Bab 2 Jati Anom Obong

“Aku pikir kau mengerti dan mungkin telah mempunyai dugaan mengenai keberadaan orang-orang itu di Menoreh,” tatap tajam Ki Untara beserta kalimat yang ia katakan dengan tegas mampu menembus dada Sabungsari.

Wajar jika ia seolah mengerti isi pikiranku karena memang seperti itulah cara berpikir seorang prajurit yang berpangkat tumenggung, pikir Sabungsari sambil membenahi duduknya. Kemudian ia berkata, “Anda benar, Ki Tumenggung. Saya sudah menyusun sebuah pengamatan tetapi sepenuhnya belum dapat diungkapkan dengan jelas.”

“Adakah engkau tengah menanti sesuatu?”

Sabungsari mengangguk. “Laporan yang disampaikan oleh para petani seolah menjadi pembenaran dari sebuah firasat atau dugaan, ya tepatnya sebuah dugaan.”

“Katakanlah.”

“Bukan kebetulan,” sahut Sabungsari, “atau…saya pikir tidak mungkin ada kebakaran yang terjadi bersamaan dengan perkelahian di rumah Ki Rangga Agung Sedayu tanpa disengaja. Dugaan saya adalah ada penggerak yang mumpuni hingga kita mendapatkan berita bahwa Ki Rangga bergerak menuju Sangkal Putung bersama Ki Swandaru. Dan tentu saja, segalanya adalah serba mungkin.”

Meskipun telah mempunyai perkiraan mengenai jalan pikiran anak buahnya, tetapi Untara memilih untuk menunggu. Adalah lebih baik jika ia mengungkap isi pikirannya sendiri. Sabungsari harus mampu membuat kerangka yang runut dalam setiap siasat jika ia telah memikirkan itu, pikir Ki Untara.

Sejauh tinjauan Ki Untara terhadap kemampuan Sabungsari maka sejauh itu pula ia telah menganggap Sabungsari telah meniti jalan yang tepat pada jalur keprajuritan. Bahkan muncul semacam keyakinan dalam hati Ki Untara tentang masa depan anak buahnya yang sepantaran usia dengan Agung Sedayu atau lebih muda sedikit.

Kalimat Sabungsari yang menggantung sudah pasti akan mengundang Tanya jika ada orang lain selain mereka berdua. Dan rupanya Sabungsari memang sengaja tidak melanjutkan kalimatnya. Ia berhenti ketika selintas pikiran terbit dalam benaknya.

“Ki Tumenggung,” kata Sabungsari kemudian, “Apabila Ki Rangga mengejar hingga beliau menyeberangi Kali Progo, itu dapat dipastikan ada alasan yang sangat kuat. Dan saya pikir, itu bukan sekedar kebakaran atau perkelahian yang terjadi di Menoreh.”

“Semacam keraguan berada di hatimu, Anak Muda,” tegas Ki Untara setelah melihat sorot mata Sabungsari.

Prajurit tangguh itu mengangguk lalu ucapnya, “Adakah sesuatu yang sangat berharga bagi Ki Rangga Agung Sedayu selain keluarga dan Mataram?”

“Apakah engkau menduga jika benda itu adalah kitab Kiai Gringsing?”

Tiba-tiba pokok bahasan mereka beralih saat seseorang berderap cepat dengan raut wajah sungguh-sungguh.

“Paman!” desis Ki Untara, “mungkin beliau telah mendengar kejadian di sungai.”

Sabungsari mengangguk ketika melihat Ki Widura berkuda memasuki halaman rumah Ki Untara.

Jarak Ki Widura hanya sebentang tanah lapang yang menjadi batas rumah Untara dengan jalan besar, tetapi jarak yang sebenarnya sangat singkat untuk ditempuh dengan kuda itu tidak dapat dirasakan oleh Ki paman Agung Sedayu. Ia merasa seperti menempuh perjalanan panjang untuk jarak selemparan anak panah itu. Wajah gelisah Ki Widura terlihat jelas saat ia berada lebih dekat. Keresahan tidak dapat ia sembunyikan dari dua pandang tajam senapati Mataram yang berada di beranda. Ki Widura memang telah mendengar kabar perkelahian antara beberapa prajurit Mataram yan  g dibantu oleh para penggembala dengan tiga orang asing. Mungkin ia telah mengetahui latar belakang perkelahian. Mungkin ia telah mengerti alasan kehadiran tiga orang asing di Jati Anom. Atau mungkin ia mengetahui sebab-sebab lain yang tidak diketahui oleh Ki Untara dan Sabungsari.

Sementara keadaan di barak pasukan Mataram saat itu tidak begitu banyak mempunyai kesibukan, meski beberapa orang terlihat hilir mudik namun mereka adalah anak buah Sabungsari yang tengah bersiap menuju sungai.

“Tampaknya kalian tengah bersiap menuju ke sana,” berkata Ki Widura setelah ia duduk di samping kiri Ki Untara.

“Apakah kami tidak menunjukkan sebuah kecepatan yang seharusnya ada di dalam setiap pasukan?”

Ki Widura mengerutkan kening, kemudian berkata, “Tidak. Cukup memadai karena orang-orang asing itu bukan tiga orang pengacau biasa.”

Sabungsari menegakkan punggungnya sambil berkata, “Apakah Ki Widura sudah meninjau keadaan Ki Panuju? Oh, maaf, bukan maksud saya seperti itu, tetapi tentang penyebab kekacauan.” Raut wajah merah sedikit menghias Sabungsari ketika ia menyadari pertanyannya yang salah.

 

Related posts

Leave a Comment