Gagal Paham Ketuhanan yang Berkebudayaan atau Melintir?

Opini

Ketuhanan yang berkebudayaan.

Kalimat yang sudah jelas mengarah pada makna : sembahlah tuhan yang diyakini sesuai petunjuk kitab atau agama masing-masing.

Mari kita coba berpikir bodoh :

Apakah logis apabila muslim menyembah Tuhan dengan cara non muslim?

Apakah masuk akal apabila non muslim menyembah Tuhan tanpa mengikuti petunjuk pemimpin agama mereka?

Bung Karno menyebutkan, “Bangsa Indonesia bukan saja bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan dengan Tuhannya sendiri. Yang Muslim bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al-Masih. Yang Budha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada pada mereka dan begitu seterusnya agama-agama yang lain. Marilah kita semuanya bertuhan. Hendaknya negara Indonesia adalah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa’.

Konteks “kebudayaan” bukanlah sebatas tari, seni, lukisan dan sebagainya. Arti kata yang lain dari budaya adalah berbudi, berwatak luhur, bijaksana, berakal sehat, kebiasaan, adat.

Sampai di sini, paham?

Maka, ketuhanan yang berkebudayaan adalah :

Menjadi manusia yang berketuhanan dengan cara memuja yang sesuai tuntunan. Sesuai petunjuk nabi dan agama masing-masing. Berkebudayaan adalah bahasa lain dari akhlak mulia.

Masih belum paham?

Sama sekali bukan mengaburkan Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi menguatkan sila pertama dengan watak atau kepribadian luhur. Kasar kata, apakah sholat sudah tegak apabila seorang muslim masih berzinah? Ah, ada baiknya yang gagal paham itu belajar membaca dan menulis lagi.

Related posts

Leave a Comment