Bab 1 Jalur Banengan

Ken Arok tertawa kecil dan katanya, ”Aku menginginkan emas dan benda lain yang berada di kereta dan pedati yang sedang berbaris rapi menantiku. Dan kau menawariku sebuah pekerjaan yang hasilnya tidak mungkin akan sama dengan nilai benda yang kau bawa hari ini.”
Pandangan Ki Jawani menyala sambil menggeram ia berkata, ” Ternyata kau lebih memilih jalan yang berbeda, Anak Muda!” Lengkingan nyaring mengawali Ki Jawani menyerang Ken Arok. Sambaran pukulan Ki Jawani meleset tipis dari lambung Ken Arok dan angin pukulannya mampu meninggalkan sayatan tipis pada kulit Ken Arok. Segera saja Ken Arok melompat jungkir balik di udara menjauhi Ki Jawani. Ia benar-benar terkejut ketika menyadari Ki Jawani menggebrak dengan ilmu tingkat tinggi.
Merasa terkecoh dengan perbuatan Ki Jawani, Ken Arok membalasnya dengan gebrakan dahsyat. Ia mengerahkan bagian puncak ilmu yang diajarkan oleh Begawan Purna Bidaran. Gemblengan keras Begawan Bidaran dalam beberapa tahun telah mengubah Ken Arok menjadi seorang pemuda yang layak untuk berada dalam jajaran tinggi olah kanuragan.
Pertempuran selanjutnya menjadi semakin cepat dan sulit diterima akal sehat. Kedua orang ini berloncatan dan melayang diantara pepohonan saling serang. Mereka tidak menetap dalam sebuah lingkaran perkelahian. Kaki-kaki mereka sesekali menggunakan batang pohon sebagai pijakan untuk kemudian berbenturan di udara dan kemudian terlontar surut. Satu dua pohon pun tumbang ketika salah satu dari mereka mampu melepaskan diri dari serangan lawan.
Ki Ranu Welang yang telah selesai dengan perkelahiannya melawan beberapa pengawal pun mendekat untuk menyaksikan pertempuran Ken Arok dan Ki Jawani. Para pengikut Ki Ranu Welang sibuk mengikat pengawal bayaran yang telah mereka tundukkan. Sementara pengawal yang terluka telah mereka kumpulkan pada satu tempat tanpa perawatan.
Tubuh yang bergelimpangan kemudian mereka tumpuk dan para penyamun itu meletakkan kayu-kayu kering mengelilingi tumpukan mayat, sesaat kemudian mereka membakar tumpukan jasad para pengawal dan pelayan para pedagang. Ki Ranu Welang memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan para pedagang yang masih mampu untuk berjalan untuk menjauhi tempat.
Sedemikian hebat perang tanding antara Ken Arok dengan Ki Jawani hingga membuat lingkungan sekitarnya menjadi berantakan. Ki Ranu Welang diam-diam menyimpan rasa kagum yang sangat besar pada Ken Arok. Betapa Ki Ranu Welang dapat menilai kemampuan Ken Arok yang ternyata dua lapis di bawah Ki Jawani namun semangat Ken Arok yang membara dapat mempersempit jarak kemampuan diantara keduanya.

“Ken Arok harus tetap hidup,” kata Ki Ranu Welang dalam hatinya. Diam-diam ia mengalirkan tenaga inti pada kedua tangannya. Ki Ranu Welang agaknya sedang mempersiapkan sebuah serangan mematikan untuk mengakhiri pertempuran Ki Jawani.
Uap tipis mengepul dari telapak tangan Ki Ranu Welang, namun ada saat itu Ki Jawani telah menggedor dada Ken Arok dengan satu pukulan yang tepat mengenai ulu hati murid Begawan Purna Bidaran. Tubuh Ken Arok terpental jauh dan darah terlontar keluar dari mulutnya.
Ki Ranu Welang membentak sangat keras, tubuhnya meluncur melebihi anak panah yang terlontar dari busurnya. Tetapi serangan Ki Ranu Welang ternyata membentur pertahanan Ki Jawani yang sempat menutup celah terbuka di bagian atas perutnya. Dua tenaga inti yang bekekuatan dahsyat saling bertabrakan dan Ki Jawani gagal menjaga keseimbangan tubuh sehingga ia terdorong jatuh.
Ki Ranu Welang tidak menghentikan serangannya, meski ia sempat terhuyung-huyung namun dengan cekatan ia mengembalikan keseimbangan dan kembali melepaskan terjangan membadai. Dua serangan berturut-turut itu tidak mampu ditahan oleh Ki Jawani, untuk kedua kalinya ia terlempar dan bergulingan lalu pingsan.

Kekalahan para pengikutnya dan tumbangnya Ki Jawani diketahui oleh Ki Selaksa Geni. Secara mendadak ia meningkatkan gelombang serangan. Satu tinju darinya mengenai pundak Toh Kuning dan anak muda itu meloncat surut. Kesempatan itu segera digunakan Ki Selaksa Geni untuk melompat panjang dan menjauh, ia berseru nyaring, ”Peristiwa ini akan segera diketahui oleh Mahesa Wunelang!”
Mahesa Wunelang adalah sebuah nama yang ditakuti oleh para penjahat yang tersebar di lereng-lereng Gunung Kelud, Penanggungan dan Arjuna hingga sepanjang Kali Brantas. Setiap pemimpin penyamun akan berpikir ulang jika mengetahui kehadiran Mahesa Wunelang dan pasukannya berada di sekitar mereka.

Dan memang seperti yang dikatakan oleh Ki Selaksa Geni, maka berita mengenai peristiwa itu telah tiba di kotaraja tidak lama kemudian.
“Gubah Baleman! Dua pekan berlalu tanpa kemajuan yang dapat kau laporkan padaku,” berkata Sri Baginda Kertajaya pada suatu ketika.
“Baginda, kami kesulitan untuk mengungkap orang-orang yang berada di balik gangguan-gangguan yang sering terjadi di lereng Arjuna. Mereka sama sekali tidak berbuat jahat, bahkan mereka pun tidak membahayakan nyawa para pedagang atau orang lainnya,” berkata Gubah Baleman, seorang perwira yang berperawakan tinggi dan bentuk tubuh yang menggambarkan kehebatan ilmunya.
“Lalu bagaimana penjelasanmu tentang gardu-gardu jaga yang berisi prajurit yang terikat kaki tangannya? Seharusnya kekuatan yang kau miliki serta jumlah prajurit yang berada di bawah perintahmu tidak dapat dikalahkan begitu saja oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab ini,” Sri Baginda Kertajaya berkata dengan nada tinggi dan agaknya ia masih menahan kegusaran dalam hatinya. Ia menambahkan, ”Bahkan aku telah mengirim prajurit sandi untuk mengamati secara khusus setiap jengkal wilayah itu, hingga akhirnya aku mendapatkan laporan jika perbuatan itu hanya dilakukan oleh dua orang yang agaknya masih muda. Kau telah mempunyai berita itu atau kau telah berada di belakangku?”
Gubah Baleman mendengus marah. Ia merenung sejenak untuk menyusun jawaban, lalu ia berkata, ”Saya telah mengetahui keberadaan mereka sejak lama, Baginda. Sepertinya mereka berdua telah mengamati kegiatan-kegiatan dan waktu yang telah ditetapkan untuk dilakukan perondaan. Karena itulah mereka akhirnya dapat memanfaatkan setiap ruang dan waktu saat pergantian petugas ronda.”
“Aku dengarkan,” Sri Baginda Kertajaya berkata dengan suara lebih rendah.
“Saya yakin jika mereka adalah anak muda yang mempunyai kelebihan dalam menggunakan nalar. Yang menjadi pertanyaan adalah mereka tidak pernah membawa kerugian harta benda bagi para pedagang atau rombongan-rombongan yang lain.” Gubah Baleman menggelengkan kepala karena masih belum mengerti alasan kedua anak muda yang sering mengusik ketenangan di jalur Arjuna.
“Apakah kau telah mendatangi beberapa perguruan yang berada di daerah itu?” Mahesa Wunelang bertanya dengan pandang mata yang sangat tajam.

Related posts

Leave a Comment