Bab 3 Membidik

“Kakang, apakah saya tidak salah melihat keadaan?” tanya Agung Sedayu. Orang yang dipanggilnya kakang adalah Wasana, seseorang yang mengenal dekat keluarga Ki Sadewa.

Raut wajah Ki Wasana sedikit heran ketika memandang Agung Sedayu. Agung Sedayu tersenyum. Ia tidak melihat banyak perubahan pada garis wajah Ki Wasana. Seolah-olah pertemuan terakhir mereka baru saja terjadi, mungkin dalam hitungan pekan atau belum genap satu bulan. Perubahan yang terlihat oleh Agung Sedayu adalah rambut Ki Wasana memutih sepenuhnya walau usianya tidak berjarak sepuluh tahun dari Untara. Kemudian katanya, “Apakah tidak ada satu berita pun yang tiba untuk Ki Rangga?”

“Di depan Kakang, saya bukanlah seorang rangga tetapi Agung Sedayu,” Agung Sedayu menanggapinya dengan senyum yang belum pudar. Lalu ia berkata, “Berita seperti apa? Kami baru dilanda pasar yang terbakar.”

“Ya,” kata Ki Wasana. “Kami telah mendengar kabar tentang kebakaran pasar Tanah Perdikan. Sepertinya orang-orang asing telah memasuki wilayah ini seusai peristiwa itu.”

“Saya sedang menanti kejelasan Kakang,” Agung Sedayu berkata dan ia bergeser lebih dekat dengan lurah prajurit itu.

Ki Wasana menarik nafas panjang. Penglihatannya cukup tajam untuk menilai keadaan Agung Sedayu. Menurut dugaannya, senapati yang berdiri di dekatnya tengah didera kelelahan dan mungkin perasaan yang berbaur dengan berbagai pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Tentu saja itu menjadi pilihan sulit bagi Ki Wasana. Kemudian, setelah menimbang sejenak, Ki Wasana bersuara, “Tiga orang asing telah memasuki pedukuhan. Sekarang mereka tengah berada di bawah kepungan para prajurit Mataram dan Ki Panuju.”

“Serta sejumlah penggembala,” sahut orang yang berada di belakang Ki Wasana menambahi keterangan.

Agung Sedayu menghela napas dengan hati penuh debar. “Apakah salah seorang dari mereka juga terlibat dalam kebakaran di Menoreh?” bertanya Agung Sedayu dalam hatinya. Keningnya berkerut, dan gerak tubuhnya menunjukkan ia ingin bergegas mendatangi perkelahian seperti yang dilaporkan oleh Ki Wasana.

“Makan dan minumlah ini, Agung Sedayu,” tiba-tiba Ki Wasana berkata sambil memegang lengannya ketika ia melihat Agung Sedayu akan mengayun langkah.

“Entahlah. Saya tidak tahu. Apakah saya harus menerima tawaran Anda atau segera menuju ke..,” Agung Sedayu menatap wajah pemimpin prajurit jaga.

“Sungai,” jawab cepat Ki Wasana sambil memberi arahan mengenai tempat yang ditanyakan Agung Sedayu.

Ternyata tempat yang menjadi arena pertempuran itu benar-benar dekat dengan gardu jaga. Dalam hatinya, Agung Sedayu mengucap syukur telah mengambil jalan pintas. Meski begitu ia telah dapat membayangkan para penggembala yang pasti berada dalam keadaan yang lebih berbahaya jika dibandingkan dengan prajurit Mataram.

“Aku dengar Ki Lurah Sabungsari dan Ki Widura juga telah berada di wilayah itu,” kata Ki Wasana.

“Jika begitu, saya segera membantu mereka,” suara Agung Sedayu masih menggema ketika tubuhnya tiba-tiba lenyap dari hadapan Ki Wasana.

Agung Sedayu telah pergi untuk bahu membahu dengan prajurit Mataram yang dipimpin Ki Panuju. Ia masih dalam kecepatan yang sama ketika melesat mendatangi daerah sungai yang ditunjukkan oleh Ki Wasana. Kehadiran Sabungsari dan Ki Widura di tempat perkelahian tidak menjadikan Agung Sedayu terlena.

“Ilmu apakah itu?” tanya Ki Wasana pada prajurit di sampingnya.

Yang ditanya hanya menjawab dengan gelengan kepala. Kemudian ia bergumam pelan, “Tetapi yang pasti Agung Sedayu bukan seorang malaikat atau siluman.”

Senyum pun mengembang dari wajah orang-orang yang mendengarnya. Dan itu adalah harapan mereka bahwa Jati Anom akan melewati malam dengan tenang. Mereka melanjutkan penjagaan dengan perondaan secara bergantian karena harapan telah berpindah ke pundak Agung Sedayu. Dalam pikiran dan bayangan di benak mereka sama sekali tidak terbesit prasangka buruk. Mereka percaya pada pemimpin dan ketentuan Yang Maha Kuasa.

Ki Wasana dan anak buahnya tetap bersiaga untuk memastikan keamanan pedukuhan pada batas wilayah yang menjadi pengawasan mereka.

Malam melangkah penuh kepastian. Wedang jahe dan umbian telah hampir tandas.

Namun harapan tidak selalu dapat menjadi kenyataan. Kentongan terdengar bertalu-talu dan menggema. Setiap batang pohon seolah mengabarkan peristiwa yang sama. Setiap helai dedaunan seakan menerbangkan harapan yang sama ketika Ki Wasana dan yang lain tiba-tiba berpaling ke arah induk pedukuhan.

Pemimpin prajurit yang berusia lebih banyak dari Untara tetapi masih terlihat gesit ini segera membagi tugas. Ia ingin ada pengawasan pada setiap lorong dan jalanan, meski demikian, Ki Wasana tidak serta merta menyebar anggotanya. Ia meminta mereka untuk berbagi antara berkeliling dan menetap.

Related posts

Leave a Comment