Prosa Liris

Aku adalah seorang adipati. Namun aku bukan bawahan Dursasana, bukan orang kepercayaan Drestarata, bukan pula murid terbaik Sengkuni.

Itu dulu.

Aku bukan Karna. Karna adalah orang yang luar biasa. Ia mempunyai martabat yang sulit dijangkau adipati lain. Duryudana jatuh hati padanya karena sikap perwira Karna. Ksatria sejati.

Tetapi itu adalah Karna, bukan aku.

Aku dikenal sebagai “bukan siapa-siapa” yang menjadi “apa-apa”. Dan kini aku kembali berperan dengan lakon “bukan siapa-siapa.” Meskipun demikian, aku adalah orang yang mampu menyusun siasat gerilya. Pukul dan lari telah menjadi darah dagingku.
Menurutku, bila ada lelaki tangguh dan jantan serta cerdas bersiasat, maka orang itu pasti mempunyai nama. Demikian pula yang seharusnya ada padaku.

Namaku adalah Sawung Telo. Seorang adipati, tapi dulu, yang masih menyimpan kenangan untuk menggapai kembali kejayaan yang pernah ada dalam genggam. Pada sebuah gelanggang, aku ingin kembali bertarung. Menarik busur, melontarkan tombak dan menempatkan serdadu sesuai siasatku.

Hanya saja, hanya saja, seorang lelaki tiba-tiba muncul dan menuduhku sebagai pecundang. Ia mengatakan hal yang benar tentangku. Aku adalah keluaran Sengkuni terbaru, itu yang ia katakan dalam tulisan ini.

Sial! Aku menjadi geram. Ia menulis sedikit mengenai diriku, tentang kedalaman watak dan perilaku yang menempel padaku.

Kita kembali ke gelanggang dan meninggalkan lelaki pecundang itu seorang diri.

Dari tepi gelanggang, aku mengajukan tiga atau empat nama agar maju untuk merebut perhatian Yudhistira. Orang-orang yang bakal bertarung ini adalah orang kepercayaanku. Aku tidak perlu memegang kendali sebuah kadipaten. Cukup bagiku mengambil peran sebagai king maker.

“Meraih kembali hati rakyat Wilwatikta tentu bukan pekerjaan mudah,” aku berkata di depan mereka, orang-orang yang aku perintahkan untuk bertarung, pada enam malam silam.

Mereka memandangku dengan tatap mata kosong. Hampa. Mereka seperti mayat hidup yang tidak melupakan rasa lapar.

“Satu kurun waktu telah aku jalani tanpa menyapa mereka. Tentu saja itu akan menjadi sesuatu yang dapat dipertentangkan. Kalian mengerti?” tanyaku.

Kepala yang bergeleng menjadi jawaban bagiku.

Seorang perempuan yang mirip Btari Lindu, kata orang, mencoba membuka mulut tapi ia urungkan. Namun aku mengerti isi hatinya. Btari Lindu? Aku pikir itu nama yang tepat untuknya.

Sejumlah orang berusia muda menolak untuk mendukungnya. Mereka bilang, “Ini pembodohan yang membodohkan banyak orang yang telah bodoh karena keadaan.”

Nanti dulu!

Tahan!

Aku ingin menjelaskan pada kalian, anak-anak muda dungu!

Btari Lindu adalah perwujudan kalian di masa sekarang ini. Mungkin benak kalian telah menilai bahwa ia adalah reinkarnasi masa lalu, tetapi aku tegaskan : Tidak. Perempuan itu bukan masa lalu yang kembali untuk menjajah masa depan. Ia ada karena dibutuhkan.

Lalu aku mendengar mereka mencemooh. Gila. Itu cara menolak yang paling gila.

Related posts

Leave a Comment