Bab 2 Jati Anom Obong

“Ki Widura telah jatuh. Ia akan roboh sesaat lagi.” Sabungsari sekilas mengamati lingkar perkelahian yang tidak jauh dari tempatnya berkelahi melawan Ki Tunggul Pitu. Pada saat Sabungsari tengah berpikir keras mencari jalan untuk menyelamatkan Ki Widura, tiba-tiba sekelebat bayangan telah mendahului jalan pikirannya.

Ki Garu Wesi!

Teman seperjalanan Raden Atmandaru ini tiba-tiba datang merangseknya. Lelaki bertubuh sedang dengan rambut tipis tumbuh di dagunya ini memasuki gelanggang tanpa aba-aba. Ki Tunggul Pitu  segera memberinya ruang, walau sebelumnya ia tidak suka dengan kemauan Ki Garu Wesi, tetapi ia dapat mengerti alasan temannya itu.

“Tentu saja semakin lama perkelahian ini berlangsung, Untara akan membawa seisi barak untuk meringkus kami semua, dan bila itu terjadi maka dapat dipastikan bahwa kami adalah orang paling bodoh di seluruh tanah Jawa. Kejayaan yang aku impikan akan musnah sebelum waktunya tiba.” Ki Tunggul Pitu tidak keberatan, agaknya seperti itu, bahkan ia berulang melemparkan pasir dengan kakinya pada bagian wajah Sabungsari.

Kelebat bayangan Ki Garu Wesi benar-benar menggiriskan!

Ia berloncatan menyambar, mematuk dan menghujani Sabungsari dengan serangan yang bergelombang seperti badai prahara. Saat itu, di tengah gelanggang, prajurit muda Mataram ini merasa seolah terkungkung di dalam dinding tebal yang bergerak untuk menghimpitnya.

Serangan Ki Garu Wesi menggedor pertahanan Sabungsari dengan cara yang lebih dahsyat dari Ki Tunggul Pitu. Sedangkan di bagian lain, kekuatan ilmu Sabungsari yang telah berhimpun di balik kedua mata seketika berbalik arah. Ki Tunggul Pitu yang menjadi bidikan telah tertutup oleh serangan ganas Ki Garu Wesi. Sulit, sangat sulit apabila Sabungsari memaksakan serangan melalui pandangan mata, sebab pada waktu itu ia harus terus menerus bergerak untuk menghindar, menjauh, atau sesekali melepas serangan balik pada Ki Garu Wesi. Sementara Ki Tunggul Pitu semakin gencar melontarkan pasir dan kerikil melalui kedua kakinya pada Sabungsari.

Benda-benda padat berukuran kecil itu telah berubah menjadi butiran besi yang dapat menembus kulit Sabungsari. Lontaran tenaga cadangan Ki Tunggul Pitu bahkan mampu menembus permukaan cadas batu hitam di tepi sungai. Seruan terkejut terdengar dari tepi sungai ketika hamburan kerikil mengeluarkan suara ledakan saat menyentuh sebongkah batu cadas.

Ledakan yang juga didengar oleh Sabungsari, maka ia kini semakin berhati-hati melawan dua orang berkepandaian tinggi itu.

Di lingkaran lain.

Ki Widura semakin membuktikan kekuatan hatinya. Ia sepenuhnya telah siap menghadapi segala kemungkinan. Ayah Galagah Putih ini sama sekali tidak berusaha menghindari benturan, bahkan sebaliknya, meskipun tidak dapat dikatakan bahwa ia selalu mencoba adu hantam tenaga. Orang yang dulu menjadi kepala prajurit di Sangkal Putung ini berkelahi dengan perhitungan-perhitungan yang cermat. Ditopang pengalaman panjang dan pemahaman yang cukup baik pada jalur ilmu Orang Bercambuk, Ki Widura, untuk sementara waktu, masih mampu menjaga jarak dari keganasan senjata Ki Hariman.

Meskipun pertarungan kian menjadi sengit, tetapi tidak seperti itu yang dirasakan oleh Ki Widura. Ia mengerahkan segenap kekuatan bukan untuk membunuh Ki Hariman. Ia memandang perkelahiannya sebagai jalan bakti untuk Jati Anom, Mataram dan segenap orang di sekelilingnya.

Hal yang berbeda terjadi dalam diri Ki Hariman.

Pengikut Raden Atmandaru ini merasa wajib untuk membunuh Ki Widura. Kematian paman Agung Sedayu akan memudahkan jalan baginya untuk menyelami isi kitab Kiai Gringsing. “Jika orang ini begitu tangguh dan sulit dikalahkan, lalu bagaimana denganku?” pikir Ki Hariman. Ia mempunyai kesimpulan dalam pikirannya, bahwa ilmu Ki Widura bukan sepenuhnya berlandaskan jalur Kiai Gringsing, meski demikian kekuatan yang ditunjukkan benar-benar merupakan milik lapisan orang yang berada di jajaran tinggi.

“Tentu saja murid Kiai Gringsing mempunyai kelengkapan yang lebih baik,” batin Ki Hariman yang semakin gencar dan tajam mengurung Ki Widura.

Ki Hariman bukan orang seperti KI Garu Wesi yang masih memberi kesempatan Ki Panuju untuk bernapas. Ki Hariman telah membekukan hatinya. Gejolak perasaannya hanya dipenuhi cara meningkatkan kepandaian atau ilmunya. Selain itu, tentu saja, ganjaran dan pangkat yang tinggi dari Raden Atmandaru apabila mereka berhasil merebut Mataram dari Panembahan Hanykrawati.

Related posts

Leave a Comment