Bab 2 Jati Anom Obong

Tiba-tiba derai tawa Ki Garu Wesi nyaring terdengar. Sambil menunjuk serombongan orang yang menuruni tebing, ia berkata, “Lihatlah, tampaknya engkau segera mendapatkan bantuan. Tetapi aku serahkan padamu tentang perkelahian ini. Apakah kau ingin meneruskan perang tanding atau meminta mereka untuk bergabung bersamamu? Itu tidak menjadi masalah buatku.”

Ki Garu Wesi segera merendahkan kedua lututnya. Ia bersiap dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi.

“Ki Sanak, aku adalah orang Mataram!” Ki Panuju mengurai cambuk yang membelit pinggangnya. Seuntai cambuk dengan ujung sebuah belati kecil telah terjuntai hingga menyentuh permukaan sungai dangkal itu.

Sorot mata Ki Garu Wesi seketika berubah. Gemuruh dadanya makin bergolak. Dugaan pun muncul dalam benaknya, “Mungkin ia bukan murid Perguruan Orang Bercambuk tetapi bisa jadi ia telah mendapatkan sentuhan dari gurunya. Dan bila dugaanku benar, maka setidaknya aku akan mendapat bayangan kasar dari seluruh isi kitab itu.”

Ledakan menggema keras dan cukup mengagetkan hewan ternak dari para penggembala. Ki Panuju luput memperhatikan kehadiran para penggembala, dan tentu saja bunyi ledakan itu seketika mengacaukan gelar para gembala. Mereka berhamburan mengejar dan mengendalikan kerbau serta lembu yang berlarian ke segala arah. Tetapi dengan bantuan orang-orang yang menyertai Sabungsari dan Ki Widura, sekawanan ternak yang resah dengan ledakan pun dapat dikendalikan. Sementara di sisi lain, kekacauan itu memberi keuntungan besar bagi Ki Tunggul Pitu dan Ki Hariman. Satu demi satu penggembala terlempar dari lingkar perkelahian, dan keduanya mulai menguasai keadaan.

Meski  pada awal pergulatan, kedua orang asing ini tampak kewalahan namun mereka akhirnya mampu menguasai pertempuran yang tidak seimbang dalam jumlah. Keunggulan ilmu mereka yang jauh di atas para gembala serta Ki Panuju yang terlibat perang tanding, akhirnya menjadikan kedudukan tidak lagi seimbang meski perlawanan gembala masih demikian sengit.

Tetapi kedatangan Sabungsari dan Ki Widura membuat jalannya pertempuran kecil itu kembali menjadi sengit.  Kegesitan Ki Widura seolah tidak terpengaruh oleh usianya yang menapak senja. Ia segera mengikat salah seorang dari tiga pendatang, Ki Hariman. Perkelahiannya melawan Ki Hariman secara singkat telah meningkat tajam walau keduanya masih bertangan kosong. Sementara Sabungsari sigap menghadang laju Ki Tunggul Pitu yang memburu para gembala.

Dalam waktu singkat, tanpa diperintah atau dibicarakan lagi karena telah melihat bantuan yang datang, kawanan gembala mengundurkan diri dari gelanggang. Kedudukan mereka diambil alih oleh prajurit Mataram. Mereka berjajar memenuhi tepi sungai sambil memberi perawatan pada gembala lain yang terluka.

Dentum halus yang keluar dari ujung cambuk memberi tanda tersendiri bagi Ki Garu Wesi. Kemampuan Ki Panuju dalam penggunaan cambuk dalam perkelahian itu membuat Ki Garu Wesi berkata, “Ki Lurah, sebaiknya kau tidak berkelahi denganku seorang diri.”

“Aku telah salah menilainya sejak awal,” gumam hati Ki Panuju, “ia tidak seperti sedang menyembunyikan ilmu. Orang ini hanya berusaha menjaga keseimbangan dalam perkelahian ini. Lalu apa yang menjadi tujuannya dengan tidak berusaha mengalahkan dari awal?”

Tanpa sebuah aba-aba, tiba-tiba Ki Garu Wesi melayang, melesat deras dengan kedua kaki merapat pada lambungnya dan kedua lengan membentang seperti rajawali terbang. Sekilas pertahanannya terbuka lebar, bahkan dapat disebut sebagai kelemahan yang ditunjukkan dengan terang. Namun Ki Panuju tidak ingin terpancing. Sebaliknya ia menganggap olah gerak lawannya adalah sebuah jebakan agar ia menyerang bagian atas Ki Garu Wesi, maka ia memilih meloncat ke samping.

Tetapi di luar dugaannya, Ki Garu Wesi mendadak menjejakkan kakinya lalu memutar tubuh dengan dua lengan yang kemudian berputar-putar, menyerang bagian dada dan kepala Ki Panuju. Angin pukulan terdengar menderu-deru seolah angin prahara tengah melanda tempat mereka bertarung. Sungguh, pertarungan yang luar biasa! Cambuk Ki Panuju berusaha menutup gerak laju Ki Garu Wesi, tetapi selalu tertahan angin yang beriring menyertai kibas lengan lawannya. Walau demikian lurah prajurit Mataram ini mampu, dengan tangkas, mengimbangi kedahsyatan ilmu pengikut Raden Atmandaru. Kelebat keduanya semakin sulit diikuti mata biasa.

Related posts

Leave a Comment