Bab 2 Jati Anom Obong

Dalam waktu itu selarik sinar yang menjadi andalan Agung Sedayu seolah menemui jalan buntu. Seberkas cahaya Agung Sedayu yang dapat meruntuhkan tebing cadas kini menjadi tanpa daya. Kekuatan sangat besar mampu menghalangi lesatan sinar Agung Sedayu. Sekalipun telah terbit setitik nyala di dua bola matanya, tetapi ia kesulitan mendorongnya keluar. Sebuah dinding baja yang tak kasat mata seolah menghalangi pancaran kuat ilmu Agung Sedayu untuk keluar dari bola matanya. Bahkan Agung Sedayu merasakan dadany a seperti diremas oleh jari-jari bertenaga raksasa!

“Jelas sudah ketinggian ilmu orang ini, bukan tidak mungkin ia berada selapis atau lebih di atasku. Maka dengan begitu, kematianku dan Swandaru segera tiba.” Agung Sedayu menarik napas panjang sambil mengatasi segumpal serangan yang memukul dadanya. Perlahan daya juang murid Kiai Gringsing ini menguncup menuju layu lalu mati. “Jangan bodoh, Agung Sedayu!. Tidak ada alasan untuk mati di tangan orang itu.” Ledak kekuatan hatinya dari tempat lain datang mengejutkan dirinya.

Hempasan rasa kejut memicu kembalinya semangat Agung Sedayu. Walau sebelumnya ia telah siap menerima segala akibat dari perang tanding, tetapi ia menemukan kembali kesadaran dalam dirinya bahwa ia belum mencoba puncak ilmu yang tertulis di dalam Kitab Kiai Gringsing. Senapati pasukan khusus Mataram ini mengalihkan kebuntuan yang dialaminya menjadi tenaga pendorong untuk mencari jalan lain. Di balik keraguan dan kecenderungan untuk kesiapan bertarung hingga akhir, Agung Sedayu lebih memilih untuk bertahan di penghujung waktu.

“Keberanian dalam perang tanding bukan berarti hidup tidak berguna lagi. Kematian adalah sebuah akibat ketika kekuatan ilmu telah menyentuh titik puncak. Dan di atas itu semua adalah keberanian untuk tetap menjaga kehidupan.” Suara hati Agung Sedayu menyeruak permukaan telaga kanuragan.

“Apa yang bisa aku katakan mengenai kekuatan Agung Sedayu? Aku telah menutup jalan keluar di matanya bahkan tenagaku dapat mengempiskan semangatnya lalu..? Aku adalah Ki Suladra dan aku tidak ingin mati di tempat ini. Jika ada yang harus mati, biarlah Agung Sedayu yang membujur kaku!” tekad Ki Suladra di tengah deru penasaran yang membuncah.

Bulan masih jauh dari tempat tenggelam. Sangat jauh ketika ilmu KI Suladra mulai meremas bagian dalam tubuh AGung Sedayu. Tiba-tiba ia merasa seperti menyentuh kehampaan. Segumpal tenaga inti yang melindungi bagian dalam tubuh lawannya mendadak hilang!

Ki Suladra tidak mengerti perubahan yang sedang terjadi. JIka semula ia merasakan seperti memeras lumpur basah, kini jemarinya hanya bersentuhan dengan udara kosong, namun ia tidak menyerah! Ki Suladra menghentak ilmunya lebih tinggi tetapi keadaan masih belum berubah. Seisi rongga dada Agung Sedayu berubah menjadi ruang kosong.

“Apakah memang ada ilmu yang dapat memindahkan jantung ke tempat lain?” Ki Suladra mengernyitkan kening tanpa melepas tatap matanya yang masih beradu pandang dengan Agung Sedayu. Ia tidak melihat perubahan pada raut wajah lawannya. Ia melipat tangannya di dada lalu mengembangkannya lagi sejajar di depan, diikuti kaki sebelah bergeser mundur. Bola mata Ki Suladara seolah membesar dan terlihat seperi akan menelan tubuh Agung Sedayu bulat-bulat.  Gelegak hasrat Ki Suladra semakin membakar jiwanya, ia merasa sangat bergairah mendapati kenyataan bahwa lawannya benar-benar sangat sulit ditundukkan. Dalam waktu itu Ki Suladra berada di puncak rasa puas.

“Mengalahkan senapati Mataram ini adalah puncak bukit kenikmatan. Membunuh Agung Sedayu harus dapat dihindari karena aku dapat mengalahkannya tanpa harus membuatnya mati.” Semangat yang berkobar dan keinginan untuk hidup lama di atas kemenangan telah membakar seluruh urat Ki Suladra. Kekuatannya meningkat berlipat-lipat.

Related posts

Leave a Comment