Bab 3 Membidik

Yang kemudian dilakukan Sabungsari adalah memberi tanda kepada pasukannya untuk menyerang Ki Garu Wesi. Ia sudah tidak melihat kemungkinan selain bertempur. Melepaskan diri dari cengkeram Ki Garu Wesi hanya dapat dilakukan apabila mereka menyerangnya dengan cara terbaik. Ketika perintah melesat keluar melalui bibir Sabungsari, peronda Mataram segera mengayunkan senjata dan menggeser kaki untuk membentuk barisan baru.

Lingkaran pun segera terbentuk. Gelar yang mempunyai kemiripan dengan Cakra Byuha mulai menghimpit ruang gerak Ki Garu Wesi dan Sabungsari yang berada di tengah lingkaran. Semangat peronda Mataram membuat ketegangan semakin meningkat dan mereka sadar bahwa bentrokan itu akan menjadi awal dari pertempuran yang lebih besar.

Ki Garu Wesi menyambut tekanan dengan gerakan lincah, tetapi tidak segera membalas ayun serangan orang-orang Mataram. Yang ia lakukan hanyalah menggeser letak tubuhnya, meski tidak dapat dikatakan menghindari serangan tetapi Ki Garu Wesi selalu lolos dari tekanan.

Dalam waktu itu, Sabungsari sadar bahwa Ki Garu Wesi hanya satu dari sekian banyak kekuatan yang dimiliki Raden Atmandaru. Keyakinannya – bahwa masih banyak kekuatan yang tersimpan di balik lengan orang yang bergelar Panembahan Tanpa Bayangan – semakin kuat. Apabila mereka muncul ke permukaan, itu adalah masalah yang berbeda. Mereka ada karena kitab Kiai Gringsing. Mereka berkelahi demi kitab peninggalan guru Agung Sedayu. Persaingan yang terjadi di antara pengikut Raden Atmandaru belum jelas diketahui banyak orang, Sabungsari hanya menduga. Perkiraan selanjutnya adalah mereka akan saling menyingkirkan di balik rimbun semak atau di bawah satu naungan atap.

“Tidak ada yang bergeser dari perubahan,” desis Sabungsari sambil mengikuti arah gerak Ki Garu Wesi, “satu-satunya perubahan, bila itu ada, adalah mereka dapat hidup damai dengan menyerahkan kitab pada Raden Atmandaru.”

Kepungan peronda Mataram terus menerus bergerak luwes. Terkadang mereka mengecilkan lingkaran, tak jarang mereka juga melonggarkan kepungan.

Perkelahian yang terjadi antara Sabungsari dengan Ki Garu Wesi meningkat sengit. Jarak mereka begitu rapat. Hanya terpisah setengah langkah kaki. Maka pukulan-pukulan dan tangkisan sangat kerap berbenturan. Empat lengan bergerak cepat dan membayang seolah lengan mereka berjumlah ribuan. Sementara kaki mereka mengalir mengikuti arah putaran gelar Wuku Selukir.

Ki Garu Wesi tidak tergesa-gesa meningkatkan kemampuannya, ia cenderung menyesuaikan diri dengan keadaan lawannya. Ia seolah-olah tidak peduli dengan kelanjutan perkelahian maupun keadaan para pengepungnya, padahal ia mampu mengatasi kesulitan malam itu sendirian saja. “Gelar yang sangat menarik. Siasat yang tidak pernah aku lihat di barisan Raden Atmandaru,” katanya dalam hati. Selagi perkelahiannya lambat meningkat, Ki Garu Wesi mengamati dengan seksama arus gerak peronda Mataram. Dalam waktu itu, nyata terbayang dalam benaknya bahwa Mataram mempunyai ahli siasat yang mumpuni. Bila ia telah sekuat Agung Sedayu, tentu bukan perkara mudah untuk menekan prajurit yang menggunakan gelar aneh ini, pikir Ki Garu Wesi. .

Belum terlihat rasa khawatir dari raut wajah peronda Mataram, termasuk Sarja yang terlibat juga di dalam lingkaran kecil. Ia berpasangan dengan seorang wakil Sabungsari, dengan begitu kelemahan yang ada di barisan peronda tidak terlalu terlihat. Meski demikian, mata Ki Hariman dapat menemukan lubang yang berbeda.

Senjata para peronda belum mampu menggapai kulit Ki Garu Wesi, bahkan mereka disinggahi waswas. Mereka tidak ingin Sabungsari yang tersabet senjata, mengingat, perkelahian di tengah lingkaran hanya terpisah setengah langkah saja!

Telapak tangan mereka telah basah oleh keringat. Sergapan rasa khawatir ternyata cukup memengaruhi ketahanan jiwani peronda Mataram. Keadaan mereka tidak luput dari Sabungsari, selanjutnya adalah lurah kepercayaan Untara ini perlahan menggeser titik bertempur.

Walaupun Ki Garu Wesi seolah tidak peduli dengan perubahan yang dilakukan Sabungsari, ia melepaskan pandang ke tempat Ki Hariman. Keinginan Ki Garu Wesi untuk menuntaskan pertempuran itu terhalang oleh ingatannya tentang kitab Kiai Gringsing. Bagaimana ia menghabisi Sabungsari dan kawan-kawannya, sementara Ki Hariman melenggang untuk mengambil nama baik dengan kitab yang masih utuh dalam kuasanya?

Related posts

Leave a Comment