Bab 2 Jati Anom Obong

Namun Ki Widura mengerti maksud dari lurah prajurit yang berusia di bawah Agung Sedayu itu, ia memberi jawaban kemudian, “Aku belum melihat suasana perkelahian, tetapi aku dapat membayangkan ketangguhan mereka. Engkau tentu mengerti, bahwa para peronda dan Ki Panuju bukan sekumpulan prajurit yang mudah ditaklukkan dengan dua puluh orang lapis pertama sebuah padepokan, tetapi, perkelahian itu telah berlangsung cukup lama.”

“Benar, bahkan terlalu lama apabila kita melihatnya dari segi jumlah,” sahut Untara seraya menengok kesiapan prajuritnya. Lalu, “Baiklah, mereka telah bersiap.” Ki Untara berpaling pada wajah pamannya dengan satu permintaan yang terbungkus dalam satau tatap mata.

Ki Widura menarik napas seraya bangkit dari tempatnya duduk. “Aku akan menemani Sabungsari.”

Sekejap kemudian Ki Untara telah melepas Ki WIdura, Sabungsari dan lima orang prajurit berkemampuan khusus meski tidak dapat dibandingkan dengan keahlian pasukan khusus yang dipimpin Agung Sedayu. Walaupun begitu, penguasaan ilmu mereka sudah berada di dalam lapis kewajaran untuk ukuran pasukan yang berjumlah cukup besar.

###

Pohon-pohon rindang telah menghalangi cahaya matahari yang masih berhasrat menjangkau permukaan sungai sewaktu beberapa penggembala telah tumbang. Mereka belum mati namun perkelahian telah meningkat semakin tajam ketika susunan gelar mulai timpang.

KI Garu Wesi benar-benar terperangah dengan kemampuan Ki Panuju, tetapi ia tidak berusaha menghindar atau mengalah untuk setiap serangan. Bahkan menurutnya, Ki Panuju adalah lawan yang sangat menarik. Maka perkelahian hidup mati itu dipandangnya sebagai satu kegembiraan. Keteguhan Ki Panuju mempertahankan ciri khusus laga prajurit seperti siraman minyak yang membakar gelora tandang Ki Garu Wesi.

Benturan kekuatan terjadi berulang kali, setiap kali salah seorang dari mereka menyerang maka lawannya akan menerima serangan dengan terbuka.

Pukulan beradu pukulan, tendangan bertukar tendangan.

Ketika seorang menjauh maka lawannya akan berkisar untuk menutup langkah pergerakannya. Saat mereka terpental karena benturan, maka cukup sekejap untuk kembali saling melibat dan membelit dengan kekuatan raksasa.

Dan pada saat itu Ki Garu Wesi berpikir bahwa kemenangan kecil di Jati Anom ini akan menjadi landasan baginya meraih tampuk lebih tinggi. Ia jujur mengakui dalam hatinya bahwa selama ini merasa dipinggirkan oleh Raden Atmandaru. Mereka berdua memang bukan baru berkenalan karena keduanya adalah teman lama dalam pengembaraan. Ki Garu Wesi, meski sering meragukan perkataan Raden Atmandaru tentang asal usul dirinya, mempunyai rasa hormat tinggi pada kawannya ini.

Suatu ketika.

“Aku tidak ingin ada pertumpahan darah di tanah yang mulia ini,” kata Raden Atmandaru padanya, “namun ayah tidak memberiku pilihan.”

“Saya tidak mengerti maksud kata-kata Anda,”

“Semua putra ayah mempunyai hak yang sama, dan sebenarnya apa yang ingin aku katakan padamu adalah sebuah rahasia. Mungkin bisa menjadi berita besar,” kata Raden Atmandaru dengan suara bergetar. Walau sorot matanya masih terlihat setenang permukaan air laut di pagi hari, tetapi air mukanya kesulitan menutup gejolak hatinya. Ki Garu Wesi melihat perubahan itu tetapi ia tidak berkata sedikit pun.

Sejenak Raden Atmandaru berdiam diri kemudian ucapannya berlanjut, “Ayah memilih kakang Mas Jolang yang berusia lebih muda daripada aku yang lahir pada waktu senja. Namun aku sendiri tidak pernah menerima atau merasakan sedikit dari yang semestinya. Ki Garu Wesi, aku adalah putra Panembahan Senapati dari seorang perempuan di sebelah selatan Mangir.”

Rasa terkejut hinggap di dalam hati Ki Garu Wesi meski sesaat.

Bagaimana aku dapat percaya keterangan darinya? Sedangkan aku baru mengenalnya beberapa tahun belakangan ini. Raden Atmandaru, aku tetap menerimamu sebagai teman baik setelah jarak pengembaraan ini membentang cukup panjang bagi kita berdua, Ki Garu Wesi membatin. Keheningan segera mendatangi mereka. Masing-masing larut dalam pikiran yang mungkin tidak akan dapat dipertemukan.

 

Related posts

Leave a Comment