Bab 2 Jati Anom Obong

Dan begitulah Agung Sedayu. Ia bergerak ke kiri namun ujung cambuknya berputar lalu menghantam melalui sisi sebaliknya. Ketika ia meloncat surut, Agung Sedayu dengan tangkas memindahkan tangkai cambuk ke tangan kiri lalu memukul pertahanan sebelah kiri Ki Tunggul Pitu. Pada saat ia menerjang, justru Agung Sedayu menjadikan tangkai cambuk sebagai ujung yang dilecutkan! Peralihan senjata, pergeseran kaki dan perubahan tata serangan yang ia lakukan, sungguh, membuat Ki Tunggul Pitu menjadi gelisah. Setiap upayanya melepaskan diri dari cengkeraman Agung Sedayu selalu menemui batu cadas. Setiap arah yang ia tuju maka selalu saja Agung Sedayu tiba-tiba berada di hadapannya. Bagi Ki Tunggul Pitu, pada saat itu, Agung Sedayu adalah peranakan dedemit yang mampu menggandakan wujud lebih dari sepuluh orang! Lalu tanpa disadari olehnya, Ki Tunggul Pitu telah berada dalam kendali Agung Sedayu. Ia semakin dekat ke arah lingkaran perkelahian Sabungsari yang semakin tidak seimbang.

“Aku sedang bertarung dengan siluman yang menunggu sungai ini!” geram Ki Tunggul Pitu ketika ia berulang-ulang menemui jalan buntu.

Ki Tunggul Pitu semula mengira bahwa kekuatannya setara dengan Agung Sedayu, dan pikiran seperti itu muncul dari pertemuannya pertama di rumah musuhnya itu, di Menoreh. Sedangkan pada malam yang direncanakan untuk menghabisi Sabungsari, ia seolah sedang berhadapan dengan sosok tidak dikenal yang mengambil wujud Agung Sedayu. Siluman? Setan? Dedemit atau genderuwo? Semua gelap baginya. Maka Ki Tunggul Pitu merasa bahwasanya ia harus membuat penilaian baru, karena senapati Mataram itu berkelahi dengan cara yang berbeda. Kekayaan unsur gerak dari gabungan jalur-jalur ilmu yang ada dalam diri Agung Sedayu telah menjadikan pertarungan kian mendebarkan.

Maka Ki Tunggul Pitu benar-benar mengerahkan segala daya dan wawasannya. Ia tidak berkelahi seperti seekor singa buas yang lapar, tetapi sebuah pertahanan yang luar biasa tengah diperagakan olehnya. Namun demikian, sekalipun Ki Tunggul Pitu masih dapat menjaga tubuhnya dari ujung cambuk Agung Sedayu, ia harus menahan tekanan berat serangan Agung Sedayu. Tidak ada jalan lain baginya selain menggeser langkah ke arah Sabungsari.

Dalam waktu itu, telapak kaki Agung Sedayu seakan lekat karena terhisap oleh daya kekuatan yang tidak kasat mata dan berasal dari balik dasar sungai. Tapak kakinya tidak sekalipun terangkat dasar, apalagi hingga terlihat keluar dari permukaan sungai. Walau begitu susunan langkahnya benar-benar menyudutkan lawannya. Agung Sedayu seolah mengerti jalan pikiran musuhnya sehingga ia dapat menutup semua jalur keluar dari tekanan.

“Inikah puncak isi kitab itu?” gumam Ki Tunggul Pitu dalam hatinya. Lalu ia membantahnya sendiri karena nalar Ki Tunggul Pitu masih menuntut hentak tenaga yang lebih kuat dan dahsyat.

Sabungsari telah menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Agung Sedayu yang memperlihatkan gelagat akan memasuki lingkar perkelahiannya. Sabungsari dapat melihat pergeseran itu meski ia dalam keadaan yang jauh dari kata menguntungkan. Bahkan sangat jauh karena ia berulang-ulang menyilangkan tangan di depan dada untuk menghalangi kaki musuhnya yang menjulur sangat cepat.

“Perkelahian ini akan berakhir tidak lama lagi.” Pikiran Sabungsari telah mendahului hasil yang belum terlihat. Ia dapat membuat perkiraan itu setelah mengetahui kedudukan Ki Widura yang juga sama payah dengannya. “Apapun rencana Ki Rangga, tentu itu bukan hal mudah untuk melewati ini semua. Ketiga orang asing ini seakan tidak mengalami penurunan tenaga atau kemampuan.”

Sabungsari paham dengan keadaan yang tengah berlangsung. Sekuat apapun Agung Sedayu, setajam apapun daya pikirnya, maka keduanya seolah belum cukup untuk membendung gempuran tiga orang pengikut Raden Atmandaru. Malah bisa jadi, aku dan mereka berdua akan menghabiskan malam di sini. Atau bisa juga akhir napas pun akan terjadi di tempat ini, pikir Sabungsari.

Sebuah hantaman keras datang melanda Sabungsari. Tubuhnya terpental, melayang ke samping dan itu justru membuatnya semakin dekat dengan Agung Sedayu.

Sedangkan Ki Garu Wesi sendiri ketika melihat lawannya terapung di udara, seketika gejolaknya untuk membunuh Sabungsari kian menggelepar. Sorot mata buas memancar dahsyat darinya. Di dalam pikirannya, adalah keadaan terbaik mengakhiri hidup Sabungsari sebelum senapati muda ini menyentuh tanah, sebelum kembali bangkit dan melakukan serangan balik atau membangun pertahanan, sebelum semua orang paham dengan keadaan yang terjadi.

Related posts

Leave a Comment