Bara di Borobudur

Ketika matahari didahului rona merah di ufuk timur, orang-orang yang tinggal di dalam rumah itu telah berada dalam kegiatan sehari-hari. Sela Anggara telah berada di dekat sumur untuk me-ngisi jambangan, Bondan berjalan hilir mudik memberi makan kuda dan membersihkan kandangnya. Seorang lagi terlihat membersihkan halaman dan beberapa perempuan sudah bercanda akrab dengan asap di dapur.

Pada pagi yang cerah meski kabut belum sepenuhnya bergeser tempat, Ki Swandanu dan Ki Hanggapati telah berada di bawah regol halaman. Agaknya kedua tamu dari Pajang itu terbiasa bangun di awal hari. Keduanya terlihat sedikit banyak mengeluarkan keringat ketika membantu membersihkan halaman.

“Silahkan paman berdua membersihkan diri terlebih dahulu. Segala sesuatu telah kami siapkan bagi paman berdua. Sementara, aku tidak dapat menemani paman berdua untuk makan pagi karena sesuatu yang cukup penting harus aku kerjakan di sebelah utara istana,” berkata Sela Anggara kepada kedua tamunya yang saat itu sedang duduk diatas tlundakan pendapa.

“Terima kasih, Ngger. Kami telah merasa seperti berada di rumah sendiri,” berkata Ki Hanggapati dengan senyum di bibirnya. Keduanya bangkit dan beranjak mengikuti Sela Anggara menuju halaman belakang.

Embun di dedaunan berkilau cerah ketika matahari menanjak kaki langit. Iringan mendung terlihat mendekati langit kotaraja. Dalam waktu itu, Ken Banawa memasuki regol halaman dengan langkah yang ringan dan tenang. Rambutnya yang panjang tergelung rapi di bagian belakang kepala. Sejenak ia berhenti untuk bercakap barang sedikit dengan orang yang sedang mencabut rumput halaman.

“Apakah ada kabar dari Gumilang, Ki Narto?” bertanya Ken Banawa setelah memberi salam kepada orang yang bernama Ki Narto.

“Belum, Ki Banawa. Agaknya angger Gumilang akan berada dalam tugasnya untuk waktu yang cukup lama,” jawab Ki Narto menganggukkan kepala.

“Ya, semoga angger Gumilang dapat menambah keluasan wawasan selama berada di Watu Golong,” kata Ken Banawa sambil mohon diri untuk menemui kedua tamu dari Pajang. Ki Narto menjawabnya dengan senyum dan anggukan kepala.

Kedua orang dari Pajang segera bangkit berdiri menyambut kedatangan Ki Ken Banawa di pendapa. Setelah bertukar salam dan saling bertanya keadaan masing-masing, Ki Banawa menyilahkan keduanya untuk menikmati sedikit hidangan yang tersedia untuk pagi itu.

“Baru saja kami makan pagi bersama angger Bondan, Ki Ba-nawa. Agaknya kami berdua akan segera memasuki gandok lagi karena mata kami tak akan mampu menahan kantuk karena keke-nyangan,” berkata Ki Hanggapati tersenyum lebar. Ki Swandanu menganggukkan kepala dengan senyum kecil menanggapi gurauan kawannya.

Ken Banawa mengangguk kecil. “Pertemuan ini akan menjadi menarik jika angger Gumilang dapat bergabung dengan kita. Sayang sekali, ia tidak dapat menemani kiai berdua karena tugas untuk berlatih bersama pasukan berkuda di Watu Golong,” Ki Banawa berkata seraya menatap pintu pringgitan yang belum terbuka.

“Nyi Retna pun belum keluar menemui kami berdua, Ki Banawa. Seperti yang dipesankan oleh angger Sela Anggara bahwa ibunya akan keluar jika Tuan telah hadir di pendapa,” berkata Ki Swandanu seakan mengerti isi pikiran Ken Banawa. Ken Banawa menganggukkan kepala lalu bangkit mendekati Ki Narto lalu memintanya untuk memanggil Nyi Retna.

Sejenak kemudian, perlahan-lahan derit pintu pringgitan terbuka dan Nyi Retna melangkahkan kaki menuju tempat ketiga lelaki yang seusia dengannya. Menyusul Bondan berjalan di belakang Nyi Retna Ayu. Bondan kemudian duduk sebelah menyebelah dengan Ki Swandanu dan berhadapan dengan Ken Banawa.

Sedangkan Nyi Retna mengambil tempat duduk agak jauh dari ketiganya, lalu berpaling pada Ken Banawa, ”Silahkan  membuka percakapan yang mungkin Tuan berdua ini sudah menahan diri semalaman.”

Meskipun Nyi Retna telah mencapai usia setengah abad, namun garis-garis ketegasan tampak jelas dari sorot matanya. Usia lanjut itu tidak menutup kecantikan yang pernah terukir di wajahnya semasa muda.

“Baik,” kata Ki Banawa lalu bergeser sedikit maju.

“Ki Sanak berdua, tentu saja kedatangan kiai berdua dari Pajang bukan sekedar perjalanan biasa. Usia kita bertiga sudah terlalu banyak untuk melewatkan petualangan seperti di masa kita masih muda. Eyang Gajahyana rasanya telah mendapat landasan yang tepat untuk memanggil Bondan pulang ke Pajang,” kata Ki Banawa sambil menatap Bondan.

Keduanya saling menoleh, Ki Hanggapati kemudian menyilahkan Ki Swandanu mewakili Resi Gajahyana.

Related posts

Leave a Comment