik dari Bondan. Tetapi pengalaman Mpu Gemana cukup membantu untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi dalam perkelahian.

Sambil menggeser selangkah ke samping, ia melepaskan satu tendangan ke lambung Bondan. Agaknya Bondan seperti sengaja menerima tendangan itu dengan siku kanannya.

Kedua orang ini segera meloncat mundur setelah sama-sama menyadari tingkat masing-masing.

“Siapakah sebenarnya anak ini?” pikir Mpu Gemana. “Gerak tubuhnya begitu lentur tetapi menyimpan satu kekuatan yang luar biasa! Seseorang dapat aku pastikan telah menggemblengnya dengan dasar yang sangat kuat. Dan aku yakin orang yang menjadi guru dari anak ini tentu bukan nama sembarangan disebut orang.”

Related posts

Leave a Comment