loading...

Ketika Durna Tersesat Pikir

Opini

Durna dan gerombolannya memang selalu mampu membuat kejutan. Hari ini mereka mengajukan protes pada Mahkamah Norma di kotaraja. Beramai-ramai gerombolan memasuki ruang pengadilan Mahkamah Norma negara Wilwatikta. Protes mereka pun diterima oleh Hakim Abimandi.

Singkat kisah, rakyat Wilwatikta bertanya mengenai alasan Drona. Penduduk negeri benar-benar tidak mengerti kemauan atau jalan pikiran Durna.

“Logika sesat!” kata warga bertubuh kurus.

“Sesat nalar,” teriak orang berjanggut tipis.

“Penyimpangan kelamin,” lantang lelaki berkepala gundul ketika kawanan melintasi warung physical distancing.

“Kok penyimpangan kelamin?”

“Lha ya toh, Bro. Wong negeri sedang ada pageblug, eh ini malah ada wong gebleg bikin masalah. Kan itu mirip kuda laut.”

Opo maneh iki? Kok ada kuda laut?”

“Begini,” orang berkepala gundul berkata, “pejantan kuda laut itu kan bisa hamil. Itu artinya ada kemungkinan Durna mempunyai niat tersembunyi di balik gugatan itu.”

Peraturan di Wilwatikta memberi izin pada kepala negara untuk menyatakan keadaan negara. Aman atau dalam bahaya. Maka dalam penilaiannya, Jack The Lord of Wilwatikta yang biasa dipanggil sebagai Jokowi, telah membuat kesimpulan bahwa negaranya dalam bahaya.

“Ya jelas bahaya. Lebih bahaya dari santet, guna-guna, teluh istri muda dan dedemit,” seloroh Gareng usai membaca salinan keputusan Jokowi yang ditempelkan di alun-alun. Ia mengulangi ucapannya, kali ini dengan suara yang sangat keras, itu dilakukannya pada saat Durna melewatinya. Namun Durna dan geromblannya tidak menggubrisnya. Bisa jadi, mereka menganggap Gareng hanya satu dari ribuan lalat yang berkeliling di sekitar selokan pembuangan.

“Baiklah. Aku akan mengatakan terus terang pada kalian,” ucap Gareng pada orang-orang yang memandangnya dengan sorot mata mumet.

“Pandemi adalah wabah yang menjangkau wilayah yang lebih luas dari wilayah sebuah negara. Pandemi atau pageblug  mampu melintasi batasan-batasan yang dibuat oleh manusia. Seharusnya Durna menyadari hal ini, tapi agaknya ia terlalu dungu untuk menggunakan otaknya.

“Pandemi bukan gambaran dari bahaya yang dapat ditimbulkan, tetapi jangkauan. Ini bicara mengenai penyebaran, penularan dan kerasukan. Aku katakan kerasukan karena roh pandemi ternyata salah sasaran merasuki orang.”

“Apakah kamu akan mengatakan bahwa Durna kerasukan roh pandemi?” bertanya Hakim Abimandi yang ada di dekat Gareng.

“Tentu saja.” Gareng lalu  meneguk wedang pokak. Ia melanjutkan lagi, “Jika bukan kerasukan, lalu istilah apa yang tepat? Ketika banyak orang berjuang dan bertahan dari gempuran pageblug dan berusaha untuk tidak jatuh dalam perilaku gebleg,  Durna seolah menunjukkan bahwa ia kebal terhadap pageblug. Dan itu adalah cermin kejiwaan yang buruk. Sangat buruk.

“Durna pernah kerasukan siluman penunggu gedung karaoke. Ia tidak dapat menjawab suara Arjuna yang kalah oleh Bambang Ekalaya. Tanpa pengadilan dan dengan mengandalkan rasa hormat Bambang Ekalaya yang telah menjadikannya guru secara gaib, Durna menghukum Bambang. Satu jempol Bambang Ekalaya menjadi tumbal kebodohan Durna dan keserakahan Arjuna. Tentu hukuman semacam itu akan membawa karma atau akibat,” Gareng menghentikan ucapannya.

Orang-orang ndlahom.

“Durna akan menerima karmanya. Bambang Ekalaya akan datang untuk mengantarnya ke lembah binasa.” Tiba-tiba Gareng berdiri.

“Bagaimana mungkin sebuah gugatan dapat menjadi senjata makan tuan?” orang-orang bergumam.

“Mengapa tidak? Bambang Ekalaya adalah korban dari kedunguan seseorang. Menggugat keadaan bahaya akan menjadi tindakan bodoh yang abadi karena telah ditulis oleh sejarah. Mungkin Durna berpikir dia akan muncul sebagai jawara sebagaimana perasaan Arjuna yang merasa menang ketika  melihat ibu jari Bambang Ekalaya terlepas, tetapi hakekatnya adalah gugatan itu sebenarnya penolakan keadaan bahaya, dengan kata lain, Durna berpikir bahwa segala sesuatu masih aman terkendali. Sudah pasti itu adalah pikiran yang tidak terukur. Karena pageblug berbeda dengan panu atau telur kutu. Pageblug adalah pageblug dan selalu ada bahaya yang terpendam.”

“Lha terus?” orang-orang bertanya penasaran.

“Entahlah. Aku kok tiba-tiba merasa lapar,” jawab Gareng sambil keluar dari kerumunan orang.

Related posts

Leave a Comment