Bab 2 Jati Anom Obong

Tekanan ini mulai menyulitkan, pikir Empu Wisanata, tidak mudah bagiku menjauh dari kejaran udara dingin yang menyengat dan mampu menyayat selubungku.

Tenaga inti cepat menjalar dari balik pusarnya, merambati setiap urat syaraf dan ratusan cabang jalan darah. Udara panas segera meronta, berhamburan keluar dari setiap kibas telapak tangan Empu Wisanata. Lelaki yang banyak meluangkan waktu dengan Ki Gede Menoreh telah membangkitkan kekuatannya, meski hal itu tidak sepenuhnya dapat mengurangi rasa sakit yang melanda.

Pertarungan meningkat semakin sengit.

Udara sekitar mereka mulai berubah seiring dua kekuatan raksasa itu saling dorong dengan dahsyat. Sesekali angin panas menampar wajah para pengawal Menoreh yang berada cukup jauh dari keduanya. Namun mereka bergeming. Justru sebaliknya, pengawal Menoreh terlihat sungguh-sungguh mengamati perkelahian.

Berulang decak kagum keluar dari bibir mereka. Walau perkelahian semakin sulit diikuti pandangan mata, pengawal Menoreh yang kebanyakan berusia muda tetap berusaha mengikuti pergerakan orang-orang berilmu tinggi di hadapan mereka. Sekali-kali mereka berceletuk ringan dengan membuat perbandingan antara kemampuan para pengawal dengan empat orang yang tengah berkelahi.

“Tentu saja Kang Marta lebih tinggi dari empat orang itu,” kata seorang anak muda yang memanggul pedang.

“Ya benar. Mereka mungkin sejajar dengan telinga Kang Marta.” Tawa renyah terdengar lirih di antara mereka ketika seorang bertubuh gempal menanggapi celoteh kawannya.

Dalam waktu itu, Ki Malawi telah menerima sebuah kenyataan bahwa udara dingin yang berasal darinya mulai berbalik arah. Meski belum kerap menghantam balik padanya, tetapi kebuntuan telah berulang terjadi. Suara letusan sesekali terdengar tatkala tenaga dinginnya seolah diremas dalam lilitan udara panas Empu Wisanata.

“Tenaga yang seolah dapat berpikir dan bergerak tanpa perintah? Ini sangat menakjubkan! Aku menemui lawan tanding yang sebanding,” Ki Malawi bergumam dengan satu pengakuan. Meski ia masih mengeluh tentang kesalahan yang membahayakan hidupnya, namun sebersit kebanggaan membuncah dalam dirinya.

Dengan demikian maka pertempuran itu telah berubah. Ki Malawi yang menduga telah menguasai keadaan kini berubah pikiran. Ia melihat kenyataan telah bergeser tempat dari hadapannya. Empu Wisanata mulai dapat membendung deras hantaman angin dingin miliknya.

“Sebangsal ilmu mungkin telah mengendap di dalam dirinya,” pikir Empu Wisanata, “Kecil kemungkinan jika orang ini hanya mengandalkan udara dingin yang sanggup mematuk tulang terbungkus kulit dan lketebalan daya tahan. Tidak bisa tidak, aku harus bersiap dengan segala kemungkinan.”

Empu Wisanata mengambil prakarsa terlebih dahulu dengan meningkatkan serangan dan menambah daya gedor udara panas miliknya. Kini suara ledakan kian kerap terdengar setiap kali inti tenaga yang berbeda watak ini saling bertabrakan. Walau mereka tidak saling menyentuh bagian tangan atau tubuh yang lain, namun angin yang muncul akibat kibas gerak mereka sudah menimbulkan keributan.

Lingkar perkelahian Empu Wisanata seolah menjadi pergumulan dua pusaran angin topan yang sangat besar. Ranting dan daun kering, yang terdorong naik terbawa angin dahsyat perkelahian, terlihat seperti saling membelit, mendorong bahkan kadang-kadang tampak seperti sabetan pedang!

Kedahsyatan ilmu Empu Wisanata benar-benar terwujud pada perkelahiannya menghadapi Ki Malawi. Ketangkasan serta kecepatannya bergerak sama sekali tidak menunjukkan usia Empu Wisanata yang sebenarnya. Ia terlihat jauh lebih muda dan bugar dari yang terlihat oleh pandangan mata. Putar gerak kaki dan tangannya secara hebat berusaha meredam laju pergerakan Ki Malawi.

Sedangkan Ki Malawi pun sebenarnya termasuk orang yang telah matang dalam pertaruhan nyawa. Ia telah melalui banyak perang tanding dan pertarungan yang menegangkan. Ketangguhannya benar-benar mendapat ujian berat dari Empu Wisanata. Maka sering kali Ki Malawi dapat keluar dari beban yang dilontarkan oleh musuhnya. Udara dingin masih mampu menggapai kulit orang yang berencana menjadikan Sayoga sebagai murid saat melihat cara bertarung lelaki muda dari Kedawung itu.

Related posts

Leave a Comment