Lockdown adalah Peluang untuk Menciptakan Kerusuhan

Opini

Setiap kebijakan tentu saja selalu membawa dua akibat. Baik atau buruk. Pemerintah Republik Indonesia pun tidak lepas dari pilihan-pilihan sult dalam setiap pengambilan kebijakan, bahkan untuk mengatasi pandemi Covid-19.
Banyak orang yang menganjurkan agar Presiden Joko Widodo segera memberlakukan lockdown, namun tidak sedikit yang menyuarakan siasat yang berbeda.

Negara ini mempunyai wilayah yang sangat luas. Dengan keadaan yang terdiri lebih banyak kepulauan, maka wacana lockdown ini memiliki potensi bahaya yang menyeramkan. Salah satu di antara bahaya lain yang mengintai, selain corona, adalah putusnya rantai distribusi sembako.

Skenario terburuk adalah penguasaan aliran sembako oleh sekelompok orang yang beratasnama karantina wilayah atau lockdown dengan pemutusan aliran sembako.

Boleh jadi keadaan ini telah terjadi di banyak tempat. Mungkin juga belum terjadi. Di sisi lain, tidak menutup kemungkinan keadaan sulit ini dimanfaatkan untuk memetik keuntungan. Banyak celah, di antaranya adalah penimbunan alat perlindungan diri dan rantai sembako. Kemudian keadaan akan mudah dikembangkan menjadi chaos/kerusuhan atau benturan sosial.

Ada biaya yang jauh lebih mahal meski ada seorang kepala negara yang, kurang lebih, mengatakan, “Lebih sulit untuk menghidupkan mereka yang telah mati.”

Namun kita harus tahu bahwa corona bukan sekedar masalah hidup atau mati. Tidak ada seorang pun yang mempunyai cita-cita untuk mati dalam keadaan menderita corona. Itu pemikiran waras, bukan? Berarti ada sesuatu yang jauh lebih besar dari itu. Sederhana penjelasan adalah : apabila karantina wilayah akhirnya membuahkan kerusuhan, sedangkan corona belum teratasi, itu artinya ada masalah baru yang jauh lebih sulit. Meredam kemarahan karena lapar dan menyembuhkan corona.

Tetapi jika kebijakan itu bersifat : pembatasan sosial dalam skala lebih besar, ini pencegahan tetap menjadi pencegahan yang tidak menjurus tindak bunuh diri massal.

Hey Bung! Lalu bagaimana dengan beberapa politikus yang menganjurkan penguncian wilayah? Itu mungkin karena mereka telah mengamankan perut mereka untuk tiga bulan ke depan, karena mustahil mereka akan turut serta dalam bunuh diri massal.

Maka sepatutnya untuk diwaspadai apabila ada pihak yang getol menyuarakan lockdown. Sebenarnya pembatasan jarak fisik dan memghindari kerumunan massa adalah obat mujarab.
Selain berdoa tentunya.

Tetapi dengan gencarnya gema “korban meninggal akibat corona” harus ditanggapi dengan cara lain. Kemungkinan lain yang muncul dari kampanye “mati karena corona” adalah kepanikan massal.

Contoh buruk yang dapat menjadi cermin adalah hilangnya masker saat corona merebak. Ini sesuatu yang tidak masuk akal karena pada bulan Januari 2020, masker masih mudah didapatkan di toko ritel modern atau pasar rakyat. Namun segalanya berubah ketika memasuki bulan Pebruari 2020. Masker dan alkohol serta antiseptik menghilang dari pasaran sebelum corona gencar diberitakan. Tuhan melindungi Indonesia!

Kekacauan tidak terjadi secara masif, masker bukan sembako, APD bukan pengisi perut. APD adalah alat vital bagi tenaga medis dan itu akhirnya dapat diatasi dengan kerja keras elemen bangsa yang rela berjibaku mencari, membuat, menyediakan, mengirimkan APD pada pahlawan yang bergerak di balik dinding rumah sakit.

Terima kasih , Kawan!

Ketika penguncian wilayah digemakan oleh sekelompok orang, mungkin beberapa penimbun telah melakukan gerakan sapu bersih pasar. Mungkin sejumlah preman telah bersiap mengadakan aksi karena setiap kemarahan sosial, terutama yang terkait dengan perut, selalu mudah menularkan ledakan dan dapat menjadi minyak pembakar yang dapat menghanguskan bumi pertiwi.

“Negara tidak boleh membiarkan kelaparan menjadi wabah baru yang membahayakan. Negara tidak boleh mengizinkan kerusuhan yang mengatasnamakan hak asasi untuk sebuah tujuan yang berbahaya seperti menggulingkan pemerintah yang sah,” demikian dikutip dari Santoso.

Demikian.

Related posts

Leave a Comment