Bab 3 Membidik

Sarja memandang kepadanya dengan marah.Ia telah melihat kedahsyatan ilmu Ki Garu Wesi, tetapi nada Ki Garu Wesi ketika menyebut nama-nama orang yang dihormatinya telah mengurai kekang dirinya. “Apa maksudmu,wong edan? Apakah kau takut bertemu dengan Untara lalu berkata seperti itu? Lihatlah, engkau telah menggigil!” Keberanian telah berkumpul di dalam dada Sarja lalu menjadikannya begitu berani mengumpat Ki Garu Wesi.

“Hei, Ki Sanak! Apa yang kau tunggu? Majulah!” Sarja menantang Ki Garu Wesi.

Ki Garu Wewi berdiri mematung seolah tidak mendengar teriakan Sarja. Ia memandang kumpulan di depannya dengan tatapan seperti keris yang terhunus.

Sarja mengulang tantangannya, “Hei, engkau takut?”

Lalu ia menggeser telapak kaki kiri selangkah mundur dengan sikap merunduk dan siap menyerang. Namun Sabungsari mencegahnya. Lurah muda prajurit itu memegang bahu Sarja, lalu katanya, “Sekalipun kita semua mati, aku tidak pernah meragukan keberanianmu. Tetapi lelaki itu akan membuang tenagamu saja.”

Gelak tawa Ki Garu Wesi pecah! Semakin lama, serak parau suaranya menggetarkan jantung orang-orang Jati Anom.

Sabungsari terkesiap. Ia segera dihampiri ingatan tentang Ki Patih Mandraka. “Aji Gelap Sampar,” desisnya. Sabungsari memberi aba-aba melalui sebelah tangannya. Ia meminta orang-orang melingkari Ki Garu Wesi.

Tidak ada perubahan dalam sikap tubuh Ki Garu Wesi, ia hanya menurunkan lengking parau suara. Selimut malam dan udara dingin yang menusuk tulang seolah memberinya tenaga baru. Tanpa mengalihkan pandangannya pada Sabungsari, ia berteriak dan itu ditujukan pada Sarja, “Kenapa kamu diam, gembala kudis? Apakah celanamu telah basah?”

Meski Sarja ingin membalas ejekan itu, Sabungsari tetap menahannya. Kata Sabungsari, “Ki Sanak, engkau tidak akan dapat lolos dari kepungan ini.” Ia telah melihat kawan-kawannya telah mengepung Ki Garu Wesi dalam jarak terukur di antara mereka. Ia pun memerintahkan Sarja agar bergabung dengan barisan pengepung, kemudian kata Sabungsari, “Gembala yang kau sebut sebagai orang kudis akan menjadi hantu yang mengerikan bagimu malam ini.” 

Ki Garu Wesi menggumam. Tidak jelas yang ia ucapkan tetapi ia mulai melangkah, mendekati garis lingkaran orang-orang Jati Anom. Seketika itu kawan-kawan Sabungsari pun mulai bergeser setapak demi setapak memutar dan mereka masih berada pada garis lingkaran. Tidak ada satu dari mereka yang mundur sejejak, tidak pula mereka maju setapak. Kepungan berputar seperti roda pedati yang dipasang belati di setiap sisi.

Begitulah kedahsyatan yang segera dapat dirasakan oleh Ki Garu Wesi. Keteguhan hati orang Jati Anom untuk tetap dalam garis, sungguh, harus mendapat pujian. Kekuatan ilmu Ki Garu Wesi mulai menebar melalui tatap matanya. Keinginannya untuk menghisap darah prajurit Mataram begitu kuat hingga mampu menyibak udara dingin. Hasratnya untuk menghabisi satu demi satu pengawal Jati Anom bergolak, perlahan dan pasti menuju puncak. Ia berjalan melawan arah gerak lingkaran. Sabungsari mengiringi dari sisi yang berbeda. Ilmu tertinggi yang dikuasainya melalu pandang mata belum menyebar ke setiap pembuluh darah, tetapi Ki Garu Wesi mengerti bahwa lurah Mataram itu mampu berubah menjadi bahaya sekalipun dalam diam.

Ki Garu Wesi menunggu pergerakan Sabungsari. Dan ia masih berjalan melawan arus lingkaran. Begitu pula Sabungsari, ia bergerak mengikuti derap Ki Garu Wesi. Lingkaran dalam lingkaran dan orang-orang masih saling menunggu.

Jarak Sabungsari dengan Ki Garu Wesi kurang dari tiga langkah, ya, kurang dari tiga langkah dan tiba-tiba Ki Garu Wesi menggebrak!

Hanya satu benturan sebelum keduanya kembali menjauh!

“Tidak dapat dirasakan bila tenaga intinya telah menjadi selubung.” Sinar mata Ki Garu Wesi menyala heran tapi ia gembira. Ia seolah tengah menatap kelinci lemah. Tiba-tiba Ki Garu Wesi merasa haus darah Sabungsari.

Panggraita terlatih Sabungsari menangkap getar gawat.  Tangannya memberi tanda agar orang-orang memecah lingkaran menjadi lebih kecil. Maka yang terjadi kemudian adalah lingkaran-lingkaran kecil cepat terbentuk lalu mereka mengitari Ki Garu Wasi lebih cepat. Mereka membuka gelar seperti  sejumlah gasing yang mengitari gasing lebih besar. Seperti edar lintang pada langit bagian selatan. Wuku Selukir adalah kata yang terucap dari Untara ketika menyaksikan pertunjukan gelar itu di barak pasukan khusus Menoreh. Ketika itu, Agung Sedayu menanyakan arti kata itu tetapi Untara hanya tersenyum. Entahlah, dan biarlah hanya Untara yang tahu artinya. 

Related posts

Leave a Comment