Bab 2 Jati Anom Obong

Lingkungan sekitar perkelahian seolah merasakan gelombang kemarahan Ki Garu Wesi yang memancar dahsyat dari sela-sela jemari tangannya. Ia seperti menghisap seluruh kekuatan yang ada di sekitarnya. Ia merasa tenaganya semakin berlipat-lipat.

“Sial!” lengking suara Ki Panuju memecah gelombang kemarahan yang mulai menebar di sekelilingnya.

Dalam waktu itu, Ki Panuju tengah mengolah unsur yang diserapnya dari Ki Widura maupun barak prajurit sebelum angin panas menerpa pertahanannya. Perkembangan yang terjadi berikutnya adalah setiap langkah dari gerakan Ki Panuju menjadi landasan kuat yang mampu membatasi gerak laju lawannya.

Ki Panuju berpacu dengan gelap yang seolah makin cepat merambat tanah Jati Anom.

Semenjak perang tanding itu dimulai, Ki Panuju sebenarnya tidak bertarung sepenuh hati. Tiba-tiba ia merasa kehilangan sebuah pilar yang selama ini dijadikannya sandaran kokoh. Maka dari itu Ki Panuju, sepanjang pertempuran berlangsung dan di tengah-tengah kesibukannya memberikan aba-aba, terus menerus mencari pilar itu di kedalaman hatinya

“Aku hanya seorang prajurit? Lalu siapakah mereka yang setiap hari bertemu dan bertukar kata denganku?” Ki Panuju bertanya dalam hatinya. “Mereka bukan patung atau orang-orang lemah, bahkan mereka adalah sumber kekuatanku selama ini. Tetapi mengapa saat ini aku hanya merasa seolah perkelahian ini hanya sebatas tugas seorang prajurit?”

Ia telah kembali!

Kecintaannya pada Jati Anom dan semua orang yang hidup di dalamnya telah kembali. Ketegasannya ketika melatih para penggembala dan kelembutannya saat berada di tengah sawah juga telah kembali. Beragam jenis ilmu perlahan melebur di setiap pembuluh darah dan berpencaran ke segala bagian yang teraliri oleh darah Ki Panuju.

Pada saat kedua orang itu telah menemukan titik ledak yang menjadi alasan kuat untuk menopang pandangan hidup selama ini, maka mereka dengan keyakinan penuh telah meledakkannya.

Perkelahian menjadi semakin sengit. Ki Garu Wesi benar-benar menebar kengerian bagi lawan-lawannya yang masih dapat menyaksikan pertarungan mereka. Setiap kali ujung tangannya melewati batu sebesar kepala kerbau, maka yang terjadi adalah serpihan cadas ikut beterbangan mengikuti arah kibasan tangan.

Ki Panuju yang berkelahi tanpa senjata dapat merasakah kedahsyatan ilmu lawannya yang luar biasa. Benturan ilmu seolah tidak dirasakan oleh lawannya. Kadang kala Ki Panuju tiba-tiba merasakan seluruh kulit tangannya menjadi keras dan kaku. Sering kali ia harus menahan rasa nyeri walau mereka tidak sedang berbenturan.

“Jangan ragu untuk mengeluarkan senjatamu, Ki Sanak!” seru Ki Garu Wesi setelah melihat berulang kali sorot keheranan keluar dari mata Ki Panuju.

“Aku seorang prajurit Mataram, atas alasan apa aku berkelahi sementara engkau bertangan kosong?” sahut Ki Panuju. “Itu memalukan!”

“Sudahlah, Ki Lurah. Ini bukan masalah memalukan atau tidak, tetapi apakah engkau dapat terus hidup atau di tempat inilah engkau akan dikenang,” tukas Ki Garu Wesi. Lalu ia menambahkan, “Itupun jika mereka masih dan ingin mengingatmu.”

Di saat seperti itu, Ki Panuju tiba-tiba teringat sebuah ilmu yang dikabarkan telah dikuasai dengan baik oleh Agung Sedayu. Sejenis ilmu yang mungkin sama dengan milik Ki Garu Wesi. Walau demikian, Ki Panuju tidak merasa sedikit ringan. Ia tidak ingin dihinggapi perasaan telah mengenali ilmu lawannya. Bahkan atas pertimbangan tertentu yang diputuskan secepat kilat, ia kemudian setuju dengan ucapan musuhnya.

“Kekerasan tidak dapat selamanya dilawan dengan kekerasan pula.”

Tetapi dalam waktu kurang dari sekejap mata, musuh Ki Panuju telah menghentak serangannya lebih dahsyat. Sambaran telapaknya dapat menyentuh bagian pundak Ki Panuju meski hanya sentuhan ringan tetapi berakibat luar biasa. Dorongan tenaga inti yang keluar dari ujung jari Ki Garu Wesi mampu menghempas Ki Panuju hingga beberapa langkah surut.

Ki Panuju tidak lagi berkeinginan untuk mengambil jarak. Sebentang jarak yang tercipta dirasakan cukup olehnya untuk membalas serangan Ki Garu Wesi. Namun sedikit gangguan telah ia dapatkan. Tulang pundaknya serasa terbakar dan seolah retak karena benturan yang sangat keras, padahal jemari Ki Garu Wesi hanya menyentuh sedikit. Mungkin lebih tepat jika dikatakan mirip dengan belaian.

Related posts

Leave a Comment