Prosa Liris Sastra

Muhammad.

Pada saat empat belas benteng istana Kisra runtuh, ketika api sembahan orang-orang Majusi padam maka sejak itu Persia mendapatkan firasat. Mata air yang menjadi induk sungai mulai susut. Banyak orang-orang meluapkan kemarahan. Mereka membayang-bayangkan berbagai peristiwa dan mulai mengarang cerita aneh. Mereka merasa was-was tentang sebuah peristiwa, bahwa ramalan para ahli kitab itu benar. Telah tiba waktunya lentera bersinar di malam gelap gulita.

Lelaki itu menyambut kelahiran cucunya dengan riang gembira. Lahirnya meruntuhkan kesewenangan dan ambruknya semua lambang kezaliman.
“Aku beri ia dengan nama Muhammad.”

Lelaki itu hanya ingin kiranya ia mendapat pujian dari langit, dan di bumi ia mendapat pujian dari manusia.

Kepadamu wahai manusia agung
Izinkan aku merangkai kata. Meluapkan segala rasa resah dalam hati. Engkau yang tidak pernah aku lihat. Engkau yang jarang aku ingat. Bahkan lidah terasa kelu memujimu. Sesungguhnya akulah yang  melupakanmu.

Ya Habibi
Aku adalah manusia lemah. Seorang ibu yang abai terhadap hak anak- anaknya. Mengutamakan keluhan daripada syukur. Merasa berat dengan tugas-tugas rumah yang membelenggu. Terkurung bagai burung dalam sangkar emas.
Aku melihat seorang pemuda yang putus asa. Menceburkan diri ke dalam lumpur kehinaan. Mencoreng arang di wajahnya. Serasa dunia ini tidak ada tempat bagi mereka yang gagal.
Terkadang aku ingin melupakanmu. Mengabaikanmu sesaat. Hanya sekedar melepaskan segala penat yang bercampur amarah.
Tiba-tiba aku diingatkan sebuah peristiwa penting. Di saat orang-orang melempar kotoran di punggungmu. Dengan tangan lemah lembut putrimu mengangkat dan membersihkanya. Namun tidak ada kata makian yang keluar dari mulutmu.
Aku merasa terhina, engkau pemuda yatim piatu hanya seorang penggembala ternak. Pernah merasakan lapar dan dahaga. Tapi tidak menyurutkan langkahmu menghadapj kehidupan. Tidak pernah mengeluh dengan keadaan.
Wahai engkau yang dijuluki orang gila. Wajahmu yang pernah menjadi sasaran lemparan batu. Aku ini hanya insan biasa.

Ya Kekasih Allah
Pribadimu telah membuat aku jatuh cinta. Bukankah mencintaimu juga mencintai Allah?
Aku malu. Engkau insan mulia. Aku merasa tidak pantas mengharap bertemu denganmu di telaga kautsar. Maka dari itu izinkanlah aku untuk belajar mencintaimu. Merindukanmu. Memimpikanmu

Ya Nabi
Sesungguhnya aku ingin mempersembahkan sebuah ikrar. Perjanjian yang membuatku mendapatkan rahmat dan pertolongan. Perjanjian yang akan membawaku pada sebuah jalan penuh cahaya.
Aku ingin datang bersimpuh padamu. Menggenggam erat tanganmu untuk mengungkapkan janji setia. Janji akan selalu mendengar dan mentaati dalam keadaan lapang maupun sempit. Selalu berbuat kebaikan meski kerap mendapat cela.
Tiba-tiba godaan datang membayangi langkah. Jalan yang aku anggap hanya satu, kini berpendar.
Ketika aku temukan jalan itu tidak seindah harapan. Aku bimbang. Janji hanya dalam angan. Lidahku tidak mampu berucap sepatah kata pun. Aku pun tidak menemukan lagi bayanganmu dalam terang.
Perasaan jahat itu hadir seperti kilat melintas langit kelam. Pikiranku dihantui ketakutan. Seorang bayi yang tidak bersalah menangis memecah kesunyian malam. Hatiku bercampur aduk antara rasa iba dan putus asa. Tanganku gemetar. Peluh dan air mata bersatu.

“ Aku bukan ibu yang baik. Aku belum bisa memberikan kebahagiaan baginya. Aku ini pendosa. Wanita pendusta,” batinku pilu.
Lanjutkan!
Kau Ibu yang tidak berguna. Bunuh. Bunuh saja bayi itu.
Tidak!
“ Jangan. Jangan kau lakukan. Ingatkah engkau? Akan perjanjian yang akan terucap. Meski terhenti saat kau bimbang. kemanakah kaki hendak melangkah Ketika kau berada di persimpangan? Kau hanya lupa diri. Lupa jalan mana yang membawamu pada cahaya kebenaran.” Bisikan lain menghampiri. Napasku sesak. Butir-butir air mengaburkan pandangan.

Wahai utusan yang mulia
Masih adakah jalan bagiku untuk mengungkapkan janji yang tertunda? Berjanji untuk tidak menduakan-Nya. Berjanji untuk tidak mendurhakai-Nya. Berjanji senantiasa taat dalam keadaan suka maupun duka. Dan berjanji akan menjadi pengikutmu hingga kelak kita dipertemukan dalam keabadian.
Kau tegaskan, ketika janji itu aku ucapkan maka surga berhak atasku. Namun, jika kelak melanggar hingga hari akhir tiba maka perkara ini menjadi urusan-Nya.

Demi Allah
Aku tidak mau ketinggalan dalam mengucapkan janji setia padamu. Aku ingin bisa hidup bersamamu. Aku rindu berada di dekatmu. Aku juga ingin bisa melihat wajahmu sekejap meski hanya dalam mimpi.
Aku Rindu padamu Ya Nabi
Rindu bertatap muka
Rindu berbicara denganmu
Rindu berada dekat denganmu
Ya Allah
Sampaikan salamku padanya
Bibir ini telah basah oleh salawat
Izinkan aku masuk ke surga bersama kekasihmu
Ya Nabi
Kau rindu saudaramu
Saudara yang beriman namun belum pernah bersua
Kau tunggu ia di Syurga
Sebelum ajal menjemput kau ucap kata ‘ummati’
Ya Nabi
Aku bersyukur
Jika aku termasuk saudara yang kau rindu
Saudara yang kau tunggu-tunggu di Syurga
Sesugguhnya aku berharap pertolonganmu di hari akhir

-Dora Gustika-
Padang, 2020

#prosa_liris
#persembahanyangterbaik
#MaulidNabi

Related posts

Leave a Comment