Bab 4 Gunung Semar

“Namun jika engkau melihatnya dari sisi lain, maka sebuah kejahatan yang dilakukan dengan tenang justru mampu menuai hasil gemilang.

“Bondan. Marah, balas dendam yang disebabkan oleh harga diri atau sebab lainnya sering membutakan mata hati seseorang. Sehingga orang itu tidak dapat lagi melihat kenyataan di sekitar dirinya. Ia juga tak akan mampu mengukur ketinggian sebatang pohon kelapa meskipun sudah dibekali kemampuan serta alat untuk pekerjaan itu.”

Mpu Gandamanik telah mengenal dengan baik seluruh unsur gerak dan watak dari ilmu yang dikuasai oleh Bondan. Mpu Gandamanik bahkan telah mempunyai dugaan tentang sesuatu yang berada di dalam diri Bondan, tetapi ia memilih untuk tidak mengatakan pada anak muda ini. Pengetahuannya serta kekuatan batin yang tajam telah melampaui ruang dan waktu, Mpu Gandamanik memutuskan untuk menurunkan sebagian kecil ilmu lapis puncak pada murid Resi Gajahyana ini.

“Perpisahan akan dan pasti tiba menghampiriku. Aku tidak dapat membawa serta seluruh pengetahuanku,” kata Mpu Gandamanik dalam hatinya.

Banyak wejangan dan pandangan hidup yang ia ajarkan pada anak muda murid Resi Gajahyana ini di sela-sela kesibukannya merawat luka-luka. Melalui kata-kata yang mudah dimengerti, Mpu Gandamanik mulai mengajarkan pengetahuan kanuragan yang belum diketahui Bondan. Sesuatu yang baru dan berbeda telah menyusup serta menetap dalam relung ingatan Bondan. Melalui ruang besar di dalam benaknya, Bondan mencoba untuk memahami, melatih serta menggabungkan sejumlah unsur gerakan.

“Selaras,” desis Bondan yang disambut anggukan Mpu Gandamanik.

“Banyak warna dan ragam dalam olah kanuragan. Aku telah menyesap satu aliran ilmu dari eyang Gajahyana namun yang ditunjukkan oleh Mpu Gandamanik memang khas dan berbeda,” bisik Bondan dalam hatinya.

Sementara itu Mpu Gandamanik tidak henti mengulang ucapannya, bahwa ilmu yang berasal darinya tidak bertentangan dengan jalur ilmu Resi Gajahyana. Ia merasa perlu untuk menerangkan itu agar tidak terjadi keresahan dalam benak anak muda dari Pajang ini.

“Setiap ilmu sebenarnya adalah ranting dari pokok yang sama. Aku adalah cabang yang menghadap sisi utara, sedangkan Resi Gajahyana menjadi ranting yang terjulur ke arah selatan. Namun ketika kau telah memahami setiap watak dari ilmu yang berasal dari kami berdua, itu adalah tahap menuju puncak.

“Meski engkau mempunyai kecemerlangan berpikir dan waktu yang leluasa untuk menggabungkan semua unsur, itu tidak berarti dirimu telah berdiri di puncak kanuragan. Belum, anak muda! Bahkan mungkin masih jauh untuk dikatakan telah berada di lapisan atas.

“Aku hanya ingin berpesan padamu mengenai penggabungan kedua ilmu ini. Bahwa kau akan memerlukan masa panjang untuk membuat keduanya selaras dan serasi dalam peredaran darah serta jaringan napasmu. Ini bukan pekerjaan mudah. Tidak ada yang mudah dilakukan dalam hidup, Bondan.” Mpu Gandamnik memalingkan wajah, ia berganti memandang Gumilang yang duduk agak condong di belakang Bondan lalu katanya, “Apabila engkau melihat gunung ini dari kejauhan, mungkin pertanyaan akan muncul dalam benakmu.”

Lelaki muda yang berkedudukan sebagai seorang lurah dalam pasukan berkuda Majapahit itu mengangguk. “Memang tidak seperti puncak gunung atau bukit yang lain.”

Mpu Gandamanik mengembangkan bibir, kemudian ucapnya, “Sisi timur tanah pegunungan ini seperti sebuah segi empat dengan sudut tumpul. Sulit bagimu untuk mengatakan bulat karena bulat bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Punggung perbukitan ini memanjang lalu mempunyai puncak tumpul di sisi utara. Sebagian orang yang mengerti siasat perang telah menyatakan bahwa gunung yang kecil ini sangat tepat untuk menjadi benteng alam.”

“Sebagian orang…,” Bondan bergumam.

“Ya, hanya sebagian,” lanjut Mpu Gandamanik, “karena sebagian yang lain berpikir bahwa tanah pegunungan ini adalah cermin khayangan. Mereka membayangkan persinggahan para dewa, terlebih jika kabut begitu rapat menutup seluruh permukaan tanah.

Related posts

Leave a Comment