Bab 3 Membidik

Sejenak kemudian sunyi mendatangi mereka. Dua jalur tidak dapat dilewati, sementara mereka terlalu mudah untuk dijangkau oleh orang-orang Raden Atmandaru. Sabungsari termangu. Diedarkannya pandangan mata berkeliling, ia ingin mengetahui tanggapan dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Ia yakin bahwa orang-orang itu bukan penakut yang takut mati tetapi, sebagai pemimpin, Sabungsari harus menimbang dari arah lain. Ia harus dapat membawa kembali orang-orang jati Anom dalam keadaan hidup, bukan sebagai korban dari kecerobohannya. Maka, ketika malam semakin dalam dan gerimis kian rapat, Sabungsari menggetarkan bibirnya, “Kita merunduk dan tetap bergerak maju. Setiap orang harus bersiap dengan senjata terhunus. Kita tidak tahu keadaan sekeliling walaupun suasana sangat gelap tetapi kita tidak pernah tahu yang ada di depan kita saat ini.”
“Baik, Ki Lurah,” serempak orang-orang menjawab dengan suara pelan.
Sabungsari berpaling pada gembala, “Sarja, kita tetap bersama!”
“Saya, Ki Lurah,” kata Sarja.

Mereka beranjak maju. Selangkah demi selangkah menapak tanah becek di antara rumput-rumput panjang. Mereka begitu tegang. Tidak ada yang dapat dilihat kecuali telapak tangan sendiri. Bahkan bila ada yang tertinggal dua langkah, orang di depannya seolah menghilang. Malam terasa pekat dan rapat.

Sarja yang menjadi penunjuk jalan mengalami perasaan yang berbeda dari biasanya. Selain ketegangan dan khawatir dengan serangan mendadak, ia seolah menemukan jalan pengabdian. Pikirnya, mereka tidak mengetahui keberadaan kelompok musuh tetapi kobar kebencian seperti memancar kuat dari sorot mata pengawal dan prajurit Mataram. Mengapa? Mengapa selalu ada orang yang ingin menguasai yang lain?
Meski demikian, Sarja tidak ingin larut dalam persoalan yang tidak dimengerti. Baginya yang terbaik pada saat itu adalah mengetahui letak musuh lalu mengabarkannya pada Untara atau Agung Sedayu. Selebihnya? Ia begitu rumit mencari alasan dan jalan keluar.

Kelompok Jati Anom semakin dekat dengan barisan pohon yang menjadi batas wilayah Sangkal Putung. Dalam waktu itu, Ki Hariman masih menunggu mereka untuk merayap lebih jauh dan lebih dalam. Ia akan mendorong orang-orang ke gerumbul pohon yang lebih rapat.

Di pihak lain, Sabungsari menyadari bahwa tidak ada jalan yang lebih baik dari yang mereka lalui. Penting baginya untuk menjaga keseimbangan kelompoknya. Gelar maupun keterampilan orang per orang. Barisan Sabungsari tidak hanya diisi oleh prajurit Mataram, tetapi ada pengawal pedukuhan dan seorang gembala. Ini bukan keadaan sulit walaupun harus diakui akan menjadi sangat rumit bila mereka tiba-tiba menyerang dan mengitari lingkaran dengan senjata, batin Sabungsari. Udara dingin dan air adalah kendala pertama yang harus dilampaui.
“Sangat tidak menguntungkan berkelahi di bawah hujan dan di antara pohon yang sangat rapat,” kata hati Sabungsari, “tidak ada yang diuntungkan dengan keadaan ini. Meski mereka telah bersiap.”
Suram kemudian menyapa Sabungsari ketika ditatapnya punggung gembala dan pengawal yang merunduk di depannya.

“Bagus!”
Mendadak keheningan pecah dengan suara yang datang dari samping kanan mereka. “Jati Anom memang tidak pernah kekurangan orang-orang tangguh seperti kalian.” Di tengah malam yang pekat dan sangat sulit untuk melihat, seseorang telah berdiri dengan dada terangkat menghadang pergerakan Sabungsari dan anak buahnya. “Prajurit!” seru orang itu. “Apakah engkau berniat membunuh orang dengan meminjam tangan orang lain?”

Sekalipun orang-orang Jati Anom telah bersiap tetapi suara itu mengejutkan mereka! Namun Sabungsari tetap tenang, jawabnya, “”Apakah Ki Sanak mengira kami datang untuk itu? Ho, dugaan salah. Justru kami datang dengan niat bunuh diri!”

Dalam desisnya, dari tempat yang tidak jauh dari penghadangan, Ki Hariman geram dengan sikap Ki Garu Wesi. “Bodoh! Walau mereka sudah agak jauh di dalam tetapi bukan keadaan aman untuk menghabisi kelinci-kcelinci dungu itu!” Ia pun keluar dengan loncatan-loncatan panjang. Tubuh Ki Hariman melayang deras ke bagian belakang barisan Sabungsari lalu menutup jalan putar!

Terbahak Ki Garu Wesi lalu mengeluarkan suara lagi, “Bila kalian mempunyai keyakinan kuat, maka berharaplah. Kalian pasti datang ke mari untuk alasan mempertahankan Jati Anom. Namun aku beritahu kalian, sekarang, bahwa kalian begitu bodoh dengan mematuhi perintah pemimpin kalian. Siapa namanya? Untara atau Agung Sedayu?”

Related posts

Leave a Comment