Bab 1 Menuju Kotaraja

“Anak ini telah putus asa! Kekuatannya mulai berkurang, dan ia justru semakin menguras tenaga dengan menambah kecepatan. Ia tidak lagi dapat menguasai jiwanya dan mengabaikan keseimbangan!” Ken Banawa mengalihkan mata pedangnya pada bagian kaki Sampar. Sejurus kemudian, kaki kanan Sampar tertusuk pedang. Satu celah pertahanan Sampar telah terbuka, dan itu dapat diketahui oleh Ken Banawa yang kemudian menyusupkan ujung pedangnya mengarah bagian bawah tubuh Sampar.

Sampar membentak kasar sambil menahan sakit.

Ia menjadi sedikit lengah.

Kelengahan yang tidak dapat lagi ditebus dengan penyesalan.

Ken Banawa memutar tubuhnya seraya mengarahkan pedang ke bagian bawah leher Sampar. Ujung pedangnya berhasil menusuk pangkal leher Prana Sampar. Suara tercekat keluar dari kerongkongan Prana Sampar. Ia jatuh berlutut, dan tumbang di ujung pedang Ken Banawa.

Sementara itu, di waktu yang hampir bersamaan, Bondan telah menahan gerak rantai dengan menyelipkan ujung keris pada salah satu lubang rantai Mpu Gemana, dengan begitu ia telah bersiap meneruskan perkelahian dengan satu tangan.

Lutut kanan Mpu Gemana mengarah masuk ke tulang rusuk kirinya, Bondan menarik tubuh ke belakang, namun… namun… ternyata itu adalah gerak tipu Mpu Gemana. Ketika Bondan mengarahkan perhatian untuk melindungi tulang rusuknya, Mpu Gemana melemparkan ujung rantai yang lain ke pelipis Bondan. Lontaran maut itu memaksa anak muda ini menarik paksa keris yang diselipkannya pada lubang rantai. Ia harus cepat menghindar agar lolos dari serangan maut yang menuju kepalanya.

Mata tajam dari rantai menebas udara di atas kepala Bondan, tetapi sebuah tendangan Mpu Gemana telak mendarat di dada anak muda dari Pajang ini. Bondan terpental, jungkal dan roboh, napasnya tersengal dengan dada serasa remuk redam karena hantaman benda yang lebih berat dari batu cadas sebesar lembu.

Pelan ia membenahi kedudukannya sambil melirik pertarungan Ken Banawa dengan Sampar yang telah usai, sambil membuat perhitungan baru ia kini telah berdiri tegak dengan tata gerak yang berbeda. Kedua kakinya membentuk sudut yang baru. Ia mencondongkan sedikit badan ke depan. Ia menunggu serangan berikutnya dari lawannya. Tetapi Mpu Gemana tidak  terpancing dengan perubahan tata gerak yang diterapkan oleh Bondan.

Kecepatannya sulit dilukis dengan kata-kata. Apalagi dengan jarak seukuran empat anak panah, terlalu bahaya untuk memulai serangan. Ia akan mengakhiri hidupku, pikir Mpu Gemana.

Melihat persiapan yang dilakukan Mpu Gemana, Bondan mengerti jika lawannya tidak akan mendahului dengan sebuah serangan. Saat itu, Bondan merasa harus segera mengambil satu keputusan. Dengan ikat kepala yang terjuntai, ia menggerak-gerakkan tangannya ke depan dan belakang seolah mendayung perahu dengan menggeser langkah mendekati lawannya.

Kematangan Mpu Gemana dalam pertarungan menjadikan dirinya lebih tenang mengamati gerakan Bondan. Karena merasa lebih berpengalaman dari lawannya, Mpu Gemana telah kehilangan kewaspadaan.

Tiba-tiba di luar perkiraan Mpu Gemana, Bondan melesat dengan kecepatan yang sulit dipercaya. Bondan melompat ke kiri dan kanan, lalu berguling dengan cepat dan secara mengejutkan menyambar dari bawah. Mpu Gemana terkesiap dengan gerakan Bondan dan Kiai Ngablak telah lurus mengarah lehernya.

Tusukan keris yang sangat cepat ibarat anak panah lepas dari busurnya memaksa Mpu Gemana melentingkan tubuh ke belakang, dalam kesempatan itu, Mpu Gemana berputaran di udara sambil melempar ujung rantai ke arah Bondan yang kini juga melayang tinggi menyusulnya.

Bondan sigap menangkap ujung senjata yang berbentuk segitiga itu, dan menariknya ke atas. Mpu Gemana menarik ke bawah lebih kuat. Tarikan itu dimanfaatkan Bondan meluncur lebih cepat ke arah Mpu Gemana.

Jarak kurang dari sedepa!

Keresahan mendera hati Mpu Gemana. Ia menjadi saksi dan sasaran dari bayangan yang bergerak dengan kecepatan dahsyat.

“Mustahil aku dapat menghindarinya!” desis pelan Mpu Gemana. Ia mangangsurkan tangan ke depan, telapak kanan Mpu Gemana menjadi perisai agar lehernya lolos dari serangan Bondan.

Namun murid Resi Gajahyana ini mengalihkan serangan dengan mendadak. Bondan dengan cepat menarik keris lalu memutarnya ke bagian pinggang Mpu Gemana. Dua sabetan darinya mengakhiri hidup Mpu Gemana.

Related posts

Leave a Comment