Nasional

“Tidak ada yang salah pada pilihan itu,” jawab Agung Sedayu, “Aku harus mengakui kau cukup berani mengatakan yang sebenarnya. Barangkali aku tidak mempunyai jawaban, Ki Tunggul Pitu. Bahkan, jika kau paksa aku untuk memilih sudah tentu jawaban itu akan kau dapatkan.”
“Agung Sedayu bersikap bodoh? Benarkah itu?” seringai Ki Tunggul Pitu menyertai ucapannya. “Bagaimana kau dapat menelantarkan Swandaru dengan berjuang keras mencari kitab gurumu? Bagaimana kau dengan sengaja membiarkan kitab itu lenyap demi keselamatan Swandaru? Sungguh, pilihanmu hanya membuatmu seperti orang buta yang kehilangan tongkat. Kali ini engkau tidak dapat menggunakan nalarmu dengan jernih, Ki Rangga.”
“Aku tahu.”
“Semestinya engkau dapat membunuhku, lalu keduanya akan menghilang selamanya dari hidupmu.” Ki Tunggul Pitu bersuara dengan nada serasa dapat mengendalikan angin. “Namun, itu bukan satu-satunya pilihan bagimu saat ini. Engkau terperangkap dalam kesulitan karena ketinggian hatimu. Engkau tidak mau berbagi dengan kami tentang ilmu-ilmu dari gurumu. Maka, seperti yang kau lihat, kehilangan benda paling berharga dalam hidupmu adalah alasan untuk menutup kelemahanmu. Mungkin kau akan berkata pada setiap orang bahwa engkau telah lengah dan ceroboh, tetapi apakah semudah itu memberitahu mereka? Bagaimana jika tiba-tiba Swandaru muncul di suatu tempat lalu bertanya padamu tentang kitab itu? Ya. Diam dan merenung adalah kebiasaanmu yang tak akan hilang.”

Rahang Agung Sedayu mengeras menahan lontaran kata yang akan keluar dari bibirnya. Ia terpukau dalam kemarahan tetapi ucapan Ki Tunggul Pitu dapat diterima oleh akalnya. “Bila aku bertanya apa yang kau inginkan, itu adalah pertanyaan yang salah.” Agung Sedayu menghela napas dalam-dalam tanpa menggeser kakinya. Ia selalu menjaga ketenangan, namun kala itu Agung Sedayu terombang-ambing tentang nasib Swandaru dan juga kitab gurunya. Sungguh, bagi senapati Mataram itu, memilih salah satu dari kedua pilihan itu sama seperti mengambil air dengan daun berlubang.

“Ki Rangga,” kata Ki Tunggul Pitu, “bertanya bukanlah sebuah pantangan yang harus kau hindari. Justru pertanyaan itu adalah cermin dari semangatmu untuk menyelamatkan kakak dari istrimu dan peninggalan gurumu.” Hujan masih berlangsung dan bunyi air tidak kuasa meredam suara kedua orang itu. Masih dengan tangan bersilang di depan dada, Ki Tunggul Pitu meneruskan ucapannya, “Mengeluarkan kemarahan pada saat seperti ini, saat air deras mengucur, saat udara masih dingin, tentunya akan meledakkan semua kemampuanmu melebihi perkiraanmu sendiri. Bisa jadi kau engkau termasuk orang yang berpikiran bahwa menahan marah adalah perbuatan bijaksana. Menurutku, itu pikiran dungu. Marah adalah bagian dari kematangan orang yang selalu mengolah pikiran. Aku yakin ada semangat dalam kemarahanmu tetapi apa yang aku lihat sekarang? Hanya seorang lelaki manja. Hanya lelaki manja. Aku akan menunggumu, Agung Sedayu. Engkau bukan orang yang mudah meletakkan telapak tangan di permukaan tanah dan aku? Barangkali kau segera dapat memahamiku dengan sebenarnya.”

“Cerdik,” batin Agung Sedayu. Ia harus mengakui ketajaman pikir Ki Tunggul Pitu yang mampu mengiris setiap bagian pikirannya. Sikap Ki Tunggul Pitu yang terus terang mengungkap kenyataan yang bertolak belakang dengan kebanyakan orang adalah keberanian yang harus dipuji, pikir Agung Sedayu. Kemudian kata Agung Sedayu, “Ki Tunggul Pitu. Kita cukup lama beradu pandang, mungkin kau mengalami kelelahan. Aku dapat melihatnya sudut wajahmu. Itu cukup indah.”

“Diam!” bentak Ki Tunggul Pitu. Meskipun suaranya mampu memecah kerapatan bunyi air hujan tetapi sikapnya masih tenang, atau mungkin tidak peduli dengan tanggapan Agung Sedayu.

“Itulah semangat, Ki Sanak,” Agung Sedayu bersuara lunak. “Hentak udara yang keluar darimu bukan seperti kantung air yang mengempis. Aku dapat merasakan itu. Ya. Aku tahu engkau sedang bersemangat setelah berpikir berhasil menjebakku dalam permainan kata-katamu.”

“Tunggu, Agung Sedayu, tunggu.” Kedua telapak tangan Ki Tunggul Pitu berada di depan pusarnya dan mengarah pada Agung Sedayu. “Aku tidak berpikir telah menjebakmu. Itu kesalahanmu mengartikan semuanya. Pertama, aku harus mengakui engkau cukup tangguh dengan segala yang aku katakan. Kemudian engkau tidak memberiku jalan untuk melakukan penawaran. Jujur, itu adalah bagian lain dari kelemahanmu sebagai peragu. Hingga sekarang, aku hanya bertemu dengan kebuntuan tetapi aku yakin engkau tidak memilih karena sifatmu yang selalu ragu-ragu.”

Agung Sedayu memang menunggu Ki Tunggul Pitu berpusar dengan banyak kata ketika bulan tertutup oleh awan malam. Namun ketika Ki Tunggul Pitu menyebutnya sebagai peragu, Agung Sedayu melihat kebenaran dari ucapan sekutu Panembahan Tanpa Bayangan itu.

Related posts

Leave a Comment