Bab 1 Menuju Kotaraja

Rasa marah yang melanda dirinya seperti menambah satu kekuatan bagi Wiratama oleh karena itu serangannya meningkat berlipat ganda. Tubuh yang telah mengalami luka seperti tidak menjadi penghalang, bahkan mampu membangkitkan tenaga yang tak terlihat oleh mata namun justru hal ini menjadikan dirinya dalam keadaan sulit. Keseimbangan dirinya yang hilang karena gelap mata menjadi sebab pukulannya berkali-kali mengenai tempat kosong.

Kepalan tangan kiri Wiratama mengenai baju kanan Prana Sampar, sekalipun hanya sebuah pukulan tangan kosong namun kepalan itu mampu merobek kain dan nyaris  mengenai lambung Prana Sampar. Segera Prana Sampar melakukan tendangan balasan dan nyaris mengenai kepala Wiratama karena tubuhnya telah surut melompat ke belakang.

Tak lama kemudian keduanya berada di bibir perahu yang berseberangan. Wiratama menghentakkan kaki ke bibir perahu agar tergoyang keras, Prana Sampar yang sedikit terhuyung dengan cepat melayang memanfaatkan dorongan perahu ke arah Wiratama sambil melepaskan serangan. Namun begitu, Wiratama masih bisa mengelak dan menangkis serangan Sampar. Hanya saja Sampar sedemikan cerdik mampu memanfaatkan celah di antara tangkisan Wiratama sehingga dirinya berada di bawah dada lawannya.

Satu pukulan telak yang disertai tenaga inti menyusup di celah pertahanan dan mengenai dada Wiratama sehingga terdengar keluhan tertahan. Wiratama terlontar melayang melewati bibir perahu. Air sungai ternoda dengan warna merah ketika  Wiratama menyentuh permukaan sungai. Ia tenggelam sesaat, tak lama kemudian tubuhnya mengapung tanpa gerakan.

Menyaksikan Wiratama terpental jatuh ke dalam sungai dengan air berwarna coklat, Bondan melayang secepat anak panah menyambar Wiratama yang hanyut oleh aliran sungai. Dengan menginjakkan tapak kakinya ke permukaan air, Bondan kembali mengapung di angkasa menuju  perahu  dan segera memeriksa keadaan Wiratama. Ia membuka baju yang menutup tubuh Wiratama dan tampak warna kebiruan berbentuk telapak tangan pada dada prajurit itu.

“Tampaknya orang ini terkena satu pukulan yang dilandasi tenaga luar biasa. Lelaki itu ternyata bukan orang biasa,” gumam Bondan pada dirinya sendiri sambil melirik Prana Sampar.

“Setan!” desis Prana Sampar geram. Seseorang telah tiba-tiba ada di dekatnya dan menyaksikan perkelahian yang berujung pada kematian seorang prajurit Majapahit. Tentu kematian ini akan mengguncangkan Trowulan dan dengan begitu dirinya akan diburu seluruh pasukan Majapahit sampai ujung langit.

Satu-satunya jalan adalah menghilangkan jejak dengan membunuh anak ini! Pikir Sampar.

Mata Prana Sampar menatap tajam ke arah Bondan yang belum beranjak dari tempatnya duduk di sebelah mayat Wiratama.

Prana Sampar tak ingin ada yang menjadikan berita kematian Wiratama menjadi tersebar. Tiga pasak kecil meluncur deras ke arah Bondan yang dengan sigap melenting ke samping untuk menghindari senjata rahasia itu.

”Ki Sanak, apa urusanmu dengan senjata itu?” Bondan bertanya dengan nada ingin tahu.

“Anak muda, menjadi urusanku dengan membunuhmu karena perkelahian ini!” seru Prana Sampar.

“Ini bukan kesalahanku. Aku melihat perkelahian itu karena aku melihatnya. Dan engkau, Ki Sanak, jangan jadikan membunuh itu sebagai kebiasaan!” Bondan menyahut sambil menjelaskan keadaan dirinya.

“Bocah tengik! Berani kau katakan itu, ha? Aku membunuh bukan sebagai kebiasaan, tetapi lebih karena aku suka melakukannya!”

Waktu yang lambat merayap tidak dapat dirasakan oleh kedua orang yang usianya tidak terpaut jauh itu. Matahari mendaki langit semakin tinggi dan meninggalkan riak-riak kecil yang bermain-main dengan angin yang menyapu lembut permukaan sungai Brantas.

Prana Sampar segera melesat cepat serta mengayunkan sebilah keris ke arah penyelamat jasad Wiratama itu. Bondan tidak merasa ada masalah atau kepentingan terhadap perkelahian ini maka ia memutuskan untuk menghindar dan hanya mengimbangi serangan lawannya. Prana Sampar semakin marah dengan cara Bondan meladeni gerakannya. Ia merasa telah diremehkan karena dalam diri Prana Sampar  telah terpatri  bahwa ia adalah anak muda yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan yang seusianya. Selain itu Ia juga merupakan murid dari seorang yang pilih tanding di lereng Gunung Wilis.

“Gandrik! Jangan bertingkah seperti kambing yang sedang bermain-main. Agar aku tak menyesal telah membunuhmu maka bertarunglah seperti laki-laki!”  Prana Sampar dengan geram menebaskan keris ke lambung Bondan.

Related posts

Leave a Comment