Bab 3 Membidik

Mereka pun berpisah. Kedua orang itu, masing-masing, tengah memecah pikiran di tengah derap langkah menuju pencarian kitab Kiai Gringsing. Bila Agung Sedayu sibuk mengurai kalut di tengah hiruk pikuk nyanyian binatang malam, maka Ki Tunggul Pitu sedang menyiapkan rencana lain untuk mengubah haluan Raden Atmandaru. “Ketinggian ilmunya tidak sebanding dengan kematangannya mengambil keputusan, tetapi itulah keuntungan besar bagiku,” gumam Ki Tunggul Pitu dalam batinnya. “Apakah ia tidak berpikir andai saja aku luaskan perjanjian itu kepada banyak orang? Bodoh. Agung Sedayu sungguh sangat bodoh!”
Tak seorang pun akan percaya tentang kesepakatan gila yang dilakukan Agung Sedayu, bahkan Ki Tunggul Pitu! Orang-orang dapat menerima berita penyimpangan Swandaru saat mengadakan permufakatan bersama Ki Ambara. Namun, terkait Agung Sedayu, siapa dapat menerima kabar itu jika tersiar?

# # #

Ki Hariman berdiri tanpa gerak. Pandang matanya tajam mengawasi peronda Jati Anom dan prajurit Mataram yang merayap di antara gerumbul perdu di perbatasan Sangkal Putung. Mereka ditugaskan untuk menyisir batas luar Jati Anom, dalam waktu itu mereka mengambil jalur yang jarang dilalui orang. Udara dingin menusuk seperti tidak dirasakan oleh mereka. Seorang gembala berjalan di tengah-tengah untuk menjadi penunjuk jalan. Sekali-kali ia mendongak, mengamati letak dahan yang sedikit terbungkus kabut.

Di seberang tempat Ki Hariman berdiri, Ki Garu Wesi meringkuk di dekat pohon preh raksasa. Perbantahan dengan Ki Hariman membuatnya penat. Awalnya ia memilih untuk menyerang setiap orang yang melewati jalur itu. Tetapi Ki Hariman keras menolak itu. Ki Garu Wesi, yang ingin sekali menghalangi gerakan yang dapat menguak keberadaan pemukiman rahasia pengikut Raden Atmandaru, harus mengalah. Ia tahu satu letusan perkelahian – meski akan dimenangkan oleh mereka – dapat menjadikan kitab Kiai Gringsing akan menjauh darinya. Seperti Ki Tunggul Pitu dan juga Ki Hariman, Ki Garu kesulitan mengekang perasaannya. Ia pun menginginkan kepemilikan kitab itu beralih padanya. Maka dengan alasan itu, hasrat untuk menjadi pemilik tunggal, ia mengikuti siasat Ki Hariman untuk membiarkan orang-orang Jati Anom merasuk lebih dalam dan lebih jauh.
“Orang sial!” geram batin Ki Garu Wesi. Ia menggeleng lalu mengusap wajah yang basah oleh tetes hujan.

Satu orang dari rombongan mendesahkan perintah, “Berhenti!”
Para peronda segera menghentikan langkah lalu memandangnya. Mereka meringkuk di bawah alang-alang yang tumbuh setinggi pinggang orang dewasa.
“Kita adalah mangsa yang sangat mudah dilahap,” kata orang itu. “Meski keadaan masih gelap dan hujan, tapi kita berada di tengah-tengah tanah yang tidak berpenghalang. Untuk saat ini, membunuh kita semua di sini akan menjadi perkara termudah.”

“Sabungsari,” desis seorang prajurit yang berpangkat sama. “Kita tidak mempunyai pilihan lain. Mengambil jalan memutar justru akan menempatkan kita pada kedudukan yang tidak jelas.”

Sabungsari mengangguk, ia memandang gembala kemudian katanya, “Benarkah jalur ini menjadi jalan pintas terbaik menuju wilayah padat?”

“Benar, Ki Lurah,” jawab gembala yang disusul anggukan kepala. “Sebelah kiri kita adalah selingkaran rawa-rawa. Saya tahu kita tidak gentar dengan ular atau sejenisnya, tetapi pasti sulit menempuh sisi itu. Jalanan mungkin telah menjadi lumpur, dan kita bisa terjebak.”

Sabungsari menunjuk arah yang berbeda.

Kata gembala sambil mengalihkan pandang, “Hanya sebaris pohon dan di balik itu pun bukan tempat padat tumbuhan. Ki Lurah, bila kita di sini sangat mudah diserang dan benar-benar lemah, maka di tempat yang Anda tunjukkan, ya mungkin kita akan bernasib lebih parah.”

“Maksudmu?”

“Beberapa penduduk memasang jerat babi hutan. Saya tahu itu tetapi saya tidak hapal letak perangkap mereka.”

“Oh, aku mengerti.” Sabungsari memutar pandang. Satu demi satu wajah pengikutnya memancarkan keteguhan untuk mengikuti perintahnya. “Bila kita terbunuh di sini, bisa jadi mayat kita tidak akan pernah ditemukan. Kalian tentu sudah siap. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada di antara kalian yang merasa gentar. Ya, tentu kalian akan malu mengatakan itu.”

“Maaf, Ki Lurah. Saya bukan prajurit dan saat ini saya merasa gentar. Namun, saya adalah gembala Jati Anom.”

Sabungsari mengumbar senyum sambil menatap wajah penunjuk jalannya. “Ya, saya tahu. Saya tahu bagaimana gembala Jati Anom ketika mereka berkelahi demi kehormatan.”

Related posts

Leave a Comment