Bab 2 Jati Anom Obong

Ketika ia telah mencapai sebatang pohon untuk menyandarkan punggung, Ki Tunggul Pitu merasakan angin kemenangan begitu dekat. Hanya sejangkauan lengan menurutnya. Meski demikian, ia masih berkuat dalam kecamuk pikiran tentang Kitab Kiai Gringsing. “Jika aku mendapatkan pangkat yan glebih tinggi darinya, tentu itu akan membuatku lebih mudah menguasainya.” Tajam Ki Tunggul Pitu memandang Ki Hariman yang berjarak enam atau delapan langkah darinya. “Tetapi ia dapat melepaskan ikatan dengan Raden Atmandaru jika aku gagal mencegahnya menuju Madiun. Aku akan menetap pada lapisan ini jika ia benar-benar bertekad keluar dari Mataram.”

Melebihi kecepatan burung wallet atau setara dengan sambaran kilat, mungkin kurang dari sekejap mata ketika tubuh Agung Sedayu meluncur sangat deras lalu disambut dengan dua telapak tangan terbuka Ki Garu Wesi. Kurang dari sekejap mata menjadi ukuran waktu yang mustahil untuk melakukan satu perubahan meski sekadar arah karena benturan segera terjadi.

Tetapi yang menjadi lawan Ki Garu Wesi adalah lelaki yang pernah berlatih bersama Panembahan Senapati dan mendapat sedikit petunjuk dari Pangeran Benawa, maka Agung Sedayu dengan kelenturan yang sulit dinalar tiba-tiba berputar menggulung tubuhnya, mengubah kedudukan dua kakinya lalu secara mendadak Ki Garu Wesi harus menerima tendangan dua kaki yang erat melekat dan kokoh!

Seruan geram menggema di ujung mulut Ki Garu Wesi. Ini sesuatu yang mengejutkan dan belum pernah ia temui seumur hidupnya! Agung Sedayu ternyata mampu mengubah kedudukannya yang dianggap lemah menjadi sebuah kekuatan yang siap membentur tebing cadas lalu meruntuhkannya.Sebelum itu Ki Garu  Wesi memandang lemah Agung Sedayu yang melayang dan hanya mengandalkan serangan yang bertumpu pada dua telapak tangannya, namun perubahan yang luar biasa dilakukan olehnya dalam waktu kurang dari sekejap. Tidak ada pilihan bagi lawan Agung Sedayu selain menyilangkan lengan di depan dada.

Ledakan pun terjadi untuk ke sekian kalinya! Bebatuan kecil runtuh dari tebing sungai. Air tersibak dan dasar sungai telah membentuk satu lingkaran dengan garis tengah sepanjang dua langkah lelaki dewasa.

Agung Sedayu terpental, ia meletik dan melayang sedikit lebih tinggi, berputar, lalu kembali menghunjam Ki Garu Wesi dengan lambaran ilmu yang disesapnya dari rontal Ki Waskita.

“Hentikan!“ gelegar suara Ki Hariman menghantam udara. Satu dorongan angin yang sangat hebat tiba-tiba melesat seperti anak panah menerjang Agung Sedayu.

“Curang!” teriak Sabungsari sambil melompat untuk menghadang laju angin pukulan Ki Hariman, tetapi ia dapat ditahan oleh Ki Widura.

Sambil menggeleng, ayah Gagah Putih bergumam, “Engkau akan jatuh lebih parah. Dan, lihatlah.” Ia menunjuk sebuah benda yang teracung dari tangan Ki Hariman.

Gelombang dahsyat tenaga cadangan Ki Hariman telah menggoyang tubuh Agung Sedayu. Ia mengibaskan tangannya ke samping untuk menolak inti pukulan yang menderu. Benturan sangat keras terulang kembali!

Sekilas ia melihat sumber serangan, dari ujung matanya, Agung Sedayu dapat melihat benda berbentuk persegi, benda itu menarik perhatiannya. Keluwesan Agung Sedayu dalam menghadapi persoalan telah menyurutkan kemauannya untuk memukul Ki Garu Wesi dengan hantaman terakhir. Maka Agung Sedayu membiarkan tubuhnya terdorong angin, bahkan ia menggunakan ilmu meringankan tubuh agar pendaratannya sedikit jauh dari tempat Ki Garu Wesi yang masih terhuyung mundur.

Sejenak setelah ia mendaratkan kakinya, Agung Sedayu membuka suara, “Apakah yang kau pegang itu adalah kitab guruku?” Nalar tajam senapati pasukan khusus ini segera bekerja. Nalurinya mengatakan demikian dan ia merasa sesuatu yang aneh memancar dari benda persegi yang berada dalam genggam Ki Hariman.

“Apakah kau dapat mengenalnya?” Ki Hariman balik bertanya. Kali ini ia berpikir untuk mengulur waktu agar tiga orang Jati Anom itu terhalang untuk pergi ke pedukuhan.

Sedikit tengadah Agung Sedayu melihat kebakaran yang melanda Jati Anom. “Ayah,” desis Agung Sedayu mendadak teringat rumah yang telah menjadi teman setia selama belasan tahun sebelum ia tiba di Tanah Perdikan Menoreh. Kenangan itu kembali. Ingatan ketika Untara sedang menggodanya, ketika ayahnya mengajarinya, ketika ia berada dalam tuntunan ibunya. Semuanya kembali dan seperti terlihat jelas melekat dalam benderang kobaran api.

Tiba-tiba keluar tiga wujud Agung Sedayu lalu menerjang tiga orang suruhan Raden Atmandaru dengan gebrakan yang sangat dahsyat.

“Tidak pantas engkau bermain-main seperti ini, Senapati!” geram Ki Garu Wesi. Ia mengerti bahwa tiga wujud itu hanya mempunyai satu bagian yang nyata. Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak karena satu bayangan Agung Sedayu datang melabraknya.

Ketika melihat dua tubuh Agung Sedayu keluar dari balik punggung suami Sekar Mirah, Ki Tunggul Pitu bersiap untuk menghentikannya dengan segala cara. Mendadak ia berubah pikiran. “Lebih baik Agung Sedayu tetap selamat, dengan begitu, aku mendapat seorang sekutu.”

Tidak ada yang diperbuat oleh Ki Hariman selain melompat panjang untuk menghindari pukulan jarak jauh Agung Sedayu. Setelahnya, Ki Hariman hanya memandang kosong dan pertanyaan besar muncul dalam benaknya. “Bagaimana ia dapat melepaskan pukulan sedahsyat itu melalui bayangan semu? Seolah tidak ada yang berkurang darinya meski keluar tiga ilmu sekaligus. Apakah Agung Sedayu itu makhluk jejadian?” Namun ketika ia sadar, tubuh asli Agung Sedayu telah menjauh dengan kecepatan yang mengagumkan. Di belakang senapati pasukan khusus itu telah menyusul Sabungsari dan Ki Widura yang berlari dengan cepat meski bersusah payah. Tiga tubuh itu segera lenyap di balik rerimbun tanaman yang rapat.

Agung Sedayu melesat deras, ia seolah terbang dengan kecepatan melebih Iontaran anak panah. Berbagai potongan bayangan masa lalu silih berganti melintasi jalan pikirannya. Kemauannya untuk menyelamatkan yang tersisa dari setiap yang menjadi bagian ingatan telah mendorong Agung Sedayu meluncur lebih cepat. “Ini bukan tentang rasa takutku menghadapi tiga orang asing itu… Ini tentang  cintaku, tentang kenangan dan pengajaran ayah ibuku. Kita akan bertemu kembali, para pesuruh! Kita pasti bertemu lagi!”

“Kebakaran itu apakah berarti pasukan kita telah memasuki Jati Anom?” tanya Ki Garu Wesi seraya berjalan mendekati Ki Hariman. Terlihat Ki Tunggul Pitu juga mengayun langkah untuk berkumpul dengan dua kawannya.

“Belum.” Ki Tunggul Pitu memandang ke arah kebakaran. Ia berkata lagi, “Kebakaran itu adalah pertanda bahwa Raden Atmandaru telah berada di dekat Lemah Cengkar.”

Ki Hariman menebar pandang sekeliling kemudian katanya, “Tidak ada yang tersisa selain kita bertiga. Tidak ada mayat Aung Sedayu karena kita gagal menghentikannya. Tetapi kita telah sama mengetahui kehebatan murid Kiai Gringsing itu. Kita mengalaminya sendiri. Bahkan setiap orang dari kita telah merasakan kekuatan yang sangat luar biasa. Dan itu berarti Raden Atmandaru akan menghadapi kesulitan yang sepertinya tidak dapat diperkirakan.”

“Kewajibanmu untuk mengatakan itu di hadapan orang-orang yang telah dipercaya beliau menjadi senapati,” sahut Ki Garu Wesi dengan kemarahan ditahan. Mereka telah melepas tiga orang yang dipercaya akan membuat kesulitan jika Penambahan Tanpa Bayangan telah menjatuhkan perintah untuk menyerang.

“Tetapi kedatangan Agung Sedayu memang telah mengubah yang kita harapkan,” sahut Ki Tunggul Pitu seakan mengerti jalan pikiran dua kawannya, “meski begitu aku masih belum mengerti alasan saat Ki Hariman menyerangnya dengan setengah hati.”

“Jagalah bicaramu,” tukas Ki Hariman. Ia memilih tidak meneruskan ucapannya saat melihat sorot mata aneh dari Ki Tunggul Pitu.

 

Bersambung ke bagian tiga Kitab Kiai Gringsing dengan judul “Membidik.”

Related posts

Leave a Comment