Prakolonial Sejarah

Candi merupakan bangunan suci yang digunakan untuk pemujaan. Menurut Soekmono, candi bukanlah makam, akan tetapi bangunan suci sebagai monumen peringatan tokoh yang telah meninggal (dharmma). Candi berasal dari kata Sansekerta candika yang merupakan bangunan pemujaan dari salah satu aspek Dewi Durga. Berdasarkan fungsinya candi dibagi menjadi dua, yaitu candi pemujaan yang digunakan untuk memuja dewata tertentu dan candi pendharmaan yang menjadi tempat pemujaan tokoh yang telah meninggal dan didewakan.

Candi Kidal didirikan di lembah Gunung Bromo, Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Candi ini dalam Kakawin Negarakrtagama dikenal dengan nama Kidal. Baik Pararaton maupun Negarakrtagama memberitakan Candi Kidal sebagai bangunan suci pendharmaan yang didedikasikan untuk Anusapati (1227 – 1248), raja kedua Singhasari. Negarakrtagama menyebutkan sang raja telah mangkat dan dicandikan di Kidal dan dibuatkan arca Siwa.

Candi Kidal memiliki denah dasar berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 8,36 meter x 8,36 meter menghadap ke barat. Candi ini berlanggam menara sebab bentuknya ramping dan memiliki atap yang membumbung tinggi (sikhara). Konstruksi candi dibagi menjadi tiga bagian meliputi kaki, badan dan atap. Pada bagian kaki candi terdapat tangga naik yang berada di sisi barat. Pada sudut kaki terdapat relief singa dalam posisi berdiri dan ketiga fasadnya dihias dengan relief Garudeya. Masing-masing adalah Garuda memanggul perempuan, Garuda memanggul kendi dan Garuda bersama ular. Relief Garudeya menggambarkan perjuangan Garuda menyelamatkan ibunya, Winata yang diperdaya oleh Kadru. Pada bagian badan candi terdapat hiasan berupa swastika dan medalion yang bergambar sulur-suluran. Sepanjang pintu dihias dengan ukiran lidah api. Di atas ambang pintu dihias dengan ukiran kepala kala bergaya Jawa Timuran berjumlah enam buah, masing-masing berada di relung semu sisi timur, utara, selatan, kanan dan kiri pintu masuk candi. Ukiran kepala kala terbesar terletak pada pintu masuk menuju ruangan inti (garbagrha) candi. Candi dikelilingi oleh pagar persegi yang tersusun dari batu andesit. Saat ini hanya tersisa strukturnya saja.

Menurut laporan Belanda dahulu di garbagrha terdapat arca Siwa yang indah. Kini arca tersebut disimpan di Royal Tropical Institute, Amsterdam, Belanda. Arca Siwa digambarkan dengan posisi simetris berdiri kaku (samabhaga) dengan penggarapan yang halus dan detail. Arca memakai mahkota pilinan rambut (jatamakuta) yang dihias tengkorak menggigit bulan sabit (ardhacandrakapala) dan motif tumpal. Raut arca digambarkan tenang (saumnya) dengan mata setengah terpejam dan bibir menyungging tipis. Di belakang arca terdapat sinar kedewaan (sirascakra) dan terdapat pita berkibara masing-masing di sisi kiri – kanan kepala. Arca memakai sumping, kalung lapis dua, kelat bahu, gelang tangan, ikat dada, ikat pinggang, uncal dan selendang sampur, yang kesemuanya berhias floral motif tumpal. Terdapat tali kasta arca yang tersusun atas rangkaian mutiara. Arca bertangan empat, tangan atas kanan memegang piringan api, tangan kiri atas memegang benda benda panjang yang telah rompal pada bagian atasnya, tangan kanan bawah memegang mangkuk dan tangan kiri bawah memegang benda bulat.

Arca tersebut merupakan penggambaran dari Siwa Mahadewa, Siwa yang memakai pakaian kebesaarannya dan menjadi pemimpin para dewa alias dewa tertinggi. Arca didampingi oleh arca wanita berukuran kecil di kiri dan kanan Siwa Mahadewa dalam posisi samabhanga dan kondisi telah rompal serta aus. Di kanan dan kiri arca pendamping terdapat ukiran teratai yang keluar dari bonggolnya, menunjukkan bahwa arca tersebut merupakan kesenian masa Singhasari. Lapik arca digambarkan berupa padmasana ganda dan sandaran (stella) arca berbentuk kurawal polos.

Candi Kidal ditemukan oleh Thomas Stamford Raffles pada tahun 1817. Pada tahun 1867 dan 1883 pemerintah Hindia Belanda melakukan pembersihan candi dari pepohonan. De Haan sebagai utusan pemerintah Hindia Belanda melakukan pemugaran awal pada candi ini tahun 1925. Pemugaran juga dilakukan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur pada tahun 1986 – 1990dengan memperbaiki bagian kaki hingga atap candi agar kokoh. Candi Kidal telah menjadi Bangunan Cagar Budaya Peringkat Nasional berdasarkan SK Mendikbud RI Nomor 205/M/2015.

Related posts

Leave a Comment