Bab 2 Jati Anom Obong

Sayoga tahu yang diperbuatnya, ia sedang menambah minyak pada kobar api yang belum padam. Maka kehati-hatian menjadi benteng terakhir baginya dalam menghadapi Ki Sarjuma yang semakin menjadi-jadi. Dan memang benar dugaan Sayoga jika Ki Sarjuma menyerangnya dengan terjangan yang sulit diterima akal sehat. Sepertinya seluruh kepandaian Ki Sarjuma benar-benar tercurahkan untuk menghujani anak muda Kedawung dengan tebaran maut. Kedua lengannya hingga ujung jarinya tiba-tiba setajam pedang. Dengan berkelahi tanpa senjata, sepasang kaki dan tangan Ki Sarjuma akhirnya menunjukkan tingkat sebenarnya yang ia miliki.

Tidak lagi diragukan alasan Panembahan Tanpa Bayangan sewaktu menariknya sebagai pengawal khusus. Dahan pohon sebesar paha lelaki dewasa begitu mudah terpotong dengan irisan yang sangat rapi. Bahkan sebuah batu teriris bagian tepinya ketika jemari Ki Sarjuma memapas Sayoga, namun anak muda ini cekatan menghindar. JIka terlambat sekejap maka lima jari lawannya akan memutus pergelangan tangan Sayoga. Kehebatan Ki Sarjuma secara nyata memancar dari sepasang kaki tangannya yang ternyata pasangan senjata yang nggrigisi.

Serpihan batu dan kayu mendera Sayoga dengan cara yang luar biasa. Setiap kali kaki atau tangan Ki Sarjuma membentur benda keras, sebanyak itu pula benda-benda padat menyerbu Sayoga seperti hujan lebat yang jatuh di atap.

Sekuat bahkan sehebat Sayoga menguasai Serat Waja kala itu, sedahsyat ia menggulung tubuh dengan putaran pedang kayunya ia harus menerima guratan kecil pada sekujur tubuhnya. “Aku tidak mungkin dapat selamat. Tidak mungkin! Meski demikian, aku harus mencari jalan mengalirkan tekanan ini!” Resah muncul bersamaan dengan keyakinan kuat dapat mengatasi aroma kematian yang ditebar Ki Sarjuma. Sayoga tidak menghindari kenyataan bahwa semakin lama kulitnya semakin terasa perih . Ia dapat merasakan percikan darah mulai berhimpun menjadi banyak aliran sungai darah di bagian luar tubuhnya.

 

Terdengar suara letusan ketika keduanya sama-sama mengarahkan tenaga inti pada bidang kosong di bagian tengah lingkar perkelahian mereka. Gema suara Sayoga membahana memenuhi setiap jengkal udara lingkungan sekitar mereka. Sedangkan Ki Sarjuma melolong dengan nada sangat mengerikan, menusuk secara langsung ke bagian dalam telinga.

 

Para pengawal Menoreh terjungkal roboh, sekalipun mereka telah berada belasan langkah dari bagian luar perkelahian. Sedikit yang mampu bergerak dalam keadaan telungkup. Mereka lebih memilih menutup sepasang telinga dan menggulingkan tubuh lebih jauh lagi.

 

Dua tenaga inti bertumbuk. Sebuah rongga sedalam lutut orang dewasa dengan lebar dua kali bentang tercipta. Sungguh pemandangan yang membuat hati pengawal Menoreh menggelepar seperti ikan tanpa kolam. Mereka terlihat berdiri tegak ketika kepulan debu mulai menipis.

 

Ketika lawannya sudah tampak jelas oleh pandang matanya, darah Sayoga menggelegak, mendorong tubuhnya deras pada Ki Sarjuma dengan ayunan pedang yang menggaung hebat. Tidak ada lagi yang menjadi beban pikiran Sayoga. Tidak pula bayangan ibu dan bapaknya. Keadaan yang menjepitnya di ambang negeri orang-orang mati telah membangkitkan segenap kekuatan, ingatan pada masa ditempa oleh ayahnya, semangat tempur di Lemah Cengkar, gemblengan yang ia lakukan di celah tebing dan pepohonan serta kemauan kuat, tiba-tiba meledak dahsyat.

Sayoga berubah menjadi pusaran angin yang sangat hebat.

Kibas pedang kayunya seperti alat yang sanggup menghisap seekor kerbau ke dalam sebuah liang. Sesekali ia mengeluarkan angin yang sanggup mengangkat seekor lembu pembajak sawah.

“Jika aku harus mati malam ini, ayah tidak akan meratap sedih. Ia akan menjadi saksi atas hasil dari pelajaran yang dilimpahkan selama ini,” desis Sayoga. “Tak juga ibuku. Ia akan berkata pada orang-orang tentang kegigihan anaknya yang melawan badai agar tetap hidup. Ini adalah jalan baktiku!”

Tidak ada waktu bagi Ki Sarjuma untuk terpana.

Begitu pula Empu WIsanata dan Ki Malawi yang mendadak menghentikan perkelahian  mereka tanpa aba-aba!

Related posts

Leave a Comment