Membungkam Wisnu dengan Nir Prestasi (Peluang Wisnu – 4)

Opini

Masyarakat Surabaya dan ditambah obrolan serta pendapat singkat yang berat sebelah, mungkin setuju jika ada yang berkata : Wisnu tanpa prestasi.

Benarkah?

Dengan ruang lingkup yang terbatas, karena tidak ada alasan yang dapat membenarkan seorang wakil mempunyai ruang gerak lebih luas dibandingkan kepala, sebenarnya Wisnu Sakti Buana telah membuktikan kapasitasnya sebagai seorang pemimpin. Kecuali sang kepala mempunyai halangan tetap sebagaimana yang dimaksud konstitusi.

Wisnu adalah peraih Penghargaan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD), Piala Kalpataru, dan Adi Wiyata Mandiri untuk tingkat pendidikan. Itu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Orang boleh bilang : itu bukan kerja Wisnu tetapi kelompok atau team.

Hanya saja, prestasi seorang walikota pun bukan kinerjanya sendiri. Walikota juga punya team dari perumus sampai pelaksana, bahkan tanpa dukungan masyarakat maka walikota hebat pun will be nothing. Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.

Mungkin sedikit orang yang tahu bahwa sekolah menengah pertama negeri yang berada di kawasan Mayjen Sungkono merupakan upaya wakil walikota untuk mengusahakan tempat. Dari daerah Bintang Diponggo ke sebelah TVRI. Dari lokasi tidak strategis ke area idaman kalangan bisnis. Dari numpang bangunan ke bangunan sendiri. Tapi jarang yang mengetahui peristiwa bersejarah itu.

Media memang bukan domain Wisnu untuk menjaga status eh pencitraan, tetapi sepertinya Wisnu memilih kerja dalam senyap. 

Kita harus mengerti makna kerja di dalam senyap. Itu berarti kerja yang jauh dari pencitraan dan tidak mengundang banyak wartawan. Itu adalah bukti keyakinan seseorang pada kemampuannya sendiri. Maka tak heran Bonek menempatkan sosok Wisnu sebagai sesepuh. Pertemuan Bonek dengan Wisnu pun jauh dari media tetapi kecintaan Bonek padanya? Ruarr Biyaza!

Balik ke peluang.

Dengan menggunakan media sosial sebagai faktor penilai popularitas dan mutu, tentu saja itu menjadikan orang seperti katak dalam panci. Siap direbus. Orang tidak dapat dikatakan benar-benar bekerja apabila ia adalah pengayom, sesepuh, pemimpin yang hanya menggunakan dunia maya sebagai wilayah kerja. Bukan cermin pekerja keras jika hanya menggunakan wartawan sebagai tinta-tinta yang rela menjadi pesuruh.

Orang akan merindukan hasil kerja sebagaimana tulisan yang tak pernah lelah mencari pembacanya. Dan pencitraan adalah keberanian saat pemotretan.

Cekrik cekrik krik krik krik krik krik…..

Related posts

Leave a Comment