Bab 2 Jati Anom Obong

Pertimbangan kemanusiaan atau sedikitnya rasa kasihan telah menghilang dari sanubari Ki Hariman. Pria yang bersih dari kumis dan bulu lainnya ini tidak menampakkan sebagai orang yang kejam. Bahkan setiap orang yang melihatnya akan mengira jika Ki Hariman adalah orang yang mudah bergaul dan ramah. Tidak akan ada orang yang berpikir bila orang ini akan menghabisi lelaki renta seperti Ki Widura, meski dalam gelanggang perkelahian.

Tetapi Ki Widura bukan orang yang biasa menujukkan dirinya untuk dikasihani. Sebaliknya, dalam pertarungan itu, Ki Widura menunjukkan ketinggian harga diri dan martabatnya. Sekalipun kulitnya telah terkoyak, darah telah semburat membasahi pakaiannya dan tenaga yang kian melemah, Ki Widura tetap mampu mempertahankan wibawanya sebagai singa Jati Anom.  Tidak banyak kesempatan baginya untuk membalas serangan atau sekedar menghadang ujung tombak Ki Hariman, tetapi lawannya benar-benar menggencarkan serangan-serangan yang dahsyat dengan ragam gerak yang luar biasa.

Ki Widura sekali-kali terpental lalu terjatuh. Namun ia selalu cepat bangkit dan meneruskan perkelahian meski lawannya datang dengan badai yang ganas.

“Semuanya mundur!” gelegar suara yang berbarengan dengan sekelebat bayangan memasuki wilayah sungai. Lelaki itu datang dengan kekuatan yang nyaris tidak terlawan, ketika menghentak senjata untuk melindungi Sabungsari dari tendangan Ki Tunggul Pitu yang mengarah pada dadanya.

“Agung Sedayu!” desis Ki Tunggul Pitu.

Bagi orang-orang Jati Anom, kedatangan Agung Sedayu adalah kejutan yang menjadi berkah. Mereka mengerti kedudukan pertempuran yang tidak seimbang. Mereka melihat Ki Widura dan Sabungsari mengalami tekanan hebat, bahkan kematian hanya berjarak seujung jari dari leher keduanya. Oleh sebab itu, dada mereka kini serasa lebih lapang untuk menghirup udara malam.

Sedangkan ketiga orang pengikut Raden Atmandaru tidak menunjukkan perubahan pada raut wajah mereka. Kemunculan Agung Sedayu bukan sebuah halangan yang harus dihindari. Walau tersentak karena ujung cambuk Agung Sedayu mendadak muncul lalu berusaha menebas pergelangan kakinya, Ki Tunggul Pitu justru bersorak gembira dalam hatinya.

“Aku sangat senang melihatmu ada di tempat ini, Agung Sedayu,” kata Ki Tunggul Pitu, “tidak ada kebahagiaan lain bagiku selain membuatmu menderita lalu mati perlahan.” Ia menarik mundur serangan tapi mengalihkannya pada lawan yang baru datang, namun Ki Garu Wesi tidak berhenti karena Agung Sedayu. Ia cepat mengambil langkah memutar, lalu menyusup pertahanan Sabungsari yang lemah di bagian kanan. Kepalan tangannya menyentuh bagian tubuh di bawah ketiak. Sabungsari terpental, tubuhnya terlontar, sedikit melayang lalu terkapar dua langkah dari tempatnya semula.

Agung Sedayu tidak dapat membendung hantaman Ki Garu Wesi, karena Ki Tunggul Pitu menghujaninya dengan tendangan memutar yang datang bertubi-tubi. Sekilas Agung Sedayu memandang keadaan Sabungsari. Tapi ia tidak dapat mendekati kawannya itu, Agung Sedayu terhalang oleh derasnya hujan serangan Ki Tunggul Pitu.

Malam menjadi sedikit lebih pekat ketika senapati pasukan khusus ini berada di ambang bimbang.

“Apakah Sabungsari dapat menggerakkan tubuh?” Agung Sedayu bertanya pada dirinya sendiri. Sekilas ia melihat keadaan Sabungsari yang rata dengan aliran sungai. Wajah Sabungsari terbenam! Walau begitu, ketajaman penglihatan Agung Sedayu menyatakan bahwa dada lurah prajurit jati Anom itu masih bergerak.

“Air akan membuatnya bangkit kembali,” kembali Agung Sedayu bergumam tanpa suara. Tidak membutuhkan wakltu lama untuk menunggu kelanjutan dari harapan Agung Sedayu. Sabungsari terbatuk dan itu pertanda bahwa ia masih hidup.

Bersamaan dengan pengamatannya pada Sabungsari, Agung Sedayu terus menerus memutar cambuk dan embentuk selubung pertahanan yang sangat rapat dan ketat. Seperti air huja yang jatuh menimpa atap, seperti itu pula serangan gencar Ki Tunggul Pitu terpental. Tetapi keadaan itu bukan satu keuntungan bagi AGung Sedayu. Ia harus menimbang keselamatan orang-orang Jati Anom yang berjajar di tepi sungai.

“Apakah engkau bermaksud untuk menuntaskan pertemuan kita di Menoreh, Ki Rangga?” bertanya Ki Tunggul Pitu.

Tapi Agung Sedayu mengabaikan ucapan musuhnya, ia meloncat surut lalu berpaling pada orang-orang Jati Anom dan berkata, “Kalian sebaiknya menjauh dan meninggalkan tempat ini.”

“Ki Rangga,” agak memaksakan diri ketika Ki Panuju menyahutinya, “perkelahian mereka belum selesai. Lagipula keluar dari pertempuran bukan bagian dari keprajuritan.”

Related posts

Leave a Comment