Bab 2 Jati Anom Obong

Para gembala dan prajurit yang telah menepi tidak dapat mengucap kata selain seruan kagum. Termasuk Sabungsari dan Ki Widura yang berulang kali saling tukar pandang. Mereka telah menilai sekilas kedudukan perkelahian sebelum masing-masing terikat pertarungan di bagian lain. Lambat laun keduanya mengerti bahwa perkelahian telah berat sebelah.

“Apakah sebaiknya aku harus memasuki gelanggang mereka?” tanya Sabungsari di dalam hatinya. Ia dapat menilai kemampuan orang yang menjadi lawan Ki Panuju. “Jarak kemampuan mereka meski tidak terlalu jauh tetapi Ki Panuju akan menemui kesulitan dan itu dapat membunuhnya.”

Namun Sabungsari tidak dapat terlalu lama merenungi keadaan rekannya sesama prajurit, Ki Tunggul Pitu tidak memberinya banyak kesempatan. Lawan Sabungsari cepat bergeser maju memburunya dengan serangan-serangan yang sangat liar dan ganas.

Pada saat itu kembali suara Ki Garu Wesi kembali menggema, “Ki Lurah, apakah engkau tidak merasa sayang dengan dirimu sendiri? Tinggalkan perkelahian ini selagi aku memberimu kesempatan untuk menarik napas.”

Dan Ki Panuju menjawabnya dengan lecutan sandal pancing yang disusul putaran cambuk yang mengalir tanpa henti seperti banjir bandang. Namun ia lebih berhati-hati menghadapi Ki Garu Wesi yang seperti sengaja dengan mengeluarkan kemampuan secara bertahap.

Namun Ki Garu Wesi telah menyesuaikan diri. Ia benar-benar mengubah arah dan olah geraknya. Setiap kali Ki Panuju menyerangnya dan selalu disertai ledakkan yang memekakkan telinga, Ki Garu Wesi  selalu menggeser kakinya selangkah demi selangkah agar terus menerus menghadap lawannya dari depan. Maka jarang sekali Ki Panuju mendapatkan tempat terbaik dari samping maupun belakang musuhnya. Ia tidak lagi berlari, memutari lawannya atau meloncat panjang dan itu disebabkan oleh tulang pundaknya yang makin menyiksa.

“Orang ini sangat tangguh dan gila,” kata  Ki Panuju di dalam hatinya. “Ia selalu mendapatkan tempat di depanku. Sungguh menyulitkan karena geliat cambuk semakin terbatas!”

“Aku akan tersudut, “ gumam Ki Panuju di dalam hatinya. “Betapapun aku mengerahkan seluruh kemampuan namun sentuhannya pada bahuku ternyata mampu mengubah keadaan.”

Ki Panuju mencoba untuk mengamati keadaan hatinya dengan cermat, meski ia tengah bertarung hidup mati melawan Ki Garu Wesi. Ia menyadari rasa sakit yang mendera tulang pundaknya benar-benar membuatnya kewalahan untuk mengimbangi kecepatan gerak musuhnya. Namun menyerah itu bukan pilihan kata yang baik dalam hidup Ki Panuju. Ia bahkan tidak mengenal makna dari kata itu.

“Jika akhirnya aku harus mati dalam perkelahian ini, mungkin saja ia benar,” kembali Ki Panuju berucap dalam hati. Namun kali ini ada nada bimbang yang memberi warna. “Aku mati lalu dilupakan oleh orang. Tetapi itu juga tidak sepenuhnya benar. Bahkan mungkin ia sedang mempengaruhi keadaanku.”

Dan Ki Panuju telah membuat satu persiapan untuk menghentak seluruh ilmunya. Ia kembali menjadi seorang lelaki yang kokoh dan tangguh. Maka dari itu, ia mengabaikan rasa perih yang menggerogoti ulang lengannya. Seluruh petunjuk Ki Widura telah diikutinya dengan baik, tenaga cadangan dari jalur Perguruan Orang Bercambuk yang terbina dan tersimpan di dalam dirinya, mulai menyalur setiap jengkal senjatanya.

Di dalam batas lingkaran itu, KI Garu Wesi dan Ki Panuju telah berada di lapis terbaik kemampuan masing-masing. Air yang mengalir di sela kaki mereka pun menjauh, Seolah ada dinding yang tidak terlihat mata wadag telah membatasi arena perkelahian dua lelaki berkemampuan dahsyat ini. Para penggembala dan prajurit yang terluka bergeser menjauhi tepi sungai ketika udara aneh menerpa wajah mereka. Ya, terasa aneh bagi mereka karena kerap berubah. Panas silih berganti dengan angin dingin. Terlebih ketika permukaan sungai tak lagi memantulkan sinar bulan yang belum sepenuhnya bulat purnama.

Tetapi perubahan dan perkembangan yang terjadi di sekitar tempat Ki Panuju tidak dapat dipantau oleh Sabungsari. Ia masih berada dalam kebimbangan. Sabungsari sesekali melirik pertempuran itu sambil meladeni serangan gencar  Ki Tunggul Pitu. Sepintas pengamatan yang dilakukannya telah memberi satu kesimpulan bahwa Ki Panuju tidak dapat menguasai perkelahian. Harapan yang dimiliki oleh Sabingsari adalah lawan Ki Panuju akan membuat kesalahan. Namun ia sadar bahwa harapan itu semestinya tidak perlu ada. Sabungsari mengerti keadaan seluruhnya. Lawan Ki Panuju bukan orang yang baru saja berkelahi beradu dada.

Related posts

Leave a Comment