Bab 2 Jati Anom Obong

Ki Sarjuma menerkam Sayoga dengan kekuatan yang benar benar hebat. Mereka kemudian bergumul kembali dengan kecepatan yang tidak berkurang sedikit pun dari sebelumnya. Sejumlah waktu telah dilalui, benturan semakin kerap terjadi, jarak mereka semakin rapat.

Tiba-tiba Ki Sarjuma meloncat surut sedikit lebih jauh. Sayoga tak ingin mengejarnya lalu ia memilih untuk menunggu. Pertarungan yang sebenarnya telah membawa Sayoga pada rasa lelah.  Ki Sarjuma memang memilih siasat yang bertujuan untuk menghancurkan Sayoga dari dalam dirinya. Ki Sarjuma tidak lagi bertarung dengan mengandalkan kegesitan kaki dan tangan, tidak lagi mengandalkan kekuatan tenaga inti dan kecepatan, tetapi ia memilih untuk bermain dengan waktu.

“Kekuatan anak ini sudah nyata dapat aku rasakan, tetapi keadaan di dalam batinnya? Hanya itu jalan yang ada bagiku untuk membuatnya hancur,” bibir Ki Sarjuma komat kamit tanpa suara.

Dan memang sebenarnya muslihat Ki Sarjuma telah mengoyak lapisan dalam pertahanan batin Sayoga. Lelaki muda yang berusia tak terpaut jauh dari Sukra ini mulai gelisah. Ia telah menata gerak, berancang-ancang guna menyambut serbuan lawannya tetapi Ki Sarjuma hanya melakukan gerak bayangan. Berulang kali Ki Sarjuma bergerak seolah akan menerjang, namun secara mendadak ia menghentikan arusnya lalu beralih ke bagian lain.

“Permainan apa yang sebenarnya tengah ditawarkannya padaku?” gumam Sayoga di satu ruang batinnya.

Sayoga telah gelisah, keresahan ini kemduian mendorongnya untuk bergerak sangat cepat. Pedang kayu terayun begitu kuat hingga mengeluarkan suara seperti dengung lebah. Tebasan pedang Sayoga mengarah ke bagian muka Ki Sarjuma.

Kepercayaan diri atas kemampuan ilmunya membuat Ki Sarjuma cepat menangkis dengan sisi luar tangan kirinya,

Ia melotot dan berteriak kesakitan!

Sayoga dengan cerdik, secara tiba-tiba, mengubah Serat Waja yang lunak menjadi hantaman sekeras batu cadas. Bahkan Sayoga sendiri tidak menyana jika pada keadaan genting, ia dapat melakukan dengan baik peralihan yang telah dilatihnya begitu tekun semenjak ia dinyatakan mampu oleh ayahnya, Ki Wijil.

Sekejap setelah benturan hebat itu terjadi, Ki Sarjuma mengalami kesemutan dan mati rasa sepanjang tangan kiri hingga pangkal pundak. Ia terhuyung mundur, satu dua atau empat langkah surut sambil memegang bahu kirinya.

Keyakinan Sayoga meningkat berlipat. Tanpa mengurangi kewaspadaan ia merasa cukup lega atas keberhasilannya dalam mengalihkan watak Serat Waja. Sekarang Sayoga menerjang musuhnya dengan serangan yang hebat seperti badai yang menderu. Pedang kayu dan tendangan yang ia lontarkan datang bergulung-gulung untuk membelit, menghempas serta melibas Ki Sarjuma dalam pusaran serangannya.

Sementara itu arena perkelahian Empu Wisanata dan Ki Malawi juga meningkat semakin sengit. Walau hanya sekilas dan selintas namun  pengamatan Empu Wisanata mampu bekerja dengan baik. Ia merasa longgar dan kini Empu Wisanata semakin leluasa mengimbangi kegesitan Ki Malawi. Teman Ki Sarjuma ini bertempur dengan garang dan ganas. Ki Malawi, di balik kegarangannya berkelahi, menyimpan kemarahan yang luar biasa. Ia marah pada kebodohannya sendiri.

“Bagaimana cara Menoreh menyimpan orang-orang gila seperti lelaki tua ini? Tidak ada keterangan dari petugas sandi Panembahan yang memberitakan keberadaan mereka. Setiap kali mereka membuka suara maka hanya Ki Gede Menoreh dan senapati Mataram yang berada di dalam pembicaraan,” keluh sesal Ki Malawi dalam hatinya.

Namun lawan Ki Malawi pun tidak menyangka jika orang yang dihadapinya seolah dapat membaca seluruh isi pikirannya. Ki Malawi dengan segenap ilmu yang dimilikinya dan pengalaman yang telah menempa puluhan tahun memang selalu mendahului rencana-rencana Empu Wisanata.  Ia mampu bertahan sangat baik dan mempunyai serangan yang berbahaya serta mematikan.

Hingga matahari telah mencapai batas senja, keduanya masih dalam kedudukan yang seimbang.

Related posts

Leave a Comment