Jasmerah – Upaya PKI Membangun Kekuatan di Blora

Sejarah

Pedukunan atau perguruan mistik adalah salah satu “bentuk organisasi” yang di usahakan oleh sisa-sisa PKI untuk memperoleh pengaruhnya kembali di lingkungan masyarakat. Pada tahun 1966 kondisi sosial ekonomi yang makin memburuk akibat kudeta G 30S/PKI dimanfaatkan oleh PKI untuk melakukan kampanye dan meluaskan pengaruh. Kegiatan mistis menjadi kendaraan yang dipergunakan oleh sisa-sisa PKI, dan Mbah Suro adalah media terbaik di wilayah pegunungan Kendeng.

Desa Nginggil kecamatan Menden adalah desa yang terisolasi yang terletak di tepi Bengawan Solo di perbatasan Kabupaten Dati Blora dan Kabupaten Ngawi. Mbah Suro alias Mulyono alias Surodihardjo, lahir pada tahun 1921, adalah pendiri perguruan Nginggil, yang juga desa kelahirannya.

Pada tahun 1948-1949, Mbah Suro alias Mulyono menjadi salah satu orang anggota Brigade “Jadau” dengan pangkat Sersan. Brigade Jadau adalah Brigade TLRI (Tentara Laut Republik Indonesia), pendukung PKI dan tulang punggung kekuatan PKI dalam pemberontakan Madiun. Karena kesulitan hidup yang dialami sehari-hari dan keadaan masyarakat sekelilingnya melahirkan gagasan untuk menjadikan dirinya sebagai “ahli kebatinan”. Ia menjadikan Nginggil tempat pertapaannya dan menyebut dirinya Mbah Suro atau “Pendito Gunung Kendeng”. Dengan nama Mbah Suro, ia mulai melakukan praktek kegiatan kleniknya, dengan menyebarkan kepercayaan/kebatinan/perdukunan “Djawa Dipa”, sekali pun tidak ada orang yang datang berguru. Sesudah G30S/ PKI, para pelarian PKI yang mencari tempat aman menemukan desa Nginggil sebagai tempat persembunyiannya dan menemukan Mbah Suro, yang mengaku sebagai “pendito”. Orang-orang PKI dengan agitasi dan propagandanya mempengaruhi masyarakat dengan media Mbah Suro. Mbah Suro kemudian dikeramatkan. Kader-kader PKI giat melancarkan agitasi dan propaganda untuk kekeramatan Mbah Suro. Banyak rakyat terpengaruh karena situasi pada saat itu memang penuh kesulitan hidup. Sebaliknya para kader PKI berkumpul disini dengan berpura-pura sebagai pengunjung Mbah Suro dan sebagai cantrik-cantrik yang sebenarnya adalah pengendalinya. Di antaranya Bambang Sumarjo (PKI), Keman (SOBSI) dan Jusuf (tokoh Bakoksi Cepu).

Keberhasilan agitasi dan propaganda kader-kader Mbah Suro, dan pengaruh pedukunan klenik Mbah Suro semakin meluas. Semua yang ada hubungannya dengan Mbah Suro “dianggap keramat” dan semua “perintahnya wajib” dituruti, temasuk pemeliharaan kucing hitam kesayangannya. Mbah Suro berhasil menghimpun para pengikutnya. Para pengunjung yang datang ke pertapaan “Mbah Sura” tersebut, setiap harinya tidak kurang dari 5.000 orang yang berasal dari daerah Surabaya, Kediri, Malang, Madiun, Semarang dan Jakarta. Mereka berasal dari berbagai macam lapisan masyarakat, kepada para pengikutnya yang mencapai jumlah kurang lebih 5.000 orang, Mbah Sura juga memberikan wejangan-wejangan, terutama dilakukan pada hari Jum’at Wage, Jum’at Paing, dan Jum’at Legi.

Pertapaan ” Mbah Suro” selain dijadikan sarang pengumpulan orang-orang G30S/PKI, juga diketahui sebagai tempat penyusunan kekuatan bersenjata. Melalui para pembantunya antara lain Suradi cs (anggota PKI), Mbah Suro menjadikan Nginggil sebagai pusat gerakan PKI. Sesuai dengan strategi dasar Perjuta komunis, mereka menyusun kekuatan dengan membentuk pasukan-pasukan tempur yang terdiri dari pria dan wanita yang terlatih secara kemiliteran.

Pasukan pria diberi nama “Banteng Wulung” dan pasukan wanitanya di beri nama “Banteng Sarinah”. Pasukan Banteng Wulung dengan kekuatan 200 orang dipimpin oleh Mbah Sura dan dibantu oleh dua cantrik utusan yakni Letda BT. Suradi dan Letda BT. Legi, Sedangkan pasukan Banteng Sarinah berkekuatan 30 orang. Pasukan-pasukan ini juga mempunyai beberapa pucuk pistol, granat tangan, pedang dan kentes. Mereka menggunakan seragam hitam-hitam, memakai ikat kepala hitam, dan di lengan ada tanda pengenal berwarna merah/ hijau, yang berupa badge dan “tanda kesatuan”. Badge berbentuk bulat dengan diameter 5 cm, warna dasar hitam dan didalamnya terdapat tanda “brawijaya” dan pohon beringin dilingkari padi kapas. Sedangkan di bahu sebelah kiri tereantum tanda kesatuan dengan tulisan “Pertapaan Gunung Kendeng”. Pasukan- pasukan Mbah Sura juga memelihara kumis, jenggot, dan berambut panjang. Mereka melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak sealiran atau yang dianggap musuh, antara lain pembunuhan terhadap dua orang dari desa Djimbung.

Oleh pihak pemerintah maupun oleh Peperda Jawa Tengah, tempat pertapaan “Mbah Suro” dipandang dari segi politik sangatlah tidak menguntungkan terutama pengaruhnya bagi masyarakat daerah setempat, bahkan disinyalir ada gejala-gejala yang mengakibatkan adanya bentrakan politik maupun fisik. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, maka Peperda Jawa Tengah mengambil keputusan dan kebijaksanaan yaitu memerintahkan “Mbah Sura” agar menutup pertapaan tersebut dan melarang untuk menerima tamu-tamu dari luar terutama anggota anggota ABRI.

Perintah tersebut tertuang dalam Surat Keputusan No. : ST-PPD/0036017/1966 tanggal 12­7-1966 dan Surat Perintah No: Prin PPD/00235/10/1966 tanggal 22-10-1966, yang ditujukan kepada Dan Dim 0721/Pepekuper Blora. Namun perintah penutupan dari Peperda ini rupanya tidak diindahkan oleh Mbah Suro, bahkan pemerintah telah secara bijaksana menawarkan untuk musyawarah agar tidak menimbulkan korban, antara lain dengan jalan pemanggilan “Mbah Suro” agar mau menghadap ke Kodim Blora. Namun usaha itu tidak berhasil, kemudian diadakan panggilan lagi melalui CPM, juga tidak berhasil. Panggilan ketiga dilakukan melalui anggota Koramil Menden, juga tidak berhasil, bahkan anggota tersebut mendapatkan pukulan dari salah seorang cantrik “Mbah Sura”. Anak buah Mbah Sura bahkan melemparkan kata-kata yang tidak senonoh kepada para petugas dari Polres Blora.

Karena tidak berhasil diajak berunding secara damai, maka Dan Dim 0721/Pepekuper mengambil keputusan untuk segera mengadakan penyelesaian persoalan Nginggil ini dengan kekuatan senjata, dan keputusan hal tersebut diserahkan kepada Peperda Jateng. Sambil menunggu keputusan daerah Peperda Jateng, maka Dan Dim 0721/Pepekuper mengambil tindakan blokade baik secara ekonomi maupun pelarangan para pengunjung , Tujuannya adalah :

  • Blokade ekonomi dilakukan agar keadaan ekonomi di Nginggil mendapat tekanan yang berat sehingga “Mbah Suro” mau menyerah tanpa syarat.
  • Blokade pengunjung dilakukan agar tidak menimbulkan korban orang-orang yang tidak berdaya.

Atas dasar laporan dari Dan Dim 0721/Pepekuper Blora, maka Peperda Jateng mengeluarkan Surat Telegram Pangdam VIII Peperda No. STR PPD/0069/3/1967, tanggal 4 Maret 1967, maka diadakanlah tindakan penggerebekan/operasi terhadap pedepokan pertapaan “Mbah Suro” yang dilaksanakan pada tanggal 5 Maret 1967. Penggerebekan tersebut pada mulanya direncanakan sebagai peringatan yang terakhir terhadap Mbah Suro, karena sebelumnya telah berulang kali diperingatkan baik melalui pejabat pemerintah setempat, panggilan dari Kodim 0721/Pepekuper, lewat CPM, maupun Kepolisian. Namun peringatan tersebut tidak dihiraukan, bahkan mereka tetap membandel dan mengadakan perlawanan yang mengakibatkan gugurnya beberapa anggota ABRI. Akhirnya ABRI mengambil tindakan tegas dengan menggunakan kekuatan senjata. Padepokan Mbah Suro Nginggil dapat dihancurkan pada tanggal 5 Maret 1967.

(berbagai sumber)

Related posts

Leave a Comment