Menakar Peluang Whisnu Sakti Buana dalam Pilkada Surabaya 2020 (1)

Opini

Banyak kalangan yang memandang sebelah mata mengenai tampilnya Whisnu Sakti Buana dalam pertarungan Pilwali Surabaya kali ini. Bahkan di kalangan arus bawah pun telah muncul penilaian dini, mirip pengamat politik kaliber nasional, bahwa PDI Perjuangan akan menjadi pecundang di Surabaya pada tahun 2020. Itu pendapat yang dilindungi oleh konstitusi. Dan juga pendapat yang dapat dibenarkan meski mereka pun melupakan satu hal.

Apakah itu?

Calon walikota dari koalisi partai pun masih berstatus “jomblo”.

(mpun diesemi, nggih bu. Nyuwun ageng pangapunten )

Mungkin dengan dalil pemikiran, apabila sebelah telah banyak dikenal maka siapapun yang menjadi wakilnya pun akan terangkat. Benarkah?

Mari kita letakkan subjektifitas di kolong meja.

Whisnu bukan atau belum menjadi sosok yang punya reputasi atau prestasi setinggi gunung Mahameru. Jadi jangan dibandingkan dengan prestasi kepala daerah. Perbandingan harus sejajar dan berbanding lurus. Maksudnya begini, kalau bukan orang yang pernah menjadi pemimpin daerah maka jangan bandingkan dengan mereka yang telah menjadi pemimpin.

Itu seperti membandingkan dosen dengan ustadz. Beda ruang lingkup pengajaran dan mata pelajaran. Itu juga seperti membandingkan pekerjaan sopir dengan tentara. Gak nyambung blas, gaes.

Maka hindari dan jauhi cara berpikir yang keliru dengan membandingkan warna soto ayam lamongan dengan rawon daging sapi. Sekali lagi, hindari karena hanya menjadi jalan untuk mengungkapkan pola salah dalam kerangka menentukan walikota. Kecuali kita termasuk kaum angel wis angel, jek dan jenis manusia pokoke. 

Paham ya?

Pokok e Whisnu, itu ya salah.

Pokok e Eri, itu ya salah.

Pokok e Machfud Arifin, itu ya salah.

Pokok e Risma iku bener, begini juga salah.

 

Lalu yang benar, bagaimana? Patuhi protokol dengan tetap jaga jarak, pakai masker dan biasakan cuci tangan.

Jengkel karena gak nyambung?

Kejengkelan itu adalah akibat kesalahan dalam membandingkan atau keliru dalam menyusun kerangka pikiran atau logika.

 

(bersambung)

 

 

Related posts

Leave a Comment