Bab 2 Jati Anom Obong

“Siapakah dia?” tanya Ki Sawentar.
“Keluargaku, maka aku kira cukup adil rasanya dengan tendangan seperti ini,” tukas orang itu sambil menendang dada Swandaru cukup keras. Swandaru meringkuk. Lututnya semakin rapat dengan bagian perut. Ia tidak dapat melihat wajah para penyiksanya dan tidak lagi mendengar suara Agung Sedayu. Segala sesuatu menjadi gelap baginya. Swandaru pingsan.
Dentam jantung Agung Sedayu hampir tidak terdengar karena tertimbun gemuruh aliran darah yang memenuhi rongga dadanya. Pilu dirasakan olehnya saat melihat tubuh Swandaru menjadi sasaran keganasan orang-orang yang melampiaskan kekesalan atau sakit hati padanya. Namun Agung Sedayu tidak dapat berbuat banyak untuk membubarkan kerumunan seterunya. Jelas didengar olehnya, serasa begitu, hatinya berkata, “Kemenangan bukanlah waktu ketika seseorang keluar dengan kepala tegak dari gelanggang. Kekuatan yang tercermin dari penguasaan olah kanuragan tidak dapat mengalahkan segalanya. Ini adalah ujian sebenarnya ketika engkau bertarung hidup mati pada saat saudaramu akan berkalang tanah!”

Tiba-tiba Agung Sedayu terseret arus bimbang dan tenggelam dalam keraguan. Watak dasar Agung Sedayu seketika meluap dan membanjiri setiap pembuluh darahnya. Keadaan pelik yang dihadapinya membuat murid Kiai Gringsing ini menjadi gamang dalam setiap gerakannya. Dalam kurun waktu panjang, Agung Sedayu telah keluar dari bayangan gurunya tetapi pada waktu itu, di tepi Kali Progo, Agung Sedayu terhempas kembali memasuki alam yang samar. Keraguan.
Ketajaman nalar Agung Sedayu telah diakui banyak orang dan itu adalah kelebihan tersendiri baginya, tetapi untuk keluar dari keadaan sulit ini ia harus mampu mengubah segalanya menjadi jernih.
‘Aku tidak dapat bertahan lama dengan keadaan seperti ini,’ pikir Agung Sedayu, ‘tetapi mungkinkah aku dapat mengeluarkan puncak ilmu cambuk dan pandangan mata dalam waktu bersamaan? Menyelamatkan Swandaru dan diriku sendiri bukanlah perkara mudah! Tetapi aku tidak dapat berkubang terlalu lama di tempat ini. Penuh keraguan!’

Agung Sedayu telah memutuskan!
Udara panas kembali menyelubungi tubuhnya ketika ia mengetrapkan ilmu kebal. Dengan pesat ia mendorong seluruh kemampuan untuk melapisi tubuh dengan kekebalan yang setara dengan Tameng Waja atau Lembu Sekilan. Cambuk telah terjuntai dan pandang mata Agung Sedayu lekat menatap Ki Suladra.
Bulan telah mengambang meski sepotong kecil, mungkin seperempat bagian saja yang terlihat.
Ki Suladra berdiri di atas lutut yang setengah menekuk, tubuhnya condong ke samping, lalu diam membeku. Ia telah mendengar tentang kehebatan sorot mata Agung Sedayu, kali ini sebuah kesempatan menggelar kemungkinan menabrakkan ilmunya dengan kekuatan lawan. Tanpa keraguan Ki Suladra membalas pandang Agung Sedayu. Keduanya kokoh memijak bumi.
Ketegangan kian kuat menghasilkan letupan kecil di dalam darah, sementara orang-orang telah menghentikan siksaan pada Swandaru, lalu mengalihkan perhatian pada pertarungan dua kekuatan raksasa yang nyaris tanpa tanding.

Cambuk Agung Sedayu telah bergetar pada ujungnya meski masih menyentuh tanah. Ki Suladra tahu jika satu kekuatan sangat besar tengah mengalir pada setiap bagian cambuk dan akan bermuara di ujungnya. Sedangkan senjata Ki Suladra sengaja digeletakkan tanpa perhatian meski seutas rantai masih erat berada dalam genggam Ki Suladra.

Walau tidak ada atau belum ada gerakan dari dua orang yang tengah bersiap meledak tetapi udara begitu cepat bergerak. Mendadak muncul angin ribut yang sebenarnya berawal dari dua hawa tenaga yang saling mendorong, saling menolak serta saling melibas. Agung Sedayu mengerti jika lawannya sama sekali tidak gentar dengan kekuatan yang muncul dari sepasang matanya.

“Mungkinkah ia mempunyai ilmu sejenis?” Seberkas ingatan melayang pada Ki Gede Telengan yang terkejut dengan kemampuan Agung Sedayu. Hanya saja, pada waktu sekarang, Agung Sedayu berada pada kedudukan sebagai Ki Gede Telengan.

Related posts

Leave a Comment