Bab 2 Jati Anom Obong

Detak jantung Sayoga telah berpacu sedemikian cepat, hal ini disadari olehnya bahwa ia telah berada di ujung pengerahan tenaga inti. Ketegangan perlahan menyelinap masuk ke dalam relung jantung Sayoga.

Pada saat itu, Ki Sarjuma masih berusaha menggunakan siasat yang dimilikinya meski siasat itu belum terbukti membawa hasil sejak perkelahian bermula.

“Sayoga, begitukah engkau dipanggil oleh kawan-kawanmu? Aku tahu jika engkau telah mengalami kepayahan yang luar biasa, dan mungkin untuk saat ini ada terselip rasa bangga dalam hatimu bahwa engkau mampu bertahan hidup lebih lama,” kata Ki Sarjuma, “namun sayang engkau salah memilih lawan. Mungkin kau akan meraih kemenangan dengan mudah jika aku bukan orang yang kau hadapi saat ini. Aku tahu engkau telah mencapai batas tertinggi ilmu yang kau miliki, apakah aku berkata benar?”

Sayoga bergeming.  Kekuatan hatinya justru semakin menggumpal dan siap meledak!

“Mengapa engkau diam, Sayoga? Apakah kau meyimpan keraguan yang berasal dari keyakinan yang runtuh? Kau dapat melihat, lihatlah, aku masih berdiri tegak di depanmu!” Ki Sarjuma masih belum berhenti membongkar keyakinan hati Sayoga. Ia meneruskan kata-kata, “Itu pilihanmu, Anak Muda. Aku akan senang menunggumu mengerahkan dan mencapai batas akhir dari ilmu yang mungkin telah menjadi kebanggan bagimu. Sungguh, itu sangat menarik untuk mengetahui puncak pengerahan ilmu simpananmu.”

Sayoga bergeser setapak ke samping dengan ujung pedang menyentuh tanah. Selagi Ki Sarjuma berucap kata memancing kebimbangan agar menguasai hatinya, Sayoga telah bersiap membuat gebrakan.

Ki Sarjuma masih mengamati pergerakan Sayoga. Ia enggan berpikir untuk menggunakan senjata. “Memalukan!” ia menggeram ketika lintas pikiran mendadak muncul memerintahkan agar segera menarik pedang pendek berbatang lebar yang diselipkannya di balik punggung.

Meski keraguan menyeruak dalam hatinya, Ki Sarjuma tetap berkeras untuk meneruskan perkelahian dengan tangan kosong. Ia telah mempunyai dugaan tentang batas akhir kekuatan Sayoga. Meski pengamatannya menjadi kabur karena Sayoga tidak menujukkan kelelahan atau kesakitan, tetapi Ki Sarjuma meyakini jika nyawa Sayoga hanya berjarak sejengkal darinya. Maka dari itu, Ki Sarjuma melambari sepasang tangannya dengan tenaga inti sampai ke ujung setiap jari tangannya. Tenaga inti yang tersimpan dalam dirinya lebih keras dari besi dan batu cadas hitam. Hantaman Ki Sarjuma yang sanggup meluruhkan tebing batu Merbabu melipatgandakan keyakinannya ketika melihat pedang kayu Sayoga.

“Sesaat lagi senjata itu akan lumat tak tersisa!” lirih suara Ki Sarjuma menggeram. Ia berada di puncak keresahan. Antara marah, bingung, rasa takut menerima kekalahan dan keinginan membunuh bercampur aduk dalam hatinya. Ki Sarjuma terkejut dengan perubahan yang terjadi pada Sayoga, dari seekor kelinci jinak yang siap dimangsa seekor elang tiba-tiba beralih menjadi seekor harimau kelaparan yang siap mencabiknya.

Dengan langkah kaki terseret, Sayoga bergerak seolah segunung beban berada di kedua bahunya. Ia mendekati Ki Sarjuma tanpa mengangkat kakinya. Sebentuk garis dengan pola tertentu jelas tergambar dari jejak kakinya.

Ki Sarjuma dan pengawal Menoreh memicingkan mata, mereka mencoba menerka arti dan maksud dari garis-garis yang saling berhubungan itu. Tetapi Sayoga tidak memberi waktu lebih banyak untuk Ki Sarjuma.

Tiba-tiba ia mendatangi musuhnya sangat cepat.

Peralihan gerak itu jelas mengejutkan Ki Sarjuma. Walaupun ia telah bersiap namun itu tetap tidak mengurangi lompatan jantungnya. Ia terkesiap!

Darah Ki Sarjuma serasa berhenti mengaliri bagian wajahnya ketika ujung pedang Sayoga berjarak sejengkal darinya. Kurang dari sekejap mata ia mempelajari tata gerak Sayoga yang aneh, kini lawannya yang muda usia nyaris menghantam remuk tulang kepalanya. Ki Sarjuma meloncat surut, berjungkir balik dengan telapak tangan dijadikan tumpuan. Namun Sayoga tidak berhenti mengejarnya.

Related posts

Leave a Comment