Bara di Borobudur

Kedua orang Pajang itu segera menaiki tlundakan pendapa. Tampak oleh Sela Anggara dari dekat jika rambut dua orang Pajang telah memutih sebagian. Di atas tikar pandan berwarna hijau, berdua utusan itu mengambil tempat duduk. Sejenak kemudian, Sela Anggara telah duduk di hadapan keduanya.

“Benarkah Ki Sanak berdua datang dari Pajang?” bertanya Sela Anggara yang sebenarnya telah mengetahui nama kedua utusan Pajang dari penjaga.

“Benar, Ngger. Nama saya adalah Ki Swandanu dan kawan saya ini biasa dipanggil sebagai Ki Hanggapati. Siapakah nama Angger yang sepertinya bukan anak muda biasa?” jawab Ki Swandanu.

“Itu hanya kesan yang ditangkap oleh Kiai. Saya hanya anak muda kebanyakan seperti anak-anak muda yang lain. Namaku Sela Anggara, Ki Swandanu.” Memerah wajah Sela Anggara atas pujian dari Ki Swadanu. Ia sedikit merasa rikuh karena ucapan itu tetapi sejenak kemudian Sela Anggara telah dapat menguasai dirinya.

Saat mereka bertiga duduk di atas tikar yang tergelar di  tengah pendapa, pintu pringgitan bergerit terbuka perlahan. Dari balik pintu keluarlah wajah yang tidak asing lagi bagi kedua utusan Pajang. Dan sebaliknya, lelaki muda yang keluar dari pringgitan itu segera tersenyum lebar dan menyambut tangan kedua orang yang lebih tua darinya sambil sedikit berbungkuk.

“Paman!” sapa Bondan penuh hormat pada dua orang yang telah mengenalnya sejak kecil.

“Angger Bondan, kau kelihatan lebih segar dan sehat semenjak terakhir kali kami melihatmu di Pajang,” berkata Ki Swandanu setelah menyambut uluran tangan Bondan.

“Sudah tentu kau sedang berada di sanggar. Lihatlah, basah kuyup rambutmu tidak dapat membohongi mata tua kami bahwa kau sedang berkeringat deras di dalam sanggar,” Senyum lebar menghias wajah Ki Hanggapati yang telah mengenal Bondan di Pajang semenjak usia anak-anak.

Sejenak kemudian, Sela Anggara bangkit dan beranjak ke dalam rumah. Ia meminta orang yang bekerja di rumahnya untuk mempersiapkan hidangan makan malam bagi kedua tamu mereka. Sementara itu, ia juga memberitahu ibunya tentang kedatangan kedua tamu dari Pajang.

“Siapakah mereka, Ngger?” bertanya Nyi Retna Ayu. Sela Anggara menjelaskan secara singkat tentang kedua orang Pajang.

Dengan kening berkerut, Nyi Retna bergumam perlahan, ”Sesuatu telah terjadi di Pajang. Mungkin benar-benar penting atau keadaan yang telah berubah menjadi genting. Aku tidak dapat memastikannya sebelum bertemu dengan kakang Gajah Mada.”

Sela Anggara hanya meraba-raba maksud dari ibunya itu sambil menundukkan kepala. Kemudian ia berkata, ”Setidaknya eyang resi tidak melupakan cucunya yang sedang berkelana di tlatah ini, Ibu.” Ia tidak begitu jelas mendengar ibunya menyebut nama Gajah Mada. Maka terpikir olehnya untuk tidak bertanya lebih jauh,

Dalam masa itu, Sela Anggara telah memasuki lingkungan istana sebagai pembantu muda Patih Arya Tadah untuk menata kota.

“Besok pagi, engkau dapat beritahu Ki Banawa tentang utusan dari Pajang itu. Aku tidak turut bersama kalian menemui mereka malam ini. Katakan kepada tamu kita bahwa aku besok akan menemui mereka.”  Lantas Nyi Retna Ayu menyilahkan anaknya kembali ke pendapa menemani kedua utusan Pajang.

“Baik,” kata Sela Anggara seraya memutar tubuh melangkah keluar dari bilik ibunya.

Makan malam telah dihidangkan ketika Sela Anggara bergabung di pendapa. Lalu ia menyilahkan kedua tamunya untuk menikmati hidangan.

Seusai makan malam, Sela Anggara berkata, ”Paman berdua dapat menggunakan bilik yang telah kami bersihkan untuk beristirahat. Paman Banawa dan ibu akan menemui Paman berdua esok pagi. Sementara ini, saya minta diri dahulu dan Bondan yang menemani Paman berdua.”

Sepeninggal Sela Anggara yang menuju biliknya untuk beristirahat, kedua tamu dari Pajang itu mempunyai banyak waktu untuk berbincang dengan Bondan.

Sesekali kedua orang tua itu mengerutkan kening menilai peristiwa-peristiwa yang dialami Bondan semenjak menginjak kakinya untuk pertama kali di kotaraja. Mereka sama sekali tidak mempunyai dugaan sebelumnya jika Bondan telah terlibat dalam beberapa pertempuran, dan terlibat dalam pertempuran besar di Sumur Welut.

Kedua orang itu menundukkan kepala dan terbenam di dalam angan ketika Bondan berkisah tentang Ki Wisanggeni dan anaknya, Lembu Daksa. Seusai Bondan berkisah tentang kejadian yang dilewati ayah dan anak itu, ketiga orang yang berada di pendapa terdiam beberapa lama.

Related posts

Leave a Comment