Kegalauan Sang Oportunis – Tamat

Prosa Liris

Aku tidak ingin menyudutkan ayah dan ibuku dengan kalimat, “Mereka tidak memberi pendidikan budi pekerti.” Atau semacamnya. Sekali-kali tidak. Itu adalah kisah Sengkuni apabila diikuti hingga akhir. Sedangkan aku adalah Sengkuni terkini. Aku tidak membutuhkan pengajaran moral atau tata karma karena dua kebutuhan dasar itu telah aku kenal sejak puluhan tahun silam.

Bila Sengkuni begitu bodoh karena tidak tahu alasan Keswara menyisihkannya, aku adalah kecerdasan yang berbeda. Aku mengerti ketika mulai disisihkan dari belantara lalu mendekati dinding istana. Aku menyadari keadaan telah beralih angin. Musim telah berganti dan aku berada di garis horizon. Sesaat lagi aku akan tenggelam, tapi aku bukan pecundang!

Aku tidak ingin menyerah. Maka aku kerahkan segala daya agar tetap muncul di permukaan. Btari Lindu dan Arnanjaya adalah anak panah terbaik.  Arnanjaya, lelaki yang menerima perlakuanku seperti Pendeta Durna dengan Aswatama, akan mengalihkan pandangan ke alam yang berbeda. Meski Arnanjaya bukan anak kandungku tetapi ia mengerti dan akan membalas segala budi baikku. Lelaki ini adalah panah yang bermata. Ia menjadi puncak dan ujung dari segala siasatku. Arnanjaya harus mampu memecah dari dalam. Karena yang ia hadapi bukan sebutir pohon kelapa muda atau perawan muda usia, tetapi sebongkot akar bambu yang berusia puluhan tahun. Btari Lindu pun harus memiliki kemampuan setara dengan Arnanjaya. Ah, mimpi itu selalu indah dalam angan dan lebih nyaman bila dikhayalkan di warung kopi. Namun aku tidak sedang bermimpi. Aku sedang bekerja meski engkau akan menganggapku bekerja di dalam mimpi.

Biarlah. Persetan dengan kalian!

Persamaanku dengan Sengkuni adalah kami sama-sama mengidap salah tingkah. Ini bukan kelakar. Sengkuni dengan segala kesalahan dan gede rumangsanya meyakini akan menduduki jabatan patih. Lantas kedudukan itu dipercayakan pada Sarabasata, kemudian Sengkuni? Ia merasa tersudut, disudutkan atau menyudutkan diri? Semuanya ada di dalam benak dan perasaannya. Itu bukti Sengkuni adalah orang dungu.

Sementara aku, ketika bergeser planet, dari orbit di gugus bintang Suralaya Sakti lalu berkendara asteroid menuju Jambaleka. Itu nama sebuah belantara beton yang dihuni berbagai manusia yang beragam jenis. Mulai yang mirip dengan Begawan Antalgin hingga Dewa Anonim. Namun aku tidak mempunyai rumangsa sebesar Sengkuni. Aku orang bermartabat. Aku menikmatinya karena aku tidak tersudut. Aku mencari tempat di sudut ruang, mengintai, mengendus lalu menerkam. Itu sebuah keindahan. Itu adalah anugerah, namun engkau tahu bahwa pengakuanku itu bohong!

Namaku Sawung Telo dan merasa cukup dengan kisah pendek ini pada kalian. Sampai jumpa!

Related posts

Leave a Comment