Bab 2 Jati Anom Obong

Ki Sarjuma tersentak! Ia merasakan sesuatu yang berbeda tengah terjadi di lingkar perkelahian mereka. Meski ia tidak merasakan gelisah atau keraguan sedang merayap di dinding jantungnya, ia tetap merasa ada yang berbeda pada saat itu!

“Ini gila! Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah orang-orang bodoh ini telah dirasuki penunggu hutan ini?” geram Ki Sarjuma dalam hatinya.

Sayoga telah bersiap sepenuhnya menghadapi keadaan dengan segala perkembangannya. Pembuluih darah dan urat syarafnya telah dirambati oleh ilmu yang disadapnya dari Ki Wijil, guru pertama sekaligus ayahnya. Sayoga dapat merasakan getar Serat Waja telah memenuhi seluruh bagian tubuhnya.

Berbeda dengan Agung Sedayu yang pernah memelajari ilmu jalur KI Sadewa dari dinding goa serta kitab peninggalan gurunya, Sayoga hanya mewarisi satu jalur ilmu. Sayoga mengembangkan segala unsur yang ada dalam dirinya berdasarkan hubungannya dengan semesta di sekelilingnya. Ia meresapi perjalanan angin, watak air, api dan bebatuan yang menjadi temannya saat menempa diri di banyak aliran sungai.

Kini semuanya tengah bergolak dan seakan mencari jalan untuk meledak. Unsur yang telah berpadu selaras telah siap melesat keluar menggetarkan jagad raya!

‘Paman dan Kakang sekalian! Kita mungkin tidak akan pernah kembali menjumpai orang-orang yang sebenarnya menyimpan harap untuk bertemu lagi,” lantang Sayoga berkata, “Kita tidak melihat kemungkinan lain kecuali menghentikan langkah orang ini. Saat ini! Dan sebenarnya, tandang orang yang tidak mempunyai pikiran jelas ini bukan sebuah kemampuan yang menakutkan kita semua. Ia hanya seorang rendahan dari pengikut orang tamak!”

Darah Ki Sarjuma menggelegak, hatinya bergejolak hebat. Baginya, ucapan Sayoga adalah sebuah peringatan yang benar-benar menempatkannya pada kedudukan rendah. Raut wajahnya padam. Benar-benar terbakar oleh kata-kata Sayoga. Bagaimana ia dan sekawanan cecurut ini akan menghentikanku? Sayang sekali, ia telah bermimpi di masa yang salah. Mereka akan mengenalku seketika! Saat mereka lumat olehku! Ki Sarjuma membatin.

Sayoga datang menerjang dengan kekuatan seperti air bah yang menyapu bersih lembah. Kekuatan di dalam dirinya telah luluh dan menyatu dengan sekitarnya. Angin berpusar hebat mengiringi lonjakan dahsyat tenaga Sayoga. Kecepatan Sayoga seolah meningkat lebih hebat dan nyaris tidak dapat dipercaya bahkan oleh matanya sendiri.

Ki Sarjuma telah bergerak mengimbangi ilmu Sayoga yang tiba-tiba meningkat hebat. Tumit Ki Sarjuma menjulur bagian dada Sayoga, lalu mendadak ia mengubah arah sasaran. Sayoga telah menghitung perkembangan berdasarkan tata gerak yang aneh dari Ki Sarjuma. Sebuah kejutan dilakukan oleh Sayoga, ia menyambut kepalan tangan Ki Sarjuma dengan tangan terbuka.

Hentak tenaga dari kedua orang ini bagaikan ledakan dahsyat yang terjadi di udara. Begitu mengejutkan! Kedua orang yang memulai serangan dengan bentakan-bentakan keras ini membuat orang sekitarnya seolah kehilangan jantung!

Sesekali keduanya terpental beberapa langkah ke belakang setiap kali saling membenturkan tenaga. Pada satu kesempatan, tubuh Sayoga melenting dan berputar beberapa kali di udara, ia meluncur deras ke arah Ki Sarjuma seperti harimau menerkam mangsa tetapi dengan sigap lawannya meloncat ke samping sambil melepas satu pukulan keras menghantam bagian kepala Sayoga. Lelaki muda dari Kedawung itu menarik lengan menghadang laju pukulan Ki Sarjuma namun akibatnya adalah tubuh Sayoga terlontar seperti batu besar yang meluncur dari puncak tebing. Ia bergulingan di atas tanah berlumpur namun dengan cepat ia bangkit dan berdiri tegak dengan kaki merenggang depan belakang.

Perkelahian itu berhenti sejenak. Sayoga terlihat sedang mengatur napasnya yang memburu, jantungnya berdebar kencang setelah benturan sangat keras itu ternyata mampu mengguncang isi dadanya. Ki Sarjuma pun telah merunduk, bersiap melepas gebrakan yang mungkin lebih dahsyat dari sebelumnya.

“Bagaimana ia dapat bertahan dari pukulan tadi?” Ki Sarjuma menahan geram. Meskipun ia terkejut melihat daya tahan Sayoga namun rasa gusar lebih memenuhi isi hatinya. “Mungkinkah ia telah melakukan mesu diri semacam tapa pendem?”

Napas Sayoga mulai teratur, ia menata ulang seluruh keadaan dalam dirinya. Pada waktu itu, ia merasakan kepalanya seperti membentur sebuah batu hitam meski pukulan itu tidak secara langsung mengenai sasaran, tetapi gema tenaga inti Ki Sarjuma sanggup menembus tirai tebal yang ada.  Sekejap ia mengingat dasar-dasar ajaran ayahnya, Ki Wijil, bahwa sebatang kayu berukuran lingkar dua depa akan hanyut oleh arus lambat sealiran air maka Sayoga seperti menemukan jati dirinya kembali.

 

 

Related posts

Leave a Comment